Tentang Do’a: Mintakan Saja Semua Hajat Kita pada-Nya

Bismillaah…

Sudah bukan waktunya lagi untuk merasa malu berdo’a kepada Allah. Sebab, Kita berdo’a bukan karena kita bebas dosa, sehingga kita (berpikir) pantas berdo’a (karena tidak merasa malu tersebab bebas dosa). Kita berdo’a justru karena kita tidak bebas dari dosa. Malu meminta karena banyak dosa? Basi! Hehe… Kasar ya? Lagipula, kalau sadar banyak dosa, bukannya kita butuh taubat? Bertaubat itu kan–selain menyesali dan berusaha tidak mengulangi dosa yang pernah diperbuat–juga (di antaranya) berdo’a agar dosa kita diampuni dan dihapuskan ‘kan? Begitu banyaknya janji Allah yang tertuang dalam kalam-Nya untuk menghapus kesalahan hamba-Nya, tapi tetap dengan syarat-syarat tertentu. Mau tau syaratnya? Yuk kita buka-buka lagi Al Quran kita. 🙂

Balik lagi menyoal berdo’a. Pernah denger ga ada nasihat gini kira-kira: “kalau kita untuk hal yang sepele saja (merasa butuh) meminta ke Allah (dengan berdo’a), maka untuk hal yang jauh lebih besar (logikanya ya :D) kita akan berdo’a lebih kenceng”. Ya ga? Allah pun sangat senang hamba-Nya bersimpuh meminta (berdo’a) pada-Nya. Allah bahkan berjanji kepada siapa saja dari hamba-Nya yang (mau) berdo’a kepada-Nya (yuk buka lagi Quran-nya surat Al Baqarah ayat 186. Bahkan, dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa Allah malu jika mengabaikan (do’a) orang yang mengangkat tangannya (untuk berdo’a kepada-Nya).

Nah, sebelum itu, ada nih yang perlu diperhatikan–selain janji Allah untuk mengabulkan do’a hamba-Nya–yang ngaruh banget sama terkabul atau tidaknya do’a kita. Pernah denger kan ada beberapa waktu yang mustajab buat berdo’a? Misalnya waktu sepertiga malam (bahkan do’a di waktu ini diibaratkan seperti anak panah yang tidak akan melesat dari sasaran! Maa syaa Allah laa quwwata illaa billaah), waktu hujan, safar (bepergian), waktu tertentu di hari Jumat (saat shalat Jumat atau sehabis Ashar), dan silakan cari sendiri yang lainnya :D. Selain waktu, ada juga tempat-tempat yang mustajab buat berdo’a (cari sendiri saja ya :p).

Nah, selain waktu dan tempat yang mustajab, ada juga orang-orang yang Allah berikan karunia setiap pinta do’anya mustajab, salah satunya adalah orang terdekat dan paling banyak berkorban dalam kehidupan kita: ibu. Setiap kata yang terlontar dari lisannya (untuk anaknya) seketika mengangkasa menjelma jadi do’a dan (dalam sebuah hadits)  disebutkan tidak diragukan pengabulannya. Bagi yang sudah jadi ibu, bisa jadi ini adalah ujian untuk mengatur setiap kata yang keluar dari lisannya. Bagi yang masih Allah titipkan ibu di sisinya (belum Allah panggil ke hadirat-Nya), ini adalah kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan karena kita masih punya ‘jimat’ hidup. Betapa Allah sangat memuliakan seorang ibu bahkan sampai di sebutkan bahwa syurga ada di telapak kaki ibu!

Ada satu lagi nih yang juga penting buat jadi perhatian kalau mau do’anya makbul: menjaga makanan. Pernah denger cerita seorang sahabat Rasulullaah saw. yang meminta kepada Rasulullaah saw. agar mendo’akan setiap do’anya mustajab? Kita sendiri tau kan kalau Rasulullaah saw. itu do’anya juga mustajab, maka pasti beruntunglah orang-orang yang didoakan kebaikan oleh Beliau saw. Seneng ya kalau kita bisa gitu, tapi beruntungnya peluang makbulnya do’a sudah disediakan Allah sebegitu banyaknya (udah disebutin beberapa kan sebelumnya? :D). Eh lanjut tentang cerita sahabat ra. ini, namanya Sa’ad bin Abi Waqqash. Rasulullaah saw. pun mengiyakan permintaan Sa’ad ini dengan memintanya untuk membantunya (agar dikabulkan doanya) dengan menjaga makanan (dengan hanya makan yang halal).

Yak, terakhir, menyoal berdo’a–sadar atau tidak, sebagai sebagai seorang muslim–kita  ‘dipaksa’ Allah mengulangi do’a-do’a yang sama setidaknya lima kali sehari melalui syariat-Nya: shalat. ‘Paksaan’ yang indah bukan? Tahukah kita bahwa arti shalat secara bahasa adalah do’a? Kenyataannya, bacaan-bacaan dalam shalat memang berisi bermacam pinta do’a kebaikan kepada-Nya. Menariknya, surat Al Fatihah menjadi salah satu bacaan wajib dalam shalat di mana di dalamnya (isi suratnya), Allah seperti mengajarkan kita (salah satu) etika berdoa: (dimulai dengan) bersyukur kepada Allah, lalu dilanjutkan dengan pujian dan pengakuan akan keagungan serta kuasa-Nya; dan barulah kemudian (ditutup) dengan do’a (tentang hajat kita).

Yang tidak kalah menarik–dalam shalat–saat ketika Al Fatihah dibaca, sebenarnya Allah menjawab setiap ayat yang kita baca.  Jadi semacam percakapan dua arah gitu. Siapa coba yang ga seneng kalau apa yang dia bicarakan ditanggapi sama lawan bicaranya a.k.a ga dicuekin gitu? Nah, di saat kita baca Al Fatihah ini seolah-olah kita sedang berhadapan dan berbicara langsung dengan Allah dan seketika (setiap kalimat) langsung ditanggapi-Nya. Indah kan? Nah, bayangin aja setiap berdo’a apapun ke Allah kayak kita lagi ngobrol langsung ke Allah, ngerayu Allah gitu deh :D. Kita mintakan semua hajat kita ke Allah. Tentu, dengan memperhatikan beberapa hal yang sudah dibahas di atas juga ya (dan mungkin ada hal terkait lain yang terlewat :D). 🙂

*PS: Ada peringatan bagi orang yang enggan berdo’a kepada Allah (karena merasa cukup dengan diri sendiri), yaitu digolongkan sebagai orang yang sombong. Jadi, teruslah merasa butuh kepada-Nya ya? Sebab memang kita tak punya apa-apa kecuali semua itu adalah pemberian dari-Nya. 🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s