Tamparan Keras

Bismillaah…

Qadarullaah tetiba nemu ini di beranda pasca kekhilafan yang untuk ke sekian kalinya kembali diri ini ulangi. Atas kekhilafan yang lagi-lagi terulang, ada sesal? Iya. Tapi sesal tanpa ada tekad kuat berubah dan benci untuk mengulanginya itu sama dengan omong kosong. Sungguh, syaithan tidak pernah berhenti mengintai dan melihat celah kelemahan kita. Terus saja sisi lemah kita akan dibidik dan di situlah syaithan akan menggoda kita terus hingga kita mengikuti bisikannya. Astaghfirullaah wa atuubu ilaih.

Menemukan video ini dan mendapati arti liriknya yang begitu membuat diri ini semakin merasa kecil. Dengan apa yang sedang diri ini rasakan, sungguh terasa masih kecil dan jauh amal.  Di tengah-tengah kemudahan dan kelapangan diri, masih saja seringkali mengeluh dan melenguh, tanpa ingat bahwa di sisi dunia lain, banyak saudara seiman yang bahkan mungkin kebal sudah dengan yang namanya getir pahit kesempitan dan kesusahan hidup. Namun, dengan segala himpitan itu mereka masih kuat hati meneruskan hidup dan tekad juang mereka tinggi.  :”

Terima kasih, Allah… atas tamparan keras ini. Semoga diri ini lebih kuat lagi melawan godaan syaithan dan lebih gigih lagi mengatasi kelemahan diri. Semoga terus Engkau ingatkan agar diri ini segera bertaubat dengan sebenar-benar taubat ketika dosa dan khilaf itu kembali menjerat. Aamiin.

Advertisements

Kangen Pengen Nangis Banget #hiks

Bismillaah…

Maafkan judul yang rada alay, tapi nyata. Kangen banget pengen nangis. Ambigu ya? Apa yang dikangenin? Yang dikangenin itu bikin nangis? Yas yas yas. Aku kangen nangis. Pengen nangis, tapi butuh trigger buat nangis. #hiks (maka bersyukurlah yang dimudahkan untuk menangis karena ada yang pengen nangis pun belum tentu bisa nangis #hiks)

Di momen awal tahun baru Hijriah ini, mau sedikit flashback setahun ke belakang. Semoga bisa jadi trigger biar kangennya terobati. Rasanya, ada banyak momen yang terjadi setahun ke belakang ini. Kabar paling gembiranya, I feel the second turning point of my life after six years ago. Ya, momen yang paling membahagiakan dalam satu tahun ke belakang setelah sekian lama menunggu datangnya waktu itu.

Kalau harus diceritakan satu per satu, rasanya terlalu banyak. Beberapa hal yang mungkin cukup membekas dalam setahun belakangan ini adalah hikmah di balik extend waktu kelulusan (hampir seluruh waktu liburan semester bisa buat nemenin ibu opname), asam-manis-gurih-pahit(?)-nya proses pengerjaan tesis, momentum Ramadhan mubarak (di sini, very-very last days [bukan last minutes yah :D] merasakan kenikmatan yang luar biasa, maa syaa Allah, sepertinya puncak terasanya turning point keduaku ada di momentum ini), sidang tesis (oh yeah! walhamdulillaah Allah menguatkan hatiku untuk berani menghadapinya), momen silaturahim, penemuan (dan peneguhan) kembali tujuan/misi hidup, syukuran wisuda kali ke dua (akhirnya luluh juga hati ini sama nasihat bapak), lebaran Qurban di rumah (Alhamdulillaah, setelah enam tahun berturut-turut lebaran Qurban di perantauan), trip to Jogja (lagi, untuk ke sekian kali, tapi kali ini beda rasa!), memulai lembaran hidup baru, dan adaptasi lagi. Beberapa-nya banyak juga ya ternyata, hihii… Realitanya jauh lebiih banyak. Alhamdulillaah wa hadzaa min fadhli Rabbii.

Begitu banyak nikmat dan karunia Allah dengan segala nano-nano yang dirasakan di balik itu. Jauh lebih banyak nikmat dan karunia Allah dibanding ujian kesulitan dan kesusahan. Ujian pasti ada, nikmat atau tidak rasanya tergantung cara penyikapannya. Ada kalanya diri ini lupa dengan nikmat Tuhannya, jadilah ia rasa berat itu cobaan. Kali lain, Allah karuniakan diri ini untuk rida dan merasa cukup dengan pemberian-Nya, maka yang terasa hanya manis dan rasa “nerima ing pandum“.

Lalu, di awal tahun baru ini, tidak ada yang lebih patut untuk diungkapkan selain rasa syukur yang (semestinya terus) bertambah. Allaahu Akbar. Selanjutnya, adalah tugas diri untuk membuktikan apakah diri ini sudah benar-benar bersyukur atau belum. Bersyukur dengan membuktikan rasa syukur dengan mengejawantahkannya dalam setiap laku diri, gerak hati. Adakah ia jujur dengan apa yang diungkapkannya ataukah ungkapannya sekadar “gombalan” yang nantinya terbuang (tak diterima oleh-Nya, na’udzubillaahimindzalik). Wahai diri, saatnya untuk bercermin. Bersihkan cermin*)-mu hingga terlihat jelas seperti apa sesungguhnya rupa keadaanmu. Agar tak bias engkau memandang dirimu itu. Jujurlah, karena sesungguhnya Allah Mahatahu yang ‘kau lahirkan ataupun ‘kau sembunyikan.  Jujurlah dengan hatimu, jujurlah pada keinginanmu. Ingatlah, Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Maka, jangan bermain-main dengan hati. Sudah ya, jaga hatimu. Jaga asupannya. Segera obati jika sakit terasa.

Selamat berhijrah menjadi diri yang baru. Selamat berhijrah menuju lembaran hidup yang baru. Semoga engkau semakin semangat memperbaiki diri dan terus-menerus tekun memohon petunjuk dan pertolongan dari-Nya.

Bismillaah, mari berHIJRAH! Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

 

*) cermin diri adalah hati

[sudah sampai sini, masih belum bisa nangis #hiks, ya sudahlah, mohon do’akan ya, semoga ini bukan pertanda matinya hati, mungkin keras iya, tapi semoga bisa melunak, mohon do’anya yaa]

[Transkrip Kartun Islami] Berpegang Pada Janji Allah – Nouman Ali Khan — Nouman Ali Khan Indonesia

Bismillaaah..

“Satu-satunya yang mengucapkan selamat padamu dalam situasi ini bukanlah temanmu, bahkan kadang bukan keluargamu. Satu-satunya yang akan mengucapkan selamat kepadamu adalah Allah.” (NAK translated by NAK Indonesia)

Ketika semua orang menyerah padamu, hanya satu yang tidak akan pernah menyerah padamu selama kau tak menyerah (berputus asa) pada-Nya, yaitu ALLAH. Kurang sayang apalagi Allah? Huwa-Allah laa ilaaha illaa huwa ‘aalimul ghaibi wasysyahaadah, huwa-arRahmaan-arRahiim.

***

[Kartun Islami] Berpegang Pada Janji Allah – Nouman Ali Khan Allah berfirman, “Fastabsyiruu bibai‘ikumualladzii baaya‘tum bihii.” (QS. At-Taubah ayat 111)

via [Transkrip Kartun Islami] Berpegang Pada Janji Allah – Nouman Ali Khan — Nouman Ali Khan Indonesia

Mahalnya Air Mata: So True

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Kurasa memang demikian. Sungguh benar jika dikatakan air mata adalah rahmat. Pun kurasakan pula ia begitu mahal nilainya. Begitu sering diri ini merindukan setiap kesejukan yang diberikannya, tapi belum tentu saat itu pula itu bisa didapatkan. Mahal benar, sungguh. Maka, bersyukurlah yang dimudahkan Allah untuk luluh dan merasakan kesejukannya. Semoga setiap tetesnya tersebab keimanan, kesyukuran, kehambaan, ketawakalan, dan keridaan diri atas(segala pemberian)-Nya.

part 1:

Air mata adalah Rahmat Mahalnya air mata….

A post shared by Oemar Mita (@oemar_mita) on

part 2:

nomor loro..part 2

A post shared by Oemar Mita (@oemar_mita) on

part 3

Air mata 3

A post shared by Oemar Mita (@oemar_mita) on

Aku (Belajar untuk) Tidak Akan (Lagi) Marah ataupun Sedih

And this learning… is always relevant all the time 🙂

A Precious Life Footprint

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Pasca galau atas (terasa) remuknya badan serta menumpuk dan berkecamuknya pikiran yang berujung pada pencerahan nan indah atas kehendak-Nya yang (semoga) membuat diri kian merunduk, tunduk (bersyukur). Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat (Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna)[1]. Segala puji bagi Allah atas segala karunia dan nikmat-Nya yang tiada henti-hentinya. Sungguh, tiada nikmat dan karunia yang lebih besar kecuali masih adanya iman yang tertancap di hati.

Atas pencerahan yang entah mengapa selalu terasa indah. Pengingat, ‘cambukan’, dan ‘tamparan’-Nya yang selalu memukau. Allaahu ya Rabb, sungguh cara-Mu sering tak terduga. Ajaib. Selalu begitu. Begitu mudahnya Engkau membolak-balikkan hati hamba-hamba-Mu.

Adalah sebuah kenikmatan sendiri manakala diri lalai akan Tuhannya, abai akan perhatian Pencipta-Nya, tetapi Sang Maha Pencipta, Tuhan semesta alam masih memberikan karunia-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Duhai, begitu besar welas asih-Nya. Dia masih peduli dengan hamba-Nya yang mengabaikan-Nya. Sungguh, tiada keajaiban yang lebih besar dari ini…

View original post 434 more words