Dua Detik yang Menentukan: Harap Itu Masih Ada di Langit-Langit Kuasa-Nya

Bismillaah…

Sudah hampir dua tahun, harapan masih tergantung di langit-langit Kuasa-Nya. Biar Dia saja yang rawat, jika memang pantas dirawat. Jika tidak, biar Dia juga yang menghapus dan melepaskannya. Biar kuserahkan saja pada-Nya urusan ini. Bukankah Dia Yang Maha Mengurusi makhluk-Nya lagi Maha Menjaga?

Biar aku urus diriku saja dulu. Aku yang masih begini, di sini.

Source: Dua Detik yang Menentukan

Aku ditegakkan-Nya lagi.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bagaimana rasanya, ketika diri hampir menyerah, tapi kemudian memilih untuk tetap bertahan dengan pasrah? Ya, bertahan, karena untuk bergerak maju pun rasanya kaki ini masih berat, tapi diri tak hendak mundur sama sekali. Kemudian pasrah, pasrah menyerahkan segala yang sudah berlalu kepada-Nya, agar diurus-Nya kemudian, agar ditetapkan-Nya apa-apa yang hendak Dia putuskan. Pasrah, karena tidak ada jalan lain kecuali berserah atas yang sudah-sudah.

Segala puja dan puji hanya bagi-Nya. Ketika berkali-kali harus mencoba meneguhkan hati untuk menerima apapun ketentuan-Nya dengan segala daya upaya meski harus terseok-seok dengan langkah terseret. Ketika rasa sudah tak ingin merasa. “Terserah Dia saja”, begitu kata(hati)nya. Lalu, tiba-tiba seperti ada yang merangkul dan menegakkan diri, merengkuh dan menggandeng tangan ini. Rasanya, seperti hendak ambruk, tapi kemudian ada sekelebat tangan yang meraih diri dan menopang badan ini. Aku ditegakkan-Nya lagi.

Duhai, betapa seringkali terasa sempit pikiran dan prasangka ini terhadap ketentuan-Nya. Padahal, karunia dan kasih sayang-Nya teramat luas. Hampir, hampir saja, tapi Allah lagi-lagi menunjukkan kuasa-Nya di atas ketidakberdayaan hamba-Nya ini. Seringkali, keyakinan itu hanya perlu waktu untuk menjadi kenyataan. Maka, sabar adalah teman yang harus terus membersamainya. Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat.

Maka, cukuplah kemampuan mensyukuri apapun karunia-Nya–besar ataupun kecil–menjadi sebuah karunia tersendiri bagi diri. Karena masih saja, diri ini lupa untuk mensyukuri setiap pemberian-Nya. Padahal, tak hingga banyak pemberian-Nya yang diberikan tanpa diri ini minta sebelumnya. Semoga rasa syukur itu selalu di hati dan teramalkan oleh jasmani. Semoga pula, keyakinan dan prasangka baik kepada-Nya selalu terjaga.

Kak.. Aku Kangen Kakak

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Awalnya niatnya iseng buka akun IG nya yang mungkin jadi satu-satunya aku sosmed miliknya. Iseng aja. Kali ada update-an baru. Nihil. Ga ada ternyata. Sekilas liat bio-nya langsung klik deh link blog miliknya. Mungkin ada update-an terbaru miliknya.

Benar saja, ada postingan yang baru bagiku. Padahal, tanggal buatnya tidak baru, sudah dua bulan yang lalu. Wah, akunya yang lama tak berkunjung ke blog pribadinya ternyata. Isenglah kubaca-baca postingannya. Mulailah berkelebat momen-momen bersamanya. Rindu itu pun menyeruak. Semakin banyak yang dibaca, semakin memuncaklah ia.

Allah, semoga bisa bertemu dalam waktu dekat. Setidaknya, bisa berkomunikasi lagi dalam waktu dekat. Meski terpisah jarak. Sedih rasanya belum kunjung bisa berkomunikasi dengannya. Meski begitu, aku harus tetap mencoba untuk memahaminya.

Ketika rindu itu tak mampu tersalurkan karena keterbatasan, mungkin salah satu obatnya adalah dengan membuka lembaran-lembaran jejak yang ditinggalkannya (meski akhirnya membuat rindu itu semakin menjadi). Rindu sekali dengan seorang saudari yang banyak memberikan keteladanan buatku. Seorang yang merangkulku dalam kebaikan. Seorang yang tak pernah bosan mendengarkan cuitanku. Seseorang yang siap dan dengan senang hati meladeni apapun sikapku.
Rindu..ingin sekali tahu kabarnya. Bercerita apa yang sudah terlewat beberapa waktu ini tanpanya. Kalau tiada juga yang bisa menghubungkan kami saat ini, hanya bisa berdo’a untuk kebaikannya dan berharap kembali dipertemukan dengannya.
Semoga selalu dalam lindungan-Nya.

Hanya ingin bilang, entah kapan tersampaikannya…

Kak..aku rindu kakak… Aku tau, mungkin selama ini aku banyak egois. Seringnya datang kalau sedang butuh. Banyak yang pengen aku ceritain. Aku juga pengen denger cerita kakak lagi. Kapan ya kita ngobrol lagi, cerita bareng lagi, sharing bareng? Semoga dalam waktu dekat. Semoga kakak baik-baik di tempat tinggal yang baru. Semoga selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya. Uhibbuki fillaah. :”))

Krisis/Degradasi Moral?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Krisis Moral? Krisis Akhlak? Agaknya separo abad lalu ia sudah menjadi perbincangan. Sudah bukan barang (masalah) baru, tapi masih saja ada (atau justru seolah menjadi biasa saja? na’udzubillaah). Ada ulasan menarik mengenai krisis akhlak yang dituliskan oleh salah satu ulama besar Indonesia, Buya Hamka dalam bukunya Ghirah: Cemburu Karena Allah (hlm. 106-108):

Pada suatu hari di tahun 1957 dalam suatu pertemuan di Banjarmasin yang diprakarsai oleh Kepolisian setempat, saya diminta berceramah. Setelah selesai ceramah, tampillah seorang di antara hadirin menyampaikan suatu pernyataan, “Apakah tidak sebaiknya dibentuk semacam Panitia Negara untuk mengatasi krisis akhlak yang telah sangat bersimaharajalela sekarang ini?”

Lalu saya jawab bahwa saya setuju dengan ide demikian. Saya lanjutkan persetujuan saya itu dengan usul lebih konkret, yaitu bahwa seluruh warga negara Indonesia menjadi anggota dari Panitia tersebut sekaligus setiap anggota diwajibkan mengurus, tidak usah banyak orang, cukup tiap orang mengurus satu orang saja, yaitu dirinya sendiri.

Maksud saya menyebutkan hal itu, yang diterima dengan setengahnya tercengang dan setengahnya lagi tertawa, ialah untuk mengajak hadirin berpikir bahwa urusan krisis akhlak atau urusan keliaran pemuda-pemudi zaman kini, yang bukan bertambah reda, bahkan bertambah, bukanlah urusan yang mudah untuk ditunjukkan ke luar diri masing-masing, melainkan kita bawa ke dalam diri kita masing-masing sebab yang membentuk masyarakat Indonesia itu bukanlah bangsa di luar bangsa Indonesia, dan tidaklah dapat kita berlepas diri dengan berkata, “Saya tidak, atau keluarga saya tidak”. Memang mudah menunjuk orang lain dan orang lain pun mudah menujuk kita. Laksana dalam sebuah rumah tangga, sejak dari ayah sampai kepada ibu dan sampai kepada anak-anak semua mengatakan, “Saya tidak bersalah, si anu yang salah”, teranglah bahwa seluruhnya bersalah, tetapi kalau masing-masing mengaki, “Sayalah yang salah”, itulah pangkal perbaikan.

Dari dasar yang demiian kita mulailah melangkah mencari perbaikan karena perbaikan ini tidaklah diharap akan dapat dikerjakan oleh orang lain di luar diri kita sendiri. Pemerintah pun tidak sanggup memperbaiki sebab tiap-tiap pelaksana pemerintahan itu pun adalah manusia, berumah tangga, dan anggota masyrakat. Barangkali mereka sendiri ada yang tidak terlepas dari percobaan itu. Perbaikan adalah pada diri sendiri.

Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk….” (al-Maa’idah: 105)

Maksud ayat ini ialah menyuruh tiap orang mawas diri. Mendekatkan dirinya kepada Allah dan jangan memusuhi jamaah kaum Muslimin. Lakukanlah ibadah kepada Allah dengan baik dan pergaulilah sesama manusia dengan baik karena ketaatan kepada Allah dan kebaikan pergaulan masyarakat menyebabkan timbulnya harga diri dan naiknya derajat ruh kita sebagai insan.

Sesudah itu pancarkanlah pengaruh kebaikan pribadi dalam rumah tangga sebagai seorang suami terhadap istri sebagai seorang ayah terhadap anak dan cucu, sebagai seorang majikan kepada pembantu-pembantu rumah tangga.

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya….” (Thaahaa: 132)

When It Ends with Pain, Actually…

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

When it ends with pain, you have to look ahead, look at the day when dreams come true
When it ends with pain, actually there’s another chance that awaiting you

When it ends with pain, you have to look into yourself, into your heart
When it ends with pain, actually there’s still something wrong inside

When it ends with pain, you just need to remember where are you from and where will you go
Remember where are you now and what have you done so far
When it ends with pain and still in this world, you have to realize that this pain (in this world) is nothing compared to the pain in the hereafter

When it ends with pain, actually there’s The Only One Who never let you down and alone
ask to Him, pray to Him, tell all to Him
and trust Him, He never ever harm you or make you lose

***

“And when My servants ask you, [O Muhammad], concerning Me – indeed I am near. I respond to the invocation of the supplicant when he calls upon Me. So let them respond to Me [by obedience] and believe in Me that they may be [rightly] guided.”
(QS. Al Baqarah: 186)