Kepada Ia yang … (1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Kepada ia yang meneguhkan keyakinan diri akan terwujudnya (sebuah) mimpi
Kepada ia yang atas izin Allah mampu membuat diri mencari pembenaran akan dapat terwujudnya (sebuah) mimpi, meski banyak orang menyangsikannya
Ya, pembenaran yang menguatkan keyakinan diri, bukan pembenaran kosong tanpa realisasi

Kepada ia yang membuatku terpaksa (berpura-pura) bersikap sama seperti pada selainnya
Kepada ia yang kulihat ada potensi besar dalam dirinya
Kepada ia yang tak ‘kan pernah kuizinkan membuatku mena(han ta)ngis (haru) sebagaimana ayahku melakukannya sekalipun mampu membuatku tersenyum atau tertawa sebagaimana ayahku melakukannya (untuk saat ini)

Kusampaikan keberuntunganku yang patut kusyukuri saat ini, yakni ketika Allah masih berkenan untuk mencegah setiap kesempatan yang datang itu termanfaatkan dalam ketidaksiapan. 🙂

Advertisements

Selintas Memori

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Biidznillaah, malam ini diberi kesempatan untuk membuka slide materi kuliah dan belajar untuk besok. Jarang-jarang ada kesempatan begini di hari-hari selain di pekan ujian. Memang besok ada kuis sih.. Sama aja ya? Enggak, beda deh. Beneran. Sebuah kenikmatan tersendiri bisa melek untuk membuka dan membaca slide materi kuliah malam-malam begini, terutama saat mau kuis. Nikmat yang amat sangat kalau bisa begini walaupun ga lagi mau kuis. :3

Ah ya, itu baru intro. Jadi begini ceritanya kawan, saya tetiba teringat masa-masa (dulu) saat ujian ada di depan mata. Bersiap dengan slide-slide materi kuliah yang diujikan. Men-download dan ngumpulkan semua slide materi kuliah sampai lengkap. Intinya, bersiap untuk berperang. Nah, ada satu hal (ciri khas) saya ketika tiba masa-masa membuka dan belajar dari slide saat itu. Beginilah kelaluan saya:

Sering banget liat nomor halaman di slide untuk memeriksa sedang berada di halaman berapa kah saya dari total halaman slide yang sedang saya baca. Lalu, beranjak memeriksa sedang berada di bab ke berapa dari total bab matakuliah yang sedang saya pelajari. Kemudian hitung mundur. Dari sekian bab dan halaman yang sudah dibaca, sudah berapa waktu yang dihabiskan? Kemudian saya mulai mencoba memprediksikan. Kira-kira, butuh berapa waktu lagi ya untuk menghabiskannya? Kira-kira, waktu yang tersisa untuk belajar materi ini masih cukup tidak ya? Bagaimana strategi agar waktunya cukup? Apa yang sebaiknya saya lakukan?

Apakah kawan ada yang mempunyai ciri khas yang sama dengan saya? Sungguh, ini salah satu kenakalan yang harus saya berdayakan. Kalau strategi yang saya lakukan bagus, biasanya hasilnya sesuai. Tapi kalau tidak saya tangani (potensi masalah yang bisa menghambat belajar saya) dengan baik, hasilnya akan seadanya. Tentu, usaha dan strateginya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan diri, tapi juga memohon pertolongan dari yang Maha Mengabulkan Do’a hamba-Nya yang berdo’a. Karena itu, saya sangat bersyukur dan beruntung jika saat saya (harus) berhadapan dengan slide materi kuliah, kondisi saya sedang ON. Kalau tidak begitu, oh bahaya. Terancam malas dan mengantuk. Selamat belajar, Kawan. Semoga Allah rida. Aamiin.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.. ilaa mardhaatillaah 🙂

Sambil mengamat…

Sambil mengamati sedikit jejak seseorang…
A: Beruntungnya kamu..
B: Ehh, kau juga beruntung tau, bersyukurlah..
A: tapiii, aku senang dengan (sikap/perlakuan) orang-orang dekatnya padanya
B: hmm, mungkin bukan berarti orang-orang dekatmu tidak lebih baik dari mereka, mungkin kau saja yang belum membuka mata atau belum memberi mereka kesempatan untuk berlaku demikian (baik seperti inginmu) padamu
A: mungkin, tapiiii, ah entahlah, aku mungkin tak mendapatkannya, tapi aku akan berusaha memberikannya, insyaAllah
B: ya, begitu lebih baik. Tetaplah bersyukur. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13) Ingat, pahami, dan terapkan prinsip ini: “Memberilah dulu tanpa menunggu menerima. Jika kau merasa tak mendapatkan sesuatu hal (yang kau inginkan), itu artinya kaulah yang mesti memberinya. Biar orang lain yang mendapatkannya darimu. Ok? 😀 Senyum dong…
A: yaa, oke, insyaAllah 🙂

Dan (ingatlah j…

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim ayat 7)

Ya, lagi-lagi diingatkan untuk jangan menunggu diberi karena pasti kau akan mudah kecewa. Jadilah si pemberi itu. Benar, rasa iri itu ada, tapi tak bolehkah kujadikan rasa itu sebagai pemicu untukku berbuat sebagaimana orang yang perbuatannya kusenangi/kuingini?

Maka renungkan dan tanamkan ini dalam dirimu:

Jika kau tidak mendapatkannya(apa yang kauharap kau mendapatkannya), maka biarkan orang lain yang mendapatkan itu darimu. Semangat berbagi. Semangat memberi, tanpa menunggu diberi. Sesungguhnya pemberian Allah itu lebih dari cukup. Bersyukurlah.

🙂

Aku tak tahu sampai kapan…

Aku tak tahu sampai kapan gambar-gambar itu menjadi koleksi diam. Padahal, semakin lama bilangan jumlahnya semakin bertambah (rata-rata bertambah, walau terkadang ada ‘eksekusi’ kalau sempat). Apalagi kalau dapat event bagus dan spot asyik bin menarik. Dihapus? Sayang, perlu pilih-pilih dulu dong ya. Dicetak? Go green, Nak (maksudnya mahal gitu, mahal dampak dan pengeluarannya tentu saja).
Suatu waktu pun sempat terpikir, ‘asyik kali ya punya gallery sendiri?’. Hehehe, yaa walaupun diri sendiri saja yang bisa menikmatinya dengan ‘full of sense’ mungkin. Di sisi lain, perlu nyetak dulu, tidak go green dong (alasan lagi). Okelah, mungkin bisa masuk daftar atau hanya numpang lewat saja (harapannya sih semoga masuk daftar).
Mungkin hasilnya tak sebagus, semenarik, dan persis sama layaknya mata memandang langsung, tapi lumayanlah. Harusnya disyukuri memang bagi yang dapat melihat dengan mata langsung dan masih normal matanya. Karena itu, mesti dijaga juga itu mata dari pemandangan ‘merusak’. Lebih enak melihat dan menikmati lukisan alam dan segala keagungan-Nya bukan?gambar, foto, gallery, mimpi, bersyukur, lukisan-Nya

Ada tak hingga banyak lukisan-Nya yang begitu menarik, indah, dan sedap dipandang mata. Ingin sekali kuabadikan dalam suatu tempat di mana di sana aku bisa menjadikannya salah satu tempat refleksi dan tempat untuk mengembalikan atau menambah kesyukuranku lebih dan lebih. Mungkin hanya mimpi untuk saat ini, tapi entah untuk suatu saat nanti. Jika dia mengizinkan, ‘jadilah! Maka jadilah ia’. Mudah, bukan?

Jadi, kepada lagi kau akan meminta dan berharap, Nak? 🙂