Belajar Pada Tokoh Heni Sri Sundani ‘30 Under 30 Asia : Social Entreprise Versi Majalah Forbes’

Maa syaa Allah, sangat inspiratif! :)))

via Belajar Pada Tokoh Heni Sri Sundani ‘30 Under 30 Asia : Social Entreprise Versi Majalah Forbes’

Advertisements

Tangis Bahagia? Bagaimana Rasanya?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat (segala puji hanya bagi Allah yang karena-Nya segala ni’mat terasa sempurna). Rasanya, kufur sekali jika tidak bertambah rasa syukurku pada-Nya. Hari ini, kabar gembira itu datang: kabar dari adik tercinta. Kabar yang mengejutkan bagiku karena aku tak pernah mengira ini sebelumnya. Aku pun sudah siap jika memang belum lolos di tahap ini, maka semoga di tahap selanjutnya; atau jika pun belum, berharap apapun itu semoga yang terbaik.

Kenapa begitu mengejutkan? Sebab, jujur saja aku sempat menyangsikannya. Ya, adikku bukanlah mereka yang mentereng prestasinya di SMA. Bahkan, menempati peringkat 50% terbaik di kelasnya sepertinya tidak. Kenapa sepertinya? Karena aku tidak tahu persis dan sejujurnya tidak terlalu memerdulikan itu (rangking). Ya, semakin ke sini aku semakin sadar, rangking bukanlah segalanya dan yang utama. Karena itulah aku tidak banyak berharap dia lolos saat SNMPTN. Pun untuk SBMPTN ini, sebenarnya aku juga agak khawatir kalau-kalau dia belum lolos juga.

Namun apa yang terjadi hari ini sungguh di luar dugaan. Kau tahu bagaimana rasanya menangis bahagia? Pernahkah mengalaminya? Jujur, aku rasanya belum pernah (atau sudah lama tidak merasakannya? hmm., bisa jadi). Baru saja kemarin penasaran seperti apa rasanya tangis bahagia itu. Eh, ternyata hari ini Allah jawab langsung saat aku mendapati kabar bahagia ini. Maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah.

DSC00421.JPG

Kau tau apa sebabnya? Aku hanya mengira saja. Mungkin karena aku sempat tak yakin adikku lolos di tahap ini dan ada kekhawatiran lain jika ternyata dia lolos di pilihan yang lain yang yaa…ada alasan khusus aku mengkhawatirkan pilihan itu. Sungguh, hanya harap kepada Allah yang jadi tumpuan kepercayaan. Bagaimanapun cara-Nya, aku tahu Dia Maha Mengatur segala urusan, Dia pasti tahu cara-Nya yang terbaik.

Alhamdulillaah. Satu tanya terjawab sudah. Ada misi di balik jawaban ini yang menunggu untuk dieksekusi. Lagi-lagi, hanya kepada Allah segala harap dikembalikan. Berharap Allah mampukan mewujudkan setiap tekad yang telah dibulatkan. Mohon do’akan semoga Allah mampukan adikku untuk menjalankan amanahnya dengan baik. Do’akan juga semoga ini menjadi jalan baginya untuk menebar manfaat bagi umat.

 

Jika Orang-Orang Terkasih (Satu per Satu) ‘Pulang’ Lebih Dulu

Bismillaah..

Sebenarnya sudah sejak beberapa waktu lalu ingin mengeluarkan uneg-uneg ini. Sebelumnya, sering merenung gimana kalau waktuku di dunia ini tinggal sebentar. Egoisnya aku, aku lebih sering mikirin diri sendiri: aku tak pernah memikirkan bagaimana perasaan mereka jika aku ‘pulang’ lebih dulu. Sampai akhirnya ada beberapa hal yang membuatku berpikir bagaimana jika mereka–orang-orang terkasihku–yang lebih dulu ‘pulang’. Puncaknya hari Sabtu kemarin, ketika aku mendapat dua kabar lelayu: satu adalah tetangga desa dan satunya lagi adalah salah satu guru terbaikku di SMP.

Entah sudah berapa kali aku membaca buku yang di dalamnya ada saja kisah berpulangnya orang(-orang) terkasih lebih dulu. Aku pun mulai merenung bagaimana aku nanti jika hal itu terjadi padaku: ditinggal ‘pulang’ lebih dulu. Tentu saja, rasa sedih adalah hal yang manusiawi. Bahkan, ketika Rasulullaah saw. menangis menitikkan air mata ketika putra tercintanya Ibrahim yang masih kecil ‘pulang’ lebih dulu ditanya oleh sahabat ra. mengapa Beliau menangis, Beliau menjawab bahwa air mata itu adalah bentuk kasih sayang.

“Sungguh air mata mengalir dan hati bersedih, akan tetapi kita tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kita, dan sungguh kami merasa sedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari <http://bersamadakwah.net/ibrahim-kepergiannya-ditangisi-nabi-bagian-2/>

Nabi SAW bersabda, “Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku  sekarang adalah pengaruh cinta kasih di dalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayang, maka orang lain pun tidak akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.”

Dari <https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/01/06/lxdfc6-sejarah-hidup-muhammad-saw-kematian-ibrahim-putra-terkasih>

Allah berfirman

ﻭَﻟَﻨَﺒْﻠُﻮَﻧَّﻜُﻢْ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻮْﻑِ ﻭَﺍﻟْﺠُﻮﻉِ ﻭَﻧَﻘْﺺٍ ﻣِﻦَ ﺍﻷﻣْﻮَﺍﻝِ ﻭَﺍﻷﻧْﻔُﺲِ ﻭَﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﻭَﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِﻳﻦَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan.” (QS Al-Baqarah : 155)

Syaikh As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan yaitu jiwa orang yang dicintai termasuk anak, beliau berkata:

 ﻭَﺍﻷﻧْﻔُﺲِ  ﺃَﻱْ: ﺫَﻫَﺎﺏُ ﺍﻷَﺣْﺒَﺎﺏِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻭْﻻَﺩِ، ﻭَﺍﻷَﻗَﺎﺭِﺏِ، ﻭَﺍﻷَﺻْﺤَﺎﺏِ

” (Dan jiwa) yaitu dengan perginya orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, kerabat, maupun sahabat” (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal. 155)

Dari <https://muslimafiyah.com/mengambil-hikmah-dari-kisah-meninggalnya-ibrahim-putra-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html>

Mungkin aku jarang memperlihatkan tangisku di hadapan mereka, saat mereka masih ada. Namun, akankah aku (tetap) bisa tegar saat ‘kepulangan’ mereka? Entahlah, aku tak tahu dan tak ingin menerka-nerka.

Mungkin aku sering pura-pura tak peduli, cuek. Namun, sungguh ada yang tak mampu kuungkapkan pada mereka dan Allah yang paling tahu apa itu. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka dan Allah lah sebaik-baik Pemberi. Maka, aku hanya mengharapkan-Nya untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, entah melalui perantaraku atau perantara orang lain.

IMG-20180325-WA0000.jpg

Harap itu masih ada dan akan terus menyala, in syaa Allah. Perpisahan di dunia adalah sebuah keniscayaan, tapi sungguh aku berharap perpisahan itu benar-benar hanya terjadi di dunia. Harapku, semoga perahu cinta yang terbangun atas izin-Nya dapat berlabuh kelak di syurga-Nya. Terkhusus Bapak Ibu, aku masih berharap bisa melihat mereka bermain bersama cucu kandungnya dan juga masih berupaya mencari jalan agar mahkota dan jubah itu benar-benar mereka kenakan nanti (sekalipun aku tak tahu jalan mana yang harus kutempuh). Aku yakin Allah akan membenarkan hamba-Nya jika jujur, maka tugasku adalah (menjaga agar tetap) jujur dengan harapanku.

Semoga Allah kabulkan dan semesta pun turut meng-aamiin-kan.

Satu Kata untuk Solo Bivak: Unforgettable (part 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sore itu, Sabtu, 21 April 2015, sekitar 20 orang peserta SCI#6 sudah berkumpul di Buper Babarsari. Kami diminta duduk melingkar dengan barang bawaan kami masing-masing. Instruksi pertama diberikan: periksa kembali semua perlengkapan yang diminta untuk dibawa! Masing-masing kami pun sibuk memeriksa barang bawaan kami. Intruksi selanjutnya pun segera diberikan: dompet dan semua alat komunikasi (hp, dll) dikumpulkan! Oke..kami pun segera menuruti apa yang diintruksikan panitia.

Hingga kemudian kejutan pertama itu diberikan pada intruksi selanjutnya: lilin, korek api, dan senter (yang termasuk daftar wajib barang bawaan) dikumpulkan! Oh my God, ini ngapain disuruh bawa kalau dikumpulin juga coba? Ternyata kejutan berikutnya segera menyusul: semua makanan dan minuman yang dibawa dikumpulkan! Ya Allah, bekel yang cuma buat ganjel perut itu pun disuruh ngumpulin juga. Macem mana pula nih… >< Emang sih makanan dan minuman bukan barang bawaan wajib, tapi ‘kan kami juga mikir yak buat antisipasi kalau kelaparan di malam hari.

Syukurnya, kami masih boleh memakan bekal kami sebelum pelaksanaan bivak (yap, ini belum mulai, Bro! Baru persiapan). Alhamdulillaah juga, panitia baik hati membagikan dua bungkus roti dan empat gelas air mineral untuk masing-masing kami. Korek api pun akhirnya dibagikan kembali dan lilin dibagikan secara merata (karena ukuran lilin yang kami bawa beda-beda) masing-masing dua: satu kecil dan satu sedang (ada juga yang besaran dikit kayaknya).  Sayangnya, senter kami tidak ikut dikembalikan, Bung! “Sama rata sama rasa nih ceritanya”, batinku. Baiklah, sudah sedikit terbayang lah ya semalaman nanti hanya mengandalkan penerangan dari dua lilin dan korek api.

Dengan sisa-sisa keprasahan kami atas ‘perampasan’ tadi, kami tetap khusyuk mendengarkan briefing dari panitia. Sempat juga ada yang bertanya, “nanti kalau mau shalat gimana nentuin arah kiblatnya, Teh?” dan dijawablah oleh Teh Deri dengan “kan bisa lihat rasi bintang di langit, masih inget kan pelajaran rasi bintang?”. Alamak, pelajaran apalagi itu? Udah lupa blasss. Dalam hati cuma bisa ngomong pasrah, “Ya udah lah ya liat nanti aja, toh kalau ga tau arah, ngadep aja ke mana pun itu, Allah Mahatahu keadaan kita.”

Briefing pun dilanjutkan oleh Pak Harmin selaku pemandu acara Solo Bivak ini. Beliau kembali mengulangi penjelasan tentang SOP kegiatan alam mulai dari membuat perapian hingga bagaimana kami mesti bersikap dan terus selalu berdzikir. Beliau juga menambahkan penjelasan kode-kode peluit yang akan dipakai untuk memulai dan mengakhiri Solo Bivak serta kode peluit tanda bahaya. Briefing pun diakhiri dengan bisik-bisik tetangga per kelompok untuk memberitahukan kata sandi yang dipakai dalam kegiatan ini untuk mengantisipasi kedatangan orang-orang atau sosok di luar tim SCI. Oh ya, kami juga diminta untuk berhitung agar bisa ketahuan jika nanti ada ‘penyusup’ (bukan malah khawatir berkurang, tapi khawatir nambah :3).

Selesai briefing, waktu pun sudah mulai mendekati Maghrib dan kami diminta untuk baris per kelompok. Masing-masing kami diminta untuk menutup mata dengan slayer sampai tidak terlihat apa-apa. Kami dilarang membuka slayer kami sampai kami mendengar peluit tanda Solo Bivak dimulai. Lalu, masing-masing anggota kelompok kemudian saling bergandengan tangan atau pundak atau tas atau apapun milik anggota lainnya dan dipandu oleh fasilitator kelompok. Kami pun mulai dituntun menapaki anak tangga kehidupan untuk turun ke hutan. Yak, HUTAN. Tidak salah lagi.

masuk hutan - solo bivak.jpeg

Satu per satu dari kami pun harus melepaskan peganganhidupnya dan ditempatkan di spot kami masing-masing. Suara rintik hujan perlahan terdengar menerobos rimbun pepohonan sambil sesekali diiringi suara gemerusuk orang menerabas semak belukar. Suara yang semakin lama semakin menjauh. “Ah, aku ditinggal di hutan sekarang, sendirian. Entah di mana teman-temanku yang lain ditempatkan”. Saat itu yang teringat hanya “terus dzikir, jangan sampai kosong. Jangan buka slayer sebelum kedengeran peluit”. Rasanya tak sabar hati ingin segera melihat keadaan sekeliling.

Tak lama kemudian, adzan Maghrib pun berkumandang. Ada rasa syukur menelusup dalam hati. Namun, masih ada yang mengusik hati, “sudah Maghrib, tapi kok peluitnya belum kedengeran ya? Gimana nih?”. “Ya udah tunggu dulu aja deh, bentar lagi paling”, suara hati yang lain menenangkan. Beberapa waktu kemudian, saat gigitan dan suara merdu nyamuk sudah semakin terasa (mengganggu), rasa gelisah itu kembali muncul, “kapan nih peluitnya? kok belum kedengeran juga? apa kupingku yang bermasalah? mesti pasang kuping bener-bener nih”. Akhirnya, sayup terdengar seperti suara peluit, tapi bukan peluit tanda mulai. Tidak lama setelah itu, terdengar lagi sayup (seperti) suara peluit panjang sekali. “Ini peluit panjang bener? udah gitu kok pelan banget ya suaranya? bener ga ya peluit tanda mulai?”, gumamku dalam hati. Akhirnya, aku pun mengambil kesimpulan itu peluit tanda mulai dan segera kubuka slayer yang menutup mata dan TARAAA…

 

(bersambung…)

Melatih Tajwid Dalam 5 Langkah — Nouman Ali Khan Indonesia

Bismillaah.

Ini menarik dan memang betul begitu adanya. Cobalah. Kita belum akan tau rasa nikmatnya belajar tajwid sebelum menikmati semua prosesnya. 🙂

Belajar tajwid mahal? NO. Kalaupun bayar, itu investasi kita demi menyelamatkan diri dari kekeliruan membaca Quran yang bisa mengubah arti ayat yang salah dibaca. Belum lagi kalau sudah sampai lancar membaca dan bisa mengajarkannya ke orang lain. Ah, investasi di awal itu jadi kecil, sangat amat kecil sekali dibanding manfaat yang didapat.

Belajar tajwid susah? Ah, itu mindset saja. Susah itu biasanya kalau kita ga mau sabar dalam prosesnya. Belajar itu butuh proses, Kawan. Tidak ujug-ujug langsung bisa. Satu lagi, tahukah Kawan bahwa Allah menjanjikan dua pahala bagi mereka yang membaca Quran dalam kesusahan saat berusaha membacanya: satu pahala untuk usaha (belajar) membacanya dan satu pahala lagi untuk kesusahan yang dirasakan. Luar biasa, bukan?

Tidak ada waktu untuk belajar tajwid? Ayolah, kita punya waktu 7×24 jam dalam sepekan masa tidak ada waktu sejam-dua jam belajar Quran (tajwid)? Waktu sebanyak itu untuk apa saja? Percayalah, mendapati sejam-dua jam dalam sepekan untuk belajar Quran itu ibarat menemukan oase di tengah gersangnya gurun pasir. Ga percaya? Cobalah dulu. Jangan bilang ngga percaya sebelum mencobanya. 😉

Masih ada alasan lain? Well, bolehlah kita diskusikan. 🙂

Bismillah. Segala puji syukur adalah karena Allah subhanahu wa ta’ala. Salam berlimpah bagi-Nya dan shallallahu alaihi wa sallam kekasih kita. Tajwid buruk, terutama (belajar) dari shuyukh (Sheikh) pemarah / belajar dari orang yang pemarah – itu hal yang mengesalkan saya. Saya rasa di dunia ini tidak ada alasan untuk tidak berusaha meningkatkan sebaik-baiknya mengenai cara […]

via Melatih Tajwid Dalam 5 Langkah — Nouman Ali Khan Indonesia