Satu Kata untuk Solo Bivak: Unforgettable (part 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sore itu, Sabtu, 21 April 2015, sekitar 20 orang peserta SCI#6 sudah berkumpul di Buper Babarsari. Kami diminta duduk melingkar dengan barang bawaan kami masing-masing. Instruksi pertama diberikan: periksa kembali semua perlengkapan yang diminta untuk dibawa! Masing-masing kami pun sibuk memeriksa barang bawaan kami. Intruksi selanjutnya pun segera diberikan: dompet dan semua alat komunikasi (hp, dll) dikumpulkan! Oke..kami pun segera menuruti apa yang diintruksikan panitia.

Hingga kemudian kejutan pertama itu diberikan pada intruksi selanjutnya: lilin, korek api, dan senter (yang termasuk daftar wajib barang bawaan) dikumpulkan! Oh my God, ini ngapain disuruh bawa kalau dikumpulin juga coba? Ternyata kejutan berikutnya segera menyusul: semua makanan dan minuman yang dibawa dikumpulkan! Ya Allah, bekel yang cuma buat ganjel perut itu pun disuruh ngumpulin juga. Macem mana pula nih… >< Emang sih makanan dan minuman bukan barang bawaan wajib, tapi ‘kan kami juga mikir yak buat antisipasi kalau kelaparan di malam hari.

Syukurnya, kami masih boleh memakan bekal kami sebelum pelaksanaan bivak (yap, ini belum mulai, Bro! Baru persiapan). Alhamdulillaah juga, panitia baik hati membagikan dua bungkus roti dan empat gelas air mineral untuk masing-masing kami. Korek api pun akhirnya dibagikan kembali dan lilin dibagikan secara merata (karena ukuran lilin yang kami bawa beda-beda) masing-masing dua: satu kecil dan satu sedang (ada juga yang besaran dikit kayaknya).  Sayangnya, senter kami tidak ikut dikembalikan, Bung! “Sama rata sama rasa nih ceritanya”, batinku. Baiklah, sudah sedikit terbayang lah ya semalaman nanti hanya mengandalkan penerangan dari dua lilin dan korek api.

Dengan sisa-sisa keprasahan kami atas ‘perampasan’ tadi, kami tetap khusyuk mendengarkan briefing dari panitia. Sempat juga ada yang bertanya, “nanti kalau mau shalat gimana nentuin arah kiblatnya, Teh?” dan dijawablah oleh Teh Deri dengan “kan bisa lihat rasi bintang di langit, masih inget kan pelajaran rasi bintang?”. Alamak, pelajaran apalagi itu? Udah lupa blasss. Dalam hati cuma bisa ngomong pasrah, “Ya udah lah ya liat nanti aja, toh kalau ga tau arah, ngadep aja ke mana pun itu, Allah Mahatahu keadaan kita.”

Briefing pun dilanjutkan oleh Pak Harmin selaku pemandu acara Solo Bivak ini. Beliau kembali mengulangi penjelasan tentang SOP kegiatan alam mulai dari membuat perapian hingga bagaimana kami mesti bersikap dan terus selalu berdzikir. Beliau juga menambahkan penjelasan kode-kode peluit yang akan dipakai untuk memulai dan mengakhiri Solo Bivak serta kode peluit tanda bahaya. Briefing pun diakhiri dengan bisik-bisik tetangga per kelompok untuk memberitahukan kata sandi yang dipakai dalam kegiatan ini untuk mengantisipasi kedatangan orang-orang atau sosok di luar tim SCI. Oh ya, kami juga diminta untuk berhitung agar bisa ketahuan jika nanti ada ‘penyusup’ (bukan malah khawatir berkurang, tapi khawatir nambah :3).

Selesai briefing, waktu pun sudah mulai mendekati Maghrib dan kami diminta untuk baris per kelompok. Masing-masing kami diminta untuk menutup mata dengan slayer sampai tidak terlihat apa-apa. Kami dilarang membuka slayer kami sampai kami mendengar peluit tanda Solo Bivak dimulai. Lalu, masing-masing anggota kelompok kemudian saling bergandengan tangan atau pundak atau tas atau apapun milik anggota lainnya dan dipandu oleh fasilitator kelompok. Kami pun mulai dituntun menapaki anak tangga kehidupan untuk turun ke hutan. Yak, HUTAN. Tidak salah lagi.

masuk hutan - solo bivak.jpeg

Satu per satu dari kami pun harus melepaskan peganganhidupnya dan ditempatkan di spot kami masing-masing. Suara rintik hujan perlahan terdengar menerobos rimbun pepohonan sambil sesekali diiringi suara gemerusuk orang menerabas semak belukar. Suara yang semakin lama semakin menjauh. “Ah, aku ditinggal di hutan sekarang, sendirian. Entah di mana teman-temanku yang lain ditempatkan”. Saat itu yang teringat hanya “terus dzikir, jangan sampai kosong. Jangan buka slayer sebelum kedengeran peluit”. Rasanya tak sabar hati ingin segera melihat keadaan sekeliling.

Tak lama kemudian, adzan Maghrib pun berkumandang. Ada rasa syukur menelusup dalam hati. Namun, masih ada yang mengusik hati, “sudah Maghrib, tapi kok peluitnya belum kedengeran ya? Gimana nih?”. “Ya udah tunggu dulu aja deh, bentar lagi paling”, suara hati yang lain menenangkan. Beberapa waktu kemudian, saat gigitan dan suara merdu nyamuk sudah semakin terasa (mengganggu), rasa gelisah itu kembali muncul, “kapan nih peluitnya? kok belum kedengeran juga? apa kupingku yang bermasalah? mesti pasang kuping bener-bener nih”. Akhirnya, sayup terdengar seperti suara peluit, tapi bukan peluit tanda mulai. Tidak lama setelah itu, terdengar lagi sayup (seperti) suara peluit panjang sekali. “Ini peluit panjang bener? udah gitu kok pelan banget ya suaranya? bener ga ya peluit tanda mulai?”, gumamku dalam hati. Akhirnya, aku pun mengambil kesimpulan itu peluit tanda mulai dan segera kubuka slayer yang menutup mata dan TARAAA…

 

(bersambung…)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s