Allah Akan Membantu Kita Move On – Nouman Ali Khan

“Yes, in the beginning, we’re human being, when something bad happens, the heart is rattle, we’re angered, we are sadden, we are depressed, we are all of those things. But eventually, if you’re really have iman in Allah, Allah will tape all of your heart, and you’ll be fine. You’ll be able to survived.”

Betul sekali, maa syaa Allah :”)))
semoga kita tidak pernah kenyang dari berdo’a 🙂

Nouman Ali Khan Indonesia

Bismillah.

Tujuan dari doa bukan untuk mengubah kenyataan, tapi untuk menguatkan kita saat sebuah kenyataan yang pahit terjadi di hidup kita.

View original post 504 more words

Advertisements

Tentang Do’a: Mintakan Saja Semua Hajat Kita pada-Nya

Bismillaah…

Sudah bukan waktunya lagi untuk merasa malu berdo’a kepada Allah. Sebab, Kita berdo’a bukan karena kita bebas dosa, sehingga kita (berpikir) pantas berdo’a (karena tidak merasa malu tersebab bebas dosa). Kita berdo’a justru karena kita tidak bebas dari dosa. Malu meminta karena banyak dosa? Basi! Hehe… Kasar ya? Lagipula, kalau sadar banyak dosa, bukannya kita butuh taubat? Bertaubat itu kan–selain menyesali dan berusaha tidak mengulangi dosa yang pernah diperbuat–juga (di antaranya) berdo’a agar dosa kita diampuni dan dihapuskan ‘kan? Begitu banyaknya janji Allah yang tertuang dalam kalam-Nya untuk menghapus kesalahan hamba-Nya, tapi tetap dengan syarat-syarat tertentu. Mau tau syaratnya? Yuk kita buka-buka lagi Al Quran kita. 🙂

Balik lagi menyoal berdo’a. Pernah denger ga ada nasihat gini kira-kira: “kalau kita untuk hal yang sepele saja (merasa butuh) meminta ke Allah (dengan berdo’a), maka untuk hal yang jauh lebih besar (logikanya ya :D) kita akan berdo’a lebih kenceng”. Ya ga? Allah pun sangat senang hamba-Nya bersimpuh meminta (berdo’a) pada-Nya. Allah bahkan berjanji kepada siapa saja dari hamba-Nya yang (mau) berdo’a kepada-Nya (yuk buka lagi Quran-nya surat Al Baqarah ayat 186. Bahkan, dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa Allah malu jika mengabaikan (do’a) orang yang mengangkat tangannya (untuk berdo’a kepada-Nya).

Nah, sebelum itu, ada nih yang perlu diperhatikan–selain janji Allah untuk mengabulkan do’a hamba-Nya–yang ngaruh banget sama terkabul atau tidaknya do’a kita. Pernah denger kan ada beberapa waktu yang mustajab buat berdo’a? Misalnya waktu sepertiga malam (bahkan do’a di waktu ini diibaratkan seperti anak panah yang tidak akan melesat dari sasaran! Maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah), waktu hujan, safar (bepergian), waktu tertentu di hari Jumat (saat shalat Jumat atau sehabis Ashar), dan silakan cari sendiri yang lainnya :D. Selain waktu, ada juga tempat-tempat yang mustajab buat berdo’a (cari sendiri saja ya :p).

Nah, selain waktu dan tempat yang mustajab, ada juga orang-orang yang Allah berikan karunia setiap pinta do’anya mustajab, salah satunya adalah orang terdekat dan paling banyak berkorban dalam kehidupan kita: ibu. Setiap kata yang terlontar dari lisannya (untuk anaknya) seketika mengangkasa menjelma jadi do’a dan (dalam sebuah hadits)  disebutkan tidak diragukan pengabulannya. Bagi yang sudah jadi ibu, bisa jadi ini adalah ujian untuk mengatur setiap kata yang keluar dari lisannya. Bagi yang masih Allah titipkan ibu di sisinya (belum Allah panggil ke hadirat-Nya), ini adalah kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan karena kita masih punya ‘jimat’ hidup. Betapa Allah sangat memuliakan seorang ibu bahkan sampai di sebutkan bahwa syurga ada di telapak kaki ibu!

Ada satu lagi nih yang juga penting buat jadi perhatian kalau mau do’anya makbul: menjaga makanan. Pernah denger cerita seorang sahabat Rasulullaah saw. yang meminta kepada Rasulullaah saw. agar mendo’akan setiap do’anya mustajab? Kita sendiri tau kan kalau Rasulullaah saw. itu do’anya juga mustajab, maka pasti beruntunglah orang-orang yang didoakan kebaikan oleh Beliau saw. Seneng ya kalau kita bisa gitu, tapi beruntungnya peluang makbulnya do’a sudah disediakan Allah sebegitu banyaknya (udah disebutin beberapa kan sebelumnya? :D). Eh lanjut tentang cerita sahabat ra. ini, namanya Sa’ad bin Abi Waqqash. Rasulullaah saw. pun mengiyakan permintaan Sa’ad ini dengan memintanya untuk membantunya (agar dikabulkan doanya) dengan menjaga makanan (dengan hanya makan yang halal).

Yak, terakhir, menyoal berdo’a–sadar atau tidak, sebagai sebagai seorang muslim–kita  ‘dipaksa’ Allah mengulangi do’a-do’a yang sama setidaknya lima kali sehari melalui syariat-Nya: shalat. ‘Paksaan’ yang indah bukan? Tahukah kita bahwa arti shalat secara bahasa adalah do’a? Kenyataannya, bacaan-bacaan dalam shalat memang berisi bermacam pinta do’a kebaikan kepada-Nya. Menariknya, surat Al Fatihah menjadi salah satu bacaan wajib dalam shalat di mana di dalamnya (isi suratnya), Allah seperti mengajarkan kita (salah satu) etika berdoa: (dimulai dengan) bersyukur kepada Allah, lalu dilanjutkan dengan pujian dan pengakuan akan keagungan serta kuasa-Nya; dan barulah kemudian (ditutup) dengan do’a (tentang hajat kita).

Yang tidak kalah menarik–dalam shalat–saat ketika Al Fatihah dibaca, sebenarnya Allah menjawab setiap ayat yang kita baca.  Jadi semacam percakapan dua arah gitu. Siapa coba yang ga seneng kalau apa yang dia bicarakan ditanggapi sama lawan bicaranya a.k.a ga dicuekin gitu? Nah, di saat kita baca Al Fatihah ini seolah-olah kita sedang berhadapan dan berbicara langsung dengan Allah dan seketika (setiap kalimat) langsung ditanggapi-Nya. Indah kan? Nah, bayangin aja setiap berdo’a apapun ke Allah kayak kita lagi ngobrol langsung ke Allah, ngerayu Allah gitu deh :D. Kita mintakan semua hajat kita ke Allah. Tentu, dengan memperhatikan beberapa hal yang sudah dibahas di atas juga ya (dan mungkin ada hal terkait lain yang terlewat :D). 🙂

*PS: Ada peringatan bagi orang yang enggan berdo’a kepada Allah (karena merasa cukup dengan diri sendiri), yaitu digolongkan sebagai orang yang sombong. Jadi, teruslah merasa butuh kepada-Nya ya? Sebab memang kita tak punya apa-apa kecuali semua itu adalah pemberian dari-Nya. 🙂

Wisuda Kedua: Rencana-Nya Selalu Tepat Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat. Ya, lagi-lagi hanya pujian dan rasa syukur yang pantas dihaturkan kehadirat Allah, Tuhan semesta alam. Ada satu nasihat yang pernah kudengar bahwa sebaik-baik do’a adalah “alhamdulillaah” (dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi: Afdhaludzdzikra “laa ilaa ha illallaah”, wa afdhaluddu’a “alhamdulillaah”). Maka, ketika lidah kelu untuk berucap  sedangkan rasa begitu membuncah dalam dada, satu kalimat lirih hamdallah saja agaknya cukup mewakili apa yang tak mampu terlahirkan dari lisan.

Bisa dibilang, tulisan ini terhitung telat mengingat wisuda kedua ini sudah lewat enam bulan sebelumnya. Kalau mau jujur sih, keinginan untuk berbagi momentum ini sudah ada sejak saat itu juga, tapi memang sengaja untuk ditahan. Kenapa? Pertama, agar diri ini tidak larut dalam euforia sesaat dan lupa hakikat sebenarnya dari seremonial bernama “wisuda”. Yang kedua, saat itu masih ada kewajiban yang harus diselesaikan dulu sebelum akhirnya boleh menggondol pulang ijazah S2, hehe.

Masalah ijazah sebenarnya tidak mau ambil pusing karena toh masih kerja di kampus ini. Jadilah akhirnya syarat pengambilannya tertunda terus dengan alasan ada kewajiban lain yang lebih prioritas :D. Tapi, sejak ditanya bapak soal ijazah dan qadarullaah kemudian keadaan mendorongku untuk memutuskan resign dari kampus, jadilah berpikir lagi, sepertinya memang mesti segera dibereskan (cara Allah untuk ‘negor’ hamba-Nya itu keren ya? :D). Yah, di akhirat sih memang tidak akan ditanya “mana ijazahnya?”, tapi ternyata eh ternyata kalau tidak salah ingat–pernah nemu di Mariage Journal-nya BrideTalk–salah satu dokumen yang perlu disiapkan untuk berkas nikah itu fotokopi ijazah terakhir, hihi. Yang terakhir ini pikiran iseng sih, tapi tetap aja kepikiran. Daripada nanti kelabakan di akhir (kalau emang dibutuhkan), mending diurus sekarang, ya ‘kan (padahal mah entah kapan ngurusinnya :”D)?

Eh, kok jadi ngelantur, padahal tadinya mau serius. Okay, back to the topic. Yah, jadi wisuda kedua ini menandakan bahwa aku sudah semakin tua, hiks. Maksudnya, gelar yang disematkan bukanlah hal yang main-main. Ada tanggung jawab yang diemban bersamaan dengan gelar yang disandang. Ada amanah baru yang diharapkan mampu ditunaikan sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan merasakan manisnya ilmu yang sedikit sekali orang bisa mendapatkannya.

Banyak kawan yang bertanya; “Abis ini ke mana?”, “Mau jadi dosen ya?”, “Udah ngajar ya?”; dan beragam pertanyaan serupa. Karena memang bukan tipe orang yang senang berbagi rencana hidup dengan banyak orang, jadilah pertanyaan-pertanyaan itu seringnya hanya mampu kujawab dengan senyum dan pinta do’a kebaikan. Sebab memang, kita hanya bisa berencana sekaligus berikhtiyar dan Allah-lah yang bertugas memilihkan yang terbaik untuk kita. Apakah itu sesuai rencana kita atau tidak, percaya saja Allah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Dan ya, aku mulai menikmati kejutan-kejutan hidup yang diberikan-Nya. Menikmati satu demi satu dari sekian banyak do’aku dijawabnya dengan beragam cara-Nya yang istimewa.

DSCF6597.JPG

Dan…wisuda kedua ini adalah satu dari sekian banyak kejutan dari-Nya. Meskipun pending satu semester dari target awal, tapi ternyata ada banyak hikmah dan pelajaran yang Allah siapkan bersamaan dengan ditundanya kelulusanku ini. Kalau boleh menjawab jujur, jika ditanya apa saja yang aku pelajari selama studi magister ini, jawabanku adalah pelajaran hidup!

Ya, selama masa dua tahun itu yang lebih banyak kurasakan (dan kunikmati :D) adalah pelajaran hidupnya, bukan matakuliahnya 😀 (karena memang matakuliah yang qadarullaah bisa kuambil saat itu hanya sedikit yang benar-benar sesuai dengan minatku :p). Jadi, timing yang dibuat Allah memang precise! Bisa jadi kalau aku lulus sesuai target awal, ada banyak pelajaran hidup yang kulewatkan. Oh, betapa indah skenario-Nya. Mahasuci Allah dari segala prasangka buruk hamba-Nya. Dia selalu menyiapkan ganti yang jauh lebih baik atas segala sesuatu yang diambil-Nya dari hamba-Nya. Dan ya, (aku percaya bahwa) rencana-Nya selalu tepat waktu; maa syaa Allah, laa quwwata illaa billaah.

Welcome Back, Dude!

Bismillaah…

Alhamdulillaah tsummalhamdulillaah…

Setelah sekian waktu off dari dunia ‘persilatan’ per-blogging-an #ea, akhirnya balik lagi. Well, ada banyak cerita berharga yang ingin dibagi sebenarnya, semoga Allah mampukan untuk menuangkannya dalam beberapa tulisan nanti. Sementara itu, tulisan ini anggap saja untuk kembali melemaskan otot-otot jemari tangan sebelum mulai nulis lagi. Mumpung Allah sedang kasih kesempatan waktu yang lebih fleksibel. Semoga mampu teroptimalkan waktunya.

Dan yak… Sudah saatnya menata kembali hidup. Sudah waktunya menyusun rencana-rencana baru. Mari menyambut hari baru dengan semangat baru: semangat perbaikan diri! Semangat mengembalikan orientasi hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa: huwa Allahu Ahad! Dengan tinta milik-Nya, semoga lembaran-lembaran kita yang ada di sisi-Nya yang masih bersih bisa kita isi dengan catatan-catatan amal kebaikan yang mendekatkan kita pada-Nya. Sebab, tiada tujuan yang pasti kecuali Dia.

Semoga Allah mampukan diri mengerahkan segala upaya hanya untuk-Nya. Sebab, segala yang melekat pada diri ini adalah milik-Nya, pun diri ini senditi juga kepunyaan-Nya. Semoga taufik dan hidayah-Nya senantiasa terlimpahkan kepada diri yang faqir (sangat membutuhkan limpahan karunia-Nya) ini. Hasbunallaah wa ni’mal wakiil. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.