What For?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

What for?”
“Percuma!”
Kira-kira dua frasa itu yang dominan mewakili tanggapan atas rencanaku di obrolan tak direncanakan siang tadi. Well, aku sama sekali tidak ingin membicarakan rencanaku ini awalnya, tapi seperti mendapat trigger juga akhirnya aku ‘terpaksa’ membicarakannya. Surprise juga ketika tanggapannya tidak seperti tanggapan orang-orang yang sudah lebih dahulu kuberitahu. Tanggapan ini yang sedari awal sudah kuantisipasi sebelum mulai menceritakan rencanaku ke orang-orang terdekat yang ternyata mereka tidak mengeluarkan sepatah kata ‘penentangan’ atau ‘penolakan’ pun atas rencanaku ini. Tak disangka, ‘penentangan’ itu justru datang dari orang yang belum lama kukenal dan dalam situasi yang tidak direncanakan. Ah ya, barangkali karena mereka–orang-orang terdekat yang sudah kuceritakan terlebih dulu–lebih mengenal diriku.

Lalu, apakah aku bimbang (lagi)? Jujur saja, aku hanya mendengarkan sambil senyam-senyum saja. Aku tidak mau menutup mata dan telinga total, tapi aku juga tidak mau begitu saja terpengaruh. Well, sepertinya ini memang teguran dari Allah agar aku merapatkan diri lagi kepada-Nya. Teguran agar aku kembali melibatkan-Nya dalam setiap urusanku. Banyak hal positif dan masukan atau bisa juga dibilang ‘tamparan keras’ dari obrolan tadi, tapi ada hal-hal yang (harus) aku filter dengan prinsip dan nilai-nilai yang kupegang. Ya, setidaknya, lewat obrolan tadi, Allah kembali menegurku untuk menguatkan dan meluruskan niatku. Terutama, ketika nanti tiba waktunya eksekusi, agar aku tetap memegang kuat niatku.

Lagi-lagi, setiap pilihan ada konsekuensinya. Satu paket lah. Tinggal bagaimana menjalani setiap pilihan yang diambil. Apakah melibatkan Allah atau tidak? Apakah menjadikan diri lebih dekat ke Allah atau tidak? Apakah manfaatnya akan dirasakan  (banyak) orang lain atau hanya menguntungkan diri sendiri? Kali ini, aku memilih untuk tidak berjalan (atau bahkan berlari) sendirian, meskipun itu akan mengantarkanku lebih cepat sampai ke tujuan. Kali ini, aku memilih untuk berjalan beriringan, bersama-sama, dan saling bergandengan tangan demi mencapai tujuan yang lebih jauh, walaupun tidak akan lebih cepat dibandingkan jika berjalan sendiri.

Aku hanya perlu menjaga, adakah dalam setiap langkahku ada Dia?
Aku hanya perlu menjaga, adakah setiap langkahku disukai-Nya?
Aku hanya perlu menjaga, adakah muara dari setiap langkahku adalah Dia?

Semoga Allah selalu menuntun jalanku. Sungguh, tanpa taufik-Nya, tidak mampu aku berbuat kebaikan. Tanpa petunjuk-Nya, tidak mampu aku memilih jalan mana yang harus aku tempuh agar tetap berada di jalan-Nya.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s