أحبك فى الله، يا أمي

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Aku mencintaimu karena Allah, Bu..

Walaupun lisan ini tak kuasa melahirkan kata-kata itu, tapi Allah Mahatahu besarnya rasa itu

Engkau yang mengajarkanku untuk gemar berbagi

Engkau yang mengajarkanku untuk menjadi perempuan yang kuat

Engkau yang mengajarkanku untuk bertahan dalam kesakitan dan kepedihan

Engkau yang mengajarkanku untuk memberi, tanpa diminta (sebelumnya)

Engkau yang mengajarkanku untuk mencintai dengan melayani

Engkau yang mengajarkanku untuk tetap mencintai dengan bukti

Dan masih banyak lagi…

Semua itu, kau mencontohkannya lewat perilakumu

 

Meski cara mendidikmu berbeda dengan cara bapak, aku berusaha belajar dan memahami pengajaran yang kau berikan

Meski mungkin, lebih sering aku gagal memahaminya

Maafkan aku, Ibu

 

Ada banyak yang kau berikan dan korbankan

Perhatianmu, waktumu, tenagamu, bahkan jiwa ragamu

Aku tahu, aku tak mampu membalas semuanya, tapi semoga Allah menunjukiku cara terbaik untuk membahagiakanmu

Hanya Allah yang mampu memberikan balasan terbaik untukmu, maka aku akan memohonkannya untukmu

 

Aku sadar, masih ada banyak hal yang kuharapkan (ada) padamu

Agar kau begini

Agar kau begitu

Dan sebagainya…

Aku memohon bantuan Allah dengan segala cara-Nya dan semua bala tentara-Nya untuk menuntunmu

Karena aku lebih sering tak mampu menyampaikan inginku padamu

Aku tak ingin menyampaikannya dengan cara yang salah

Maafkan aku yang juga belum mampu memenuhi (semua) keinginanmu

Aku memohon, semoga Allah membuka jalan agar aku mampu beriringan denganmu hingga kelak kembali bersama di syurga-Nya sekeluarga

Aku juga akan berusaha membanggakanmu di dunia dan (tentunya) di akhirat, in syaa Allah

Semoga Allah, dengan bala tentara dan cara-Nya, menolongku, menolong kita

أحبك فى الله، يا أبي

Bismillaahirrahmaanirrahiim.


Aku mencintaimu karena Allah, Pak..

Walaupun lisan ini tak kuasa melahirkan kata-kata itu, tapi Allah Mahatahu besar cintaku padamu

Engkau yang mengajarkanku berlaku sederhana, merasa cukup dengan yang sudah ada

Engkau yang mengajarkanku untuk berdiri di atas ‘kaki sendiri’, menjadi kuat meski harus sendiri

Engkau yang mengingatkanku akan kuasa Allah

Engkau yang mengajarkanku untuk tersenyum meski (mungkin) menerima perlakuan (orang) terhadapmu yang tak menyenangkan

Dan masih banyak lagi…

Semua itu, seringkali kaulakukan tanpa mendiktekannya padaku

Tapi, kau mencontohkannya lewat perilakumu

 

Ada banyak kenangan manis bersamamu

Saat (pergi) berdua denganmu

Bertukar pikiran, canda, dan tawa

Meski tak selalu

Meski hanya di waktu tertentu

 

Aku menyukai seni memerintah khas-mu

Memerintah dengan tanya

Kau seperti mengajariku untuk peka dengan kode 😀

Maka, aku akan menjadi cemas dan merasa (ada yang) salah ketika perintahmu bukan dalam bentuk tanya

Kau tahu cara menaklukkan hatiku yang (sering) keras dan kaku

Kau tahu betul tabiatku (meski Allah jauh lebih tahu darimu)

 

Aku sadar, masih ada beberapa hal yang kuharapkan (ada) padamu

Agar kau begini

Agar kau begitu

Dan sebagainya…

 

Aku memohon bantuan Allah dengan segala cara-Nya dan semua bala tentara-Nya untuk menggerakkanmu

Karena aku tak bisa mendiktemu, tak pantas, kau saja (yang lebih pantas melakukannya) jarang sekali melakukannya padaku

Aku memohon, semoga Allah memberikan banyak limpahan kebaikan atasmu

Aku pasti akan selalu merindukanmu dan ingin terus menjadi putri kecil bagimu

Ah ya, aku hampir lupa, aku juga akan berusaha membanggakanmu di dunia dan (tentunya) di akhirat, in syaa Allah

Semoga Allah, dengan bala tentara dan cara-Nya, menolongku, menolong kita

Hutang+Riba=Kombinasi yang Buruk! Semoga terlindung dari keburukan keduanya

Oleh: Zaim Saidi *Bank sentral adalah perusahaan swasta yang diberi hak monopoli mencetak uang. BI milik siapa*? KEBANYAKAN orang, warga negara di hampir semua negara nasional di dunia ini, tidak memahami bahwa mata uang kertas yang mereka pakai di negaranya *bukanlah terbitan pemerintah setempat*. Hak monopoli penerbitan uang kertas diberikan *kepada perusahan-perusahaan swasta* yang menamakan […]

via Tahukah Anda, Bank Indonesia Milik Siapa? – Eramuslim — The Signs

Check out “Monefy – Money Manager”: Latihan Ngontrol “Keran Air” Penghidupan :D

Bismillaahirrahmaanirrahiim.


Yak, berhubung saya merasa apps ini sangat membantu saya memantau dan melihat seberapa deras “air keran” yang mengalir ke segala penjuru kehidupan, jadilah saya pengen share ini. Berawal dari kesadaran diri yang semakin tua semakin mikir buat latihan ngatur “lalu lintas” aliran “air keran”. Isenglah saya cari di play store dan ..nemu ini: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.monefy.app.lite 

Setelah beberapa pekan memakainya, saya semakin melihat kebermanfaatannya. Walaupun awal-awal ini masih lebih cenderung monitoring aja. Ya, tak apalah buat latihan, dibiasakan dulu. Dari hasil monitoring ini juga nanti bisa kelihatan tren “lalu lintas”nya seperti apa. Dari situ, (harapannya) nanti bisa diatur strateginya biar “lalu lintas”nya lancar dan aman terkendali, heheh.

Dan..inilah screenshot-nya..
Ringkasan “lalu lintas” tiap hari:

Ringkasan “lalu lintas” tiap pekan:


Banyak pilihan ke mana arah aliran “air”nya:


Bisa pilih periode ringkasan “lalu lintas” yang mau dilihat:

Dan masih banyak lagi. Monggo dicoba kalo penasaran 😀

Yang jelas, menurut saya, selain memang bermanfaat, yang bikin seneng makainya itu karena apps-nya menarik secara penampilan dan easy to use. Ya, setidaknya di apps yang versi gratisnya, untuk kebutuhan-kebutuhan dasar manajemen “lalu lintas”nya sudah tercukupi. Kalau mau lebih oke ya sepertinya perlu yang berbayar, heheh. Ya sudah, itu saja. Semoga bermanfaat sharing-nya. 😀

Ketenangan dalam (Hiruk Pikuk) Keramaian

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Siapakah yang tidak ingin hidup tenang? Saya rasa, semua orang menginginkannya. Walaupun ada orang yang menyukai tantangan atau sesuatu hal yang memicu adrenalin, dia juga ingin hidup tenang. Tenang baginya mungkin adalah dengan memenuhi kebutuhan jiwanya yang haus akan tantangan.

Tenang, tidak melulu tentang berdiam diri. Ada lho orang yang justru merasa tidak tenang dan gelisah jika hanya berdiam diri tanpa melakukan aktivitas (fisik). Tenang, bagiku adalah ketika jiwa terpenuhi kebutuhannya. Mengapa bukan ketika terpenuhi keinginannya? Karena belum tentu ketika keinginan itu dituruti, lalu diri merasa tenang.

Belakangan ini, banyak pikiran berseliweran di dalam kepala. Ah, rasanya ini sering, tapi memang terkadang kurang terkendali. Lisan ini memang diam atau sedikit yang dikeluarkannya, tapi sungguh ada banyak kata dalam kepala yang tak teralirkan lewat lisan. Nikmat adalah ketika yang tidak sepatutnya keluar tak keluar lewat lisan, tapi terkadang (atau bahkan sering) ada juga yang sepatutnya dikeluarkan malah tertahan. Yang kedua ini salah satu hal yang biasanya membuat diri ini tidak tenang.

Menyesali yang sudah terjadi memang menyebalkan dan juga bisa membuat tidak tenang, tapi bukan salah sama sekali. Ada hikmah yang bisa diambil, in syaa Allah. Selanjutnya, harus melapangkan hati untuk menerimanya dan memaklumkannya (mau apa lagi? Toh, sudah terjadi? Tidak bisa merubah yang lalu kan? Ambil hikmahnya saja). Nah, hati yang lapang inilah salah satu kunci ketenangan. Bagaimana melapangkan hati? Sadari bahwa semua sudah ditentukan oleh-Nya (bukankah Allah sudah memberitahu kita melalui firman-Nya bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (tenang)?). Allah yang punya Kuasa atas kita. Ranah kita adalah usaha dengan izin-Nya (karena tiada daya dan upaya melainkan dengan(izin)Nya) dan ketentuan akhir mutlak milik-Nya.

Jadi, atas hiruk pikuk yang ada di luar maupun di dalam (pikiran), tetaplah tenang (menyikapinya). Allah tidak luput dari semua yang terjadi di dunia ini, bahkan di alam semesta ini. Lha wong Allah yang menciptakan. Allah juga yang mengaturnya. Lagipula, siapa sih kita dibandingkan Allah? Sok pusing-pusing mikir sendiri. Padahal, bisa saja pikiran kita salah jika tidak dituntun-Nya dalam bingkai kebenaran. Nah lho, dalam berpikir pun kita tidak bisa mandiri. Tetap butuh Allah. Jadi ya mesti ingat kalau setiap pergerakan kita, bahkan dalam tidur kita, Allah berkuasa atas kita. Jadi ya ujung-ujungnya Allah lagi. Semoga Allah jaga kita dalam kebenaran di jalan-Nya. Semoga Allah jaga kita dalam ketaatan pada-Nya. Semoga Allah jaga kita dalam sebaik-baik prasangka kepada-Nya. Aamiin.

*sedang butuh ‘bertapa’ untuk mengembalikan ‘kewarasan’ diri. Allah, andai istiqamah itu mudah, andai tsabat dalam agamamu itu mudah, tapi sayangnya berandai-andai tak boleh. Ya, kuyakini ini bagian dari ujian-Mu. Aku menerimanya karena ini ketentuan-Mu, in syaa Allah. Ah ya, sepertinya aku lupa, Allah kan sudah menfasilitasi hamba-Nya yang ingin berbincang (curhat) dengan-Nya: (dengan) do’a.