Maukah Kau Mengantarkanku?

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri? Maka, semoga harapan ini menjadikan diri ini termotivasi untuk selalu (segera) mengamalkannya (jika belum).

Teruntuk saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

Semoga bisa menjadi pelecut bagi diri untuk senantiasa melakukan perbaikan. Perbaikan bagi diri, maupun lingkungan sekitar. Agar kelak Allah rida ketika diri ini mesti kembali ke haribaan-Nya. Agar diri termasuk dalam orang-orang yang disebut dalam Al Quran: “radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu’anh. Agar nanti diri termasuk juga orang-orang yang dijemput dengan panggilan cinta-Nya seperti dalam QS Al Fajr: 27-30: “Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii. Wadkhulii jannatii.”

Advertisements

Terkenal atau Tidak Terkenal…

Bismillaah…

Kangen blog-walking, bosen di wordpress karena sedikit yang update, kemudian iseng buka tumblr dan nemu tulisan-tulisan inspiratif. Salah satunya tulisan ini di salah satu blog senior di UI. Sangat menarik dan cukup menohok untuk muhasabah. Bagian ini yang menurutku paling menarik:

“… Karena menjadi tidak terkenal justru kehidupan yang sesungguhnya.

Seperti kehidupan yang dijalani oleh salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi’in, Abdullah bin al-Mubarak. Beliau mengatakan tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan. Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan. Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi’, bercerita, “Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.

Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, Ibnul Mubarak berkata, ‘Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu’.” (Shifatu Shafwah, 4/135).

Terkenal ataupun tidak yang terpenting kita mestilah bahagia menjalani hidup yang hanya sekali ini, tak perlu membanding – bandingkan cukup bergerak dengan sekuat tenaga. Tak perlu merasa rendah diri disadari ataupun tidak eksistensinya sebagai manusia, sebab kita itu sama istimewanya dengan manusia manapun di muka bumi. Sebab, sama sama di perhatikan Allah sampai ditugaskan dua malaikat untuk memperhatikan kita raqib dan atid. 🙂

©Alizeti

Dari pintu yang mana kami layak memasuki jannah-Nya?

“Saya begitu menyadari bahwa keluarga kami bukanlah keluarga yang melaksanakan ibadah dengan istimewa. Seandainya jalan pintas masuk surga terbuka lewat pintu shalat, kami merasa saat ini belum memiliki tiket istimewa untuk masuk melaluinya. Seandainya surga terbuka dari pintu puasa, kami pun merasa belum mampu untuk membeli tiket vip yang mengijinkan kami masuk melaluinya. Seandainya surga memanggil dari pintu sedekah, rasanya masih jauh bagi kami untuk ikut dalam rombongan yang menghampirinya. Dan saat ini pun kami belum mendapat giliran rezeki berangkat ke tanah suci, sebagai peluang memasuki surga melalui pahala haji mabrur. Maka teringat pesan nabi yang mengkisahkan sahabat yang menjadi ahli surga bukan karena amalannya yang istimewa namun karena kebiasaanya untuk mengikhlaskan kesalahan orang lain sebelum menutup hari diatas pembaringannya.” (Kiki Barkiah)

Maa syaa Allah, in syaa Allah pasti ada (setidaknya satu) jalan menuju jannah-Nya yang bisa kita pilih (yang bisa kita optimalkan) sekalipun begitu banyak ketidaksempurnaan di jalan lain :”)))

Kiki Barkiah

[dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Entah apa yang saat itu sedang dipermasalahkan Ali dan ayahnya di dalam kamar, tiba-tiba saya melihat Ali yang saat itu berusia 10 tahun keluar berlinang air mata. Segera saya menghampiri sang ayah untuk bertanya apa masalahnya. Dengan wajah yang sangat kecewa ia meminta saya bertanya langsung pada anak kami. Saya hampiri Ali di kamarnya, yang ternyata sedang menangis terisak-isak tak seperti biasanya. Ia pun mengambil foto almarhum ibunya lalu memeluknya bersama lelehan air matanya. Saya yang saat itu kebingungan dan salah tingkah, hanya dapat menarik nafas sejenak dan berkata “ada apa nak?” Namun ia tak beranjak dari tangisnya. “Ya sudah kalo mau menangis dulu silahkan, nanti kalo sudah tenang kita bicara” Saya pikir pasti ada masalah serius, ini kali pertamanya Ali menangis sampai seolah mengadu pada ibunya. Saya pun kembali bertanya, lalu sang ayah menjelaskan duduk perkara kekesalannya dalam versi pandangannya.

View original post 548 more words

Well, Aku Menyerah

Bismillaah…

Ya, aku menyerah. Mengaku kalah. Ada terlalu banyak self-denial yang kulakukan. Aku terlalu sering tidak jujur dengan diri sendiri dan kebutuhannya. Terlalu banyak angan, tapi minim aksi nyata. Terlampau sering memaksakan diri hingga luput memahami kelemahan diri. Terlalu sering merasa aman-aman saja, padahal ‘jurang’ di depan mata. Subhaanallaah. Jika bukan karena pertolongan Allah, sudahlah terjerembab jatuh aku ke ‘jurang’ itu. Bahkan, sudah jatuh berkali-kali di lubang yang sama masih sering merasa biasa saja!

Sudah mati kah hati? Jujurlah. Tak kan mampu kau bohongi Allah. Kau sendiri yang akan merasakan akibatnya nanti. Keinginanmu itu hanya akan sampai kalau kau jujur menginginkannya, bukan sekadar ‘gombalan’ saja. Maka selama langkahmu tidak mencerminkan kesungguhan rasa inginmu itu, tak usahlah heran kalau jalanmu belum juga sampai. Kau sendiri rasakan betapa hatimu cepat sekali berubah bukan? Semenit yang lalu ingin ini, lalu sekarang jadinya itu. Terus saja begitu.

Jika kau tak minta petunjuk dan pertolongan-Nya, jangan heran kalau kau mudah limbung dan langkahmu terhuyung. Mau apa lagi, hah?! Sudahlah, cukupkan sikap denial itu. Kau berhenti dulu, sebentar, tenangkan diri, tata hati, akui semua salahmu, akui semua kelemahanmu, tangisi dosa-dosamu. Susah menangis? Itu juga masalahmu, kelemahanmu, akui saja. Bukan karena kau kuat, ‘kan? Justru itu yang membuat berat, ‘kan? Akui saja. Lalu, menangislah atas ketidakmampuanmu itu! Jujurlah! Setelah kau lebih tenang, merasa lebih baik, atur kembali rencana-rencanamu. Ingat! Libatkan Allah. Jika tidak, kau sendirian yang akan tanggung beratnya. Kalau Allah kau libatkan, Allah akan bantu, in syaa Allah.

Ingat ya! Kau sudah belajar apa itu ridha. Sudah pula kau katakan, ridha itu menerima yang sudah berlalu dan yang akan datang. Sekarang tugasmu mengamini perkataanmu itu dengan sikapmu. Kalau tidak, kau sudah tahu akibatnya ‘kan? Tinggal kau jujur saja. Allah Maha Melihat apa yang kau lahirkan dan yang kau sembunyikan.

Rindu Hati yang Hidup

Bismillaah…

Membaca kembali tulisan tentang do’a khatmil quran berhasil membuat otakku terngiang-ngiang doa qunut yang begitu indah ini. Indah sekaligus berhasil mengiris-iris hati. Do’a yang rasanya pernah menemaniku di salah satu fase sulit yang pernah kualami. Fase sulit yang belum seberapa dibanding mereka yang ada di Palestina, Suriah, Rohingya, Somalia, dan belahan bumi Allah yang lain. Allah. :”)