Menjadi Dirimu: Kenapa Harus Malu?

Sangat suka dengan kesimpulannya 🙂
“Tidak ada yang salah menjadi diri sendiri, selama kebaikan yang engkau cari. Tidak perlu menjadi orang lain, jika karakter santun telah engkau miliki. Tak perlu juga berkompromi dengan aturan agama yang sudah jelas terdefinisi, karena disitulah menentukan letak taat dalam hati. Terus berbuat baiklah yang menghiasi diri, niscaya kebaikan serupa akan mengiringi.”

dan ada satu bagian yang cukup menggelitik 😀
“disini kadang saya merasa orang dari negara lain bisa lebih “ngikhwah” daripada laki-laki di Indonesia *peace 😀”

Dewi Nur Aisyah

“Be confident. Too many days are wasted comparing ourselves to others and wishing to be something we aren’t. Everybody has their own strengths and weaknesses, and it is only when you accept everything you are -and aren’t- that you will truly succeed.” (anonymous)

Tanggal 15 Februari kemarin merupakan hari pertama APASL (Asian Pacific Association for the Study of the Liver) Annual Meeting di Shanghai. Sebuah event besar yang menghadirkan ahli-ahli hepatologi se-Asia Pasifik. Alhamdulillaah… saya menjadi salah satu yang terpilih untuk mendapatkan award pada konferensi besar ini di antara lebih dari 3000 aplikasi yang masuk. Pagi itu, di tengah suhu 10 derajat celcius, kami dijemput dari hotel menuju Shanghai International Convention Center.

menjadi-dirimu7 Poster Presentation at APASL-AASLD Joint Workshop

Memang ya, atmosfer pertemuan Asia tetap terasa berbeda dengan Eropa. Meskipun saya tetap menjadi salah satu dari tiga muslimah yang berhijab disini. Dua yang lain berasal dari Mesir, dan usianya sepertinya sudah…

View original post 609 more words

Advertisements

Hidayah

Bismillaah…

Semua dari kita tentu berharap akan hidayah dari Allah swt. Semoga Allah tuntun kita untuk saling bergandeng tangan menjemput hidayah dari-Nya. Agar kelak bersama-sama meraih syurga-Nya, adakah yang tidak menginginkannya?

#reminder

😊

A post shared by Oemar Mita (@oemar_mita) on

Obat Hati Kali Ini

Bismillaah…

Alhamdulillaah, hanya karena pertolongan Allah, kembali Allah berikan satu karunia yang lama diri ini rindukan. Qadarullaah, Allah ingatkan pula sepenggal kalam-Nya ini sebagai obat hati. Amat berharap diri ini termasuk mereka yang disebutkan di tiga ayat pembuka penggalan surat Fushshilat yang begitu merdu dilantunkan oleh Qari’ Idris Al Hasyimi ini.

Terkenal atau Tidak Terkenal…

Bismillaah…

Kangen blog-walking, bosen di wordpress karena sedikit yang update, kemudian iseng buka tumblr dan nemu tulisan-tulisan inspiratif. Salah satunya tulisan ini di salah satu blog senior di UI. Sangat menarik dan cukup menohok untuk muhasabah. Bagian ini yang menurutku paling menarik:

“… Karena menjadi tidak terkenal justru kehidupan yang sesungguhnya.

Seperti kehidupan yang dijalani oleh salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi’in, Abdullah bin al-Mubarak. Beliau mengatakan tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan. Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan. Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi’, bercerita, “Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.

Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, Ibnul Mubarak berkata, ‘Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu’.” (Shifatu Shafwah, 4/135).

Terkenal ataupun tidak yang terpenting kita mestilah bahagia menjalani hidup yang hanya sekali ini, tak perlu membanding – bandingkan cukup bergerak dengan sekuat tenaga. Tak perlu merasa rendah diri disadari ataupun tidak eksistensinya sebagai manusia, sebab kita itu sama istimewanya dengan manusia manapun di muka bumi. Sebab, sama sama di perhatikan Allah sampai ditugaskan dua malaikat untuk memperhatikan kita raqib dan atid. 🙂

©Alizeti

Dari pintu yang mana kami layak memasuki jannah-Nya?

“Saya begitu menyadari bahwa keluarga kami bukanlah keluarga yang melaksanakan ibadah dengan istimewa. Seandainya jalan pintas masuk surga terbuka lewat pintu shalat, kami merasa saat ini belum memiliki tiket istimewa untuk masuk melaluinya. Seandainya surga terbuka dari pintu puasa, kami pun merasa belum mampu untuk membeli tiket vip yang mengijinkan kami masuk melaluinya. Seandainya surga memanggil dari pintu sedekah, rasanya masih jauh bagi kami untuk ikut dalam rombongan yang menghampirinya. Dan saat ini pun kami belum mendapat giliran rezeki berangkat ke tanah suci, sebagai peluang memasuki surga melalui pahala haji mabrur. Maka teringat pesan nabi yang mengkisahkan sahabat yang menjadi ahli surga bukan karena amalannya yang istimewa namun karena kebiasaanya untuk mengikhlaskan kesalahan orang lain sebelum menutup hari diatas pembaringannya.” (Kiki Barkiah)

Maa syaa Allah, in syaa Allah pasti ada (setidaknya satu) jalan menuju jannah-Nya yang bisa kita pilih (yang bisa kita optimalkan) sekalipun begitu banyak ketidaksempurnaan di jalan lain :”)))

Kiki Barkiah

[dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Entah apa yang saat itu sedang dipermasalahkan Ali dan ayahnya di dalam kamar, tiba-tiba saya melihat Ali yang saat itu berusia 10 tahun keluar berlinang air mata. Segera saya menghampiri sang ayah untuk bertanya apa masalahnya. Dengan wajah yang sangat kecewa ia meminta saya bertanya langsung pada anak kami. Saya hampiri Ali di kamarnya, yang ternyata sedang menangis terisak-isak tak seperti biasanya. Ia pun mengambil foto almarhum ibunya lalu memeluknya bersama lelehan air matanya. Saya yang saat itu kebingungan dan salah tingkah, hanya dapat menarik nafas sejenak dan berkata “ada apa nak?” Namun ia tak beranjak dari tangisnya. “Ya sudah kalo mau menangis dulu silahkan, nanti kalo sudah tenang kita bicara” Saya pikir pasti ada masalah serius, ini kali pertamanya Ali menangis sampai seolah mengadu pada ibunya. Saya pun kembali bertanya, lalu sang ayah menjelaskan duduk perkara kekesalannya dalam versi pandangannya.

View original post 548 more words