“Jadi, tetangga nih?”

Ternyata beneran ‘tetangga’ 😁

Bekerja untuk Keabadian

Bismillaah…

[28 Oktober 2018: Sepekan sebelum kedatangannya untuk meng-khitbah (dalam hati, “Ya Allah, beneran nih pekan depan aku mau di-khitbah?”)]

Beberapa bulan lalu, ketika membuka jurnal hadiah dari salah seorang saudari-dalam-iman terbaik, sampailah aku pada satu halaman yang membuatku tersenyum. Melihat gambar yang ada di halaman itu, iseng saja aku melontarkan sebuah tanya tanpa ada niatan serius awalnya, “Jadi, tetangga nih?”. Tapi dasarnya orangnya masih suka kelewat serius dan doyan berimajinasi ini. Keisengan itu pun ditanggapi sendiri dengan langsung menyisir definisi ‘tetangga’ itu.

WhatsApp Image 2018-10-27 at 08.39.10

Apakah tetangga rumah? Hmm..sepertinya bukan.
Atau tetangga desa? Siapa ya? Ga ada deh kayaknya.
Oh, atau mungkin tetangga kost? Langsung kepikir, ‘duh, kost seberang atau kost belakang Yanisari ya?’. Wkwk, tambah ngelantur.
Eh, bentar, apa tetangga fakultas? Hmm, iya ga ya? Udah ah, ku tak mau mendahului takdir-Nya.

Pikiran iseng itu pun akhirnya dicukupkan dan diputuskan agar tanya itu digantungkan saja di langit kuasa-Nya. Ya, seringnya pikiran…

View original post 196 more words

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s