Lepaskanlah…

Bismillaah…

Lima hari lalu, sungguh tidak terbayangkan jika kemudian memilih (akan) mengambil keputusan ini. Merencanakannya pun tidak. Membayangkannya? Apalagi. Sungguh, hanya dalam hitungan hari, tidak sampai sepekan, setelah mendapatkan chat dari seorang kakak–yang pernah sangat dekat secara lahir dan batin walaupun beda rahim– spontan saja terpikir untuk merencanakan hal ini. Rencana yang tidak mudah. Pilihan yang dilematis.

Sungguh, belum ada bayangan untuk menjauh dari hiruk pikuk rutinitas keseharian yang telah lama melekat. Pun, belum ada bayangan untuk memulai kembali segala sesuatu dari awal. Walau mungkin tidak semuanya asing dan baru, apa yang telah dibangun sampai saat ini–di sini–mau tidak mau harus ditinggalkan. Namun, bukankah segala sesuatu di dunia ini juga pasti akan ditinggalkan? Ah, rupanya aku (masih sering) terlupa. Barangkali ini sebagai latihan untuk melepaskan hati dari keterikatan terhadap selain-Nya.

Jujur saja, ini tidak mudah. Ringan juga tidak. Walau begitu, niat itu sudah ada dan (hampir selesai) tersampaikan. Tinggal menunggu kesempatan untuk tiba waktunya mengeksekusi. Tentu, setiap pilihan memiliki konsekuensi, tinggal konsekuensi mana yang kita pilih untuk diambil. Konsekuensi yang mendekatkan diri pada-Nya (walaupun bukan jalan yang mudah dan penuh ‘bunga-bunga’ dunia) adalah yang kuharapkan (akan) selalu menjadi konsekuensi atas setiap pilihan yang kuambil.

Ada ketakutan dalam diri, juga kekhawatiran. Takut kehilangan, takut berat memulai lagi semuanya dari awal, dan ketakutan-ketakutan lain yang agak sulit digambarkan. Namun, kemarin setelah menyimak ceramah dari ustadz Abdul Shomad, saya belajar hal baru tentang rasa takut. Kata beliau, rasa takut itu harus dijaga karena rasa takut itu yang akan menjaga kita: menjaga untuk menjadi yang terbaik, berbuat yang terbaik, mengeluarkan potensi terbaik kita. Setelah sebelumnya beberapa kali saya banyak ditempa (atau lebih tepatnya ‘dipaksa’) agar berani, ternyata  berani tidak berarti meniadakan rasa takut. Keberanian adalah sahabat rasa takut. Rasa takut harus dijaga dan dikelola agar mendorong kita berbuat yang terbaik. Adapun keberanian harus dimiliki untuk menyibak segala halangan dan menaklukkan tantangan-tantangan selama dalam perjalanan meraih yang terbaik.

Tekad sudah terpatri dalam hati, selebihnya hanya dengan rasa tawakkal kepada Allah sajalah yang akan menyempurnakannya. Tawakkal yang seperti apa? Mengikhtiarkan apa-apa yang merupakan ranah ikhtiar kita sebagai manusia dan menyerahkan segala sesuatu yang merupakan ranah kuasa-Nya kepada Dia yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana: Allah. Sudah menjadi tugas kita untuk menjaga prasangka baik kita pada Allah. Akhirnya, saatnya diri untuk melepaskan kegundahan hati: bismillaah, faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaah. 

Wallaahu a’lam.

Hasbiyallaah wa laa hawla wa laa quwwata ilaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s