Obrolan Rawan Salah Paham

Bismillaah.

Obrolan yang tidak selesai itu rawan salah paham ya? 😀

Hampir saja menyepelekan obrolan dengan seseorang. Ngga bener-bener menyepelekan sih, cuman dipinggirkan aja karena ya emang belum tuntas gitu. Semacam belum dapat gambaran utuh dari pandangannya. Eh tapi ternyata beliau mem-follow-up obrolan kami. Memperlihatkan keseriusannya tentang tawaran dan solusinya. Hmm..menarik. Orang belum lama kenal yang perhatian, mungkin seperti itu gambaran singkatnya. Ya, salah satu sebabnya mungkin karena adanya kemiripan jalan cerita kami.

Ah ya, aku sangat berterima kasih tentunya. Tapi untuk tawarannya saat ini, sepertinya belum bisa kupenuhi karena memang rencana sudah kurancang dan eksekusi sebentar lagi. Mungkin lain kesempatan (jika masih ada) akan kucoba. Kalau untuk solusinya, cukup konkrit dan bisa kucoba, in syaa Allah. Sekarang aku fokus dulu menyelesaikan tugasku di sini sebelum menyambut tugas di tempat baru. Do’akan ya. 🙂

Advertisements

Lelaki di Balik Kacamata

Bismillaah.

Hari itu, tidak ada satu kata yang lebih merepresentasikan perasaanku kecuali satu: kagum. Ya, satu kata yang telah termanifestasikan dalam hatiku tentang dirimu sejak awal bertemu. Satu kata yang menebal seiring bertambahnya waktu dan kesempatanku mengenalmu. Aku memang belum tahu kekuranganmu, sebaliknya, mungkin kau sudah melihat beberapa dari kekuranganku. Memang, aku pernah berkata beberapa tahun silam (walau bukan padamu), “jika belum tahu kelemahan seseorang, itu artinya kita belum mengenalnya”. Aku pun tak hendak meralat kata-kataku itu, setidaknya untuk saat ini. Aku memang belum mengenalmu, tapi mungkin Allah ingin mengenalkanmu padaku dengan cara-Nya.

Ada harap yang tercipta dan hanya kepada-Nya kugantungkan setiap asa. Aku sama sekali belum lupa setiap momen tentang dirimu yang terukir dalam waktu yang singkat itu. Kau yang pernah menetap tanpa kita pernah bercakap-cakap. Aku tak hendak melupakanmu, tapi aku pun tak ingin larut dalam harapan palsu. Sering kukembalikan asa itu kepada-Nya dan kugantungkan di langit kuasa-Nya. Seketika itu, aku dihibur-Nya, dibuat-Nya lupa. Sayangnya, ada saja kejadian-kejadian yang membuat ingatanku memutar kembali rekaman itu. Maka yang aku mampu hanyalah berdo’a dan mengembalikan asa untuk digantung di langit kuasa-Nya. Walau terkadang juga seperti ini, aku menuangkannya lewat kata-kata dengan harapan sebagai pembelajaran dan terapi diri.

Tidak jarang hati tergerak untuk memulai langkah terlebih dulu. Namun, keadaan saat ini seperti meminta diriku untuk lebih banyak sabar terlebih dulu dan mencukupkan langkah sampai di sini. Aku pun percaya, Allah pasti punya cara untuk kembali mempertemukan kita jika memang itu sudah menjadi bagian dari skenario yang dituliskan-Nya di Lauhul Mahfuz. Jika tidak, aku bersyukur kepada Allah yang menjadikanmu sarana untukku belajar banyak dari keberadaanmu yang singkat itu. Saat ini, aku masih hendak belajar untuk meniadakan semua bentuk keterikatan dan menggantikannya dengan satu-satunya keterikatan: keterikatan pada Rabb, Dialah Allah, satu-satunya Sang Pemilik Hati. Aku ingin, ketika masanya tiba, aku tak salah menaruh harapan dan menempatkan keterikatan. Aku tak ingin, ketika masanya tiba, aku tersandera pada ikatan yang tidak diletakkan pada tempatnya.

Kau, lelaki di balik kacamata itu. Dirimu fana, sebab kau adalah bagian dari dunia. Begitu juga aku. Kita sama-sama bagian dari dunia yang hanya setetes air dibanding tak hingga banyaknya air di samudera ciptaan-Nya. Walau begitu, ada keterikatan antara kita dengan Yang Maha Kekal Abadi. Kita makhluk fana yang terikat pada Dzat yang Kekal Abadi. Maka, barangkali, satu-satunya cara membuat ikatan yang abadi adalah dengan mengikatkan diri pada Sang Maha Abadi.

Uban: Pertanda Waktunya Semakin Dekat?

Bismillaah..

Kali ini iseng sekali bahas uban. Habisnya penasaran aja, udah dua kali ini mendapati sehelai rambut berwarna putih tercerabut. Ya, apalagi kalau bukan uban? Untuk uban kedua (yang baru disadari–karena ngga sengaja tercabut) ini udah ngga kaget sih. Ceritanya sudah mulai bisa menerima takdir #ea (aslinya sih berharap: aamiin ya Allah, masih harus banyak belajar rida dengan takdir Allah). Kemudian iseng-lah googling tentang uban di usia muda. Salah satu artikel yang cukup menarik dan membuat manggut-manggut.


Makna Sehelai Uban

Dengan tumbuhnya uban pertama ini saya menjadi lebih banyak mengingat.. flashback kebelakang tentang apa saja yang telah saya lakukan dari saya kecil hingga saat ini, apakah lebih banyak manfaatnya atau justru sebaliknya? karena uban pertama ini, menjadi semakin terasa keterbatasan waktu dikehidupan ini.. semakin menyadari bahwa kesempatan seseorang bisa “menghembuskan nafas” itu hanya sekali, jadi harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.


“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

(selengkapnya di sini)

Lalu, apa yang mau dikhawatirkan dari tumbuhnya uban? Tidak ada, kecuali kekhawatiran bahwa waktu ‘kepulangan’ sudah semakin dekat, sedangkan bekal diri masih sedikit. Ada kebaikan (di akhirat) dalam setiap helai uban yang tumbuh seperti yang dikatakan oleh baginda Rasulullaah saw. Semoga bisa menahan diri dari mencabuti uban-uban selanjutnya ya dan semoga uban yang tercabut tanpa sengaja tidak menghilangkan kebaikannya (di akhirat). Akhirnya, kepada Allah (semoga) selalu (diingatkan untuk) bermohon: Allaahumma inni asaluka ridhaaKa wal jannah wa a’uudzubika min sakhatika wannaar.

Semangat Berbagi : Kini Hingga Nanti

Bagian yang paling menarik menurutku 🙂

Berbagi adalah salah satu cara untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Tidak selalu harus tentang dana atau donasi yang kita berikan, tetapi dari waktu, tenaga, dan keahlian yang kita miliki, hal tersebut menjadi sumber daya tak ternilai untuk memberikan sesuatu. Berbagi adalah mengenai apa yang bisa kita bisa optimalkan dari apa yang kita miliki. Kita memang harus berbagi peran. Ada saatnya kita menjadi penerima bantuan, ada saatnya kita menjadi jembatan penghubung, dan ada saatnya kita menjadi donatur kebaikan.”

N U R L A T I F A H

Cerita ini bermula dari sebuah kegiatan yang dilakukan bersama kelompok pengajian pekanan yang saya ikuti. Seorang guru kami menginisiasi untuk mengadakan sebuah proyek kebaikan di bulan Ramadhan tahun 2015.

Mengapa Ramadhan? Karena saat itulah, kondisi manusia sedang kembali pada fitrahnya yaitu setiap orang adalah baik. Lihatlah bagaimana bulan Ramadhan mampu membuat orang-orang berbondong-bondong ke masjid, memperbanyak lembar demi lembar bacaan Quran-nya, dan juga menjadi sangat ringan tangan untuk berbagi dengan sesama seperti menyumbang atau menyediakan makanan bagi orang yang berbuka puasa, mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah dengan begitu murah hati. Maka tak heran juga, lembaga ZIS (Zakat Infaq Sedekah) seperti Dompet Dhuafa dan lembaga lainnya membuka banyak gerai untuk menjadi saksi dan menjadi media penyalur kebaikan orang-orang.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain” -H.R. Ahmad-

Di bulan Ramadhan 2015 yang penuh dengan keberkahan dari Allah SWT, kami memulai sebuah proyek perdana kebaikan kami untuk turut serta menjadi…

View original post 903 more words

[Transkrip Kartun Islami] Curahkan Hatimu Kepada Allah – Nouman Ali Khan — Nouman Ali Khan Indonesia

“Qoola, innamaaa asykuu batstsii wa huzniii ilallooh.” (QS. Yusuf ayat 86)

“Aku hanya mengeluhkan duka dan kesulitanku kepada Allah.”

Bismillaah… 

Kembali diingatkan salah satu kisah dari artikel ini. Bahkan, seorang Nabi pernah merasa begitu sedih hingga buta matanya. Tiap orang pasti pernah mengalami kesedihan dan seberapa dalamnya tidak akan bisa disamakan. Hanya saja, bagaimana menyikapi kesedihan itu? Siapakah atau di manakah tempat yang paling baik untuk meluapkan kesedihan itu? Agaknya, sikap Nabi Ya’qub as. patut kita teladani karena memang hanya Allah satu-satunya yang paling tahu dalamnya kesedihan kita. Bukankah hati kita ada dalam genggaman-Nya?

Bukan berarti tidak boleh berbagi/bercerita kepada manusia. Namun, sebagai seorang muslim kita mesti belajar bergantung penuh kepada Allah. Allah tempat kita berkeluh-kesah. Kepada orang lain, (semoga) cukup berbagi ketika hati sudah ditenangkan oleh-Nya dan sekadar berbagi pandangan atau meminta saran. Dalam berbagi cerita kepada orang lain pun kita mesti lihat juga, orang itu (sudah) patut kita bagikan ceritanya atau tidak? Carilah orang yang bijak yang bisa membantu kita menjadi lebih bijak dan kuat.

Bagian artikel yang menanggapi kalimat Nabi Ya’qub as. pada ayat QS Yusuf ayat 86 yang menurut saya patut direnungkan:

Pada ayat ini, satu kebenaran yang dalam diungkap oleh Yaqub ‘alaihissalaam. Benar, kita memperoleh kelegaan dari sesama, namun saya tidak akan pernah bisa memahami kepedihan Anda dan Anda tidak akan pernah bisa memahami kepedihan saya. Ini takkan pernah terjadi. Kesedihan yang saya alami hanya saya yang merasakan.

Kamu tahu apa yang kita lakukan? Kita mencoba membandingkan kesedihan kita dengan orang lain atau kita mencoba membandingkan… kondisi kita dengan kondisi lain yang mirip, ya kan? Setiap situasi, hati, dan kepedihan itu unik. Satu-satunya yang benar-benar memahami kepedihan yang Anda alami adalah Allah.

Artikel selengkapnya:

Assalamu’alaikum. Selamat datang semua di “Amazed by the Qur’an,” serial di mana saya ingin berbagi dengan Anda, hal-hal menakjubkan yang saya temukan tentang Qur’an. Hari ini saya akan berbagi sesuatu… yang dikutip dalam Qur’an, dari Yaqub ‘alaihissalaam ketika berbincang dengan putra-putranya. Saat mereka agak frustrasi dengannya, yang belum melepaskan kenangan tentang Yusuf, beliau masih berduka […]

via [Transkrip Kartun Islami] Curahkan Hatimu Kepada Allah – Nouman Ali Khan — Nouman Ali Khan Indonesia