Wah, Semoga Berkah & Sukses! Siap Menunggu Peluncurannya :)

Film 212 The Power of Love besutan Warna Pictures sudah memulai syuting perdana pada awal Agustus lalu. Tak tanggung-tanggung pengambilan gambar pertama langsung di wilayah Ciamis. Daerah ini mengingatkan kita akan kisah heroik Kyai Nonop dan para santrinya serta masyarakat Ciamis yang berjalan kaki dari Ciamis menuju Bandung dan Jakarta untuk mengikuti aksi damai 212.

via Syuting di Bulan Agustus, Film 212 The Power of Love, Bikin Para Pendukungnya Makin Cinta NKRI! — BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

Menguji Takdir-Nya: Biar Kusimpan (Dahulu) dalam Kotak Rahasia

Bismillaah…

Sedikit informasi sudah kukantongi. Ada keinginan untuk (kembali) menguji takdir-Nya. Namun, untuk hal ini, aku baru bisa ikhtiar sebatas ini–mengunci rapat-rapat dulu dalam kotak rahasia. Allah Mahatahu. Belum ada keberanian untuk melangkah lebih jauh. Akan kubiarkan ketetapan-Nya yang menentukan untuk dibuka atau dibiarkan tertutup selamanya. Biarkan aku mengaliri takdir-Nya.

Allah, betapa aku ingin selalu bisa lapang menerima apapun ketentuan-Mu
Allah, betapa aku ingin selalu bisa sabar menunggu terjawabnya setiap tanya dalam kepalaku
Allah, betapa aku ingin selalu bisa menekan keinginan pribadiku dan mendahulukan segala yang Engkau inginkan
Betapa aku ingin… banyak sekali inginku
Teramat sangat banyak hingga seringkali lisanku kaku tak mampu menyatakan semua-nya pada-Mu, tapi Engkau Mahatahu apa yang ada dalam hatiku

Semoga aku juga selalu ingat. Atas setiap pinta diri, telah Kau dahului dengan nikmat pemberian yang tak terkira. Maka aku lebih patut untuk bersyukur selagi (berusaha untuk) sabar. Bersyukur atas yang sudah ada dengan mengoptimalkannya untuk kebaikan. Bantu aku, ya, dear Allah? 🙂

Will You Ever Come Back?

Bismillaah…

Still counting
and the hope still remain
waiting for your next coming
I never told you, even talked to you
yet, I talked to our God, our Lord, Allah
whenever I remember you

It was been a couple years
since the “two decisive seconds”
I never forget it
since you slapped me by your deed
you beated me in servitude to our Lord, Allah

will you come back?
to my special day
will you come back?
to be my special guy

I may (ever) regret
for one special day I’ve missed without meeting you
because of my own fault
but I realize afterward
It was the way of Allah to awaken me
that I can not rely too much on anyone
But Allah, the only one I can rely on

I may have to talk much more to Allah
to bring you back
or let you go away

Anyway, I thank so much to you
who become one way for me to be better
to be closer to Allah
to become stronger in holding the sunnah
Biidznillaah, all because of Allah will

 

* PS: when I write this draft, one of my friends sends an invitation to the Kemat group, hihii … may I follow the path (soon) 😀

Maukah Kau Mengantarkanku?

Bismillaah…

Draft tulisan ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ketika diri ini larut dalam kenangan indah bernama ukhuwah. Indah sekali ukhuwah itu, tapi sebenarnya apa yang diharapkan dari terjalinnya sebuah ikatan yang disebut sebagai ikatan terkuat melebihi ikatan darah ini?

Saat larut itu, sungguh amat berharap diri ini untuk terus dipersatukan dengan mereka. Dipertautkan hati karena iman. Hingga kelak dipertemukan lagi di jannah-Nya tersebab ikatan cinta karena Allah. Atas pertanyaan itu, ada satu keinginan hati yang begitu kuat yang muncul saat itu. Mulailah dibuat draft tulisan untuk mengungkapkan keinginan itu, tapi saat itu rasanya segan dan masih enggan mem-posting-nya.

Belum lama ini, diri ini mendapat kabar duka dari seorang yang hanya sekadar tahu nama dan yang mana. Mengingatkan diri bahwa benar: sebaik-baik nasihat adalah kematian. Mengingatkan diri bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang mengingat mati dan mempersiapkannya. Adakah itu sudah teramalkan oleh diri? Maka, semoga harapan ini menjadikan diri ini termotivasi untuk selalu (segera) mengamalkannya (jika belum).

Teruntuk saudara, karib kerabat, sahabat, kawan, atau siapapun saudaraku dalam pertalian iman.

Adakah kau mengenalku?
Bolehkan aku meminta tolong padamu?

Pernahkah aku melukaimu?
Sudikah kiranya kau memaafkanku?

Masihkan aku berhutang padamu?
Sudikah kau memberitahuku agar ku bersegera melunasinya?

Lalu, bila waktu senjaku tiba
Maukah kau mendo’akan (kebaikan untuk)ku?
Turut berdiri shalat di depan jasadku saat terbujur kaku nanti…
Memohonkan ampunan kepada Rabb untukku…

Maukah kau mengantarkanku?
Ke peristirahatan terakhirku nanti…
Turut mengiringi jasadku kembali ke asalnya (tanah)
Memohon kepada Rabb agar menerima (kepulangan)ku….

Semoga bisa menjadi pelecut bagi diri untuk senantiasa melakukan perbaikan. Perbaikan bagi diri, maupun lingkungan sekitar. Agar kelak Allah rida ketika diri ini mesti kembali ke haribaan-Nya. Agar diri termasuk dalam orang-orang yang disebut dalam Al Quran: “radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu’anh. Agar nanti diri termasuk juga orang-orang yang dijemput dengan panggilan cinta-Nya seperti dalam QS Al Fajr: 27-30: “Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii. Wadkhulii jannatii.”