Bakar Kapal? Barangkali Sudah Saatnya!

Bismillaah..

Ketika diri dihadapkan dengan banyak pilihan, kadang tidak mudah mengambil keputusan. Atau, justru sebaliknya, mudah sekali menentukan jika di antara banyak pilihan itu ada yang terlihat menonjol kemudahan untuk menjalaninya. Kemudahan di sini relatif saja. Bisa juga soal kenyamanannya, minim risiko, dan segala ‘bunga-bunga’-nya. Namun sayangnya, pilihan termudah itu seringkali menjadi pilihan paling berisiko dalam jangka panjang nanti, jika sebenarnya kemudahan itu didapat dari pengabaian hal-hal kecil (yang dianggap sebagai) ‘pengganggu’ (sehingga merasa tidak perlu diberi perhatian). Padahal, bukankah yang kecil jika banyak akan terakumulasi jadi besar?

Selanjutnya apa? Barangkali saat diri mulai ‘terlena’ dan merasa nyaman dengan keadaan, sudah saatnya untuk ‘bakar kapal’. Ketika diri harus dihadapkan pada sebuah ‘peperangan besar’ (untuk mendapatkan kebebasan: merdeka), tetapi sebenarnya bisa saja ‘lari’ dari ‘peperangan’ itu karena masih ada pilihan lain yang ‘terasa’ lebih mudah apalagi jika ‘sudah nyaman’ (tapi sayangnya menjadikan diri ‘abai’ dan ‘terlena’), barangkali sudah saatnya untuk ‘membakar kapal’ yang menjanjikan kemudahan itu. Jalan kemudahan itu harus ‘dibakar’, agar tidak ada lagi alasan bagi diri untuk mundur atau bahkan lari dari ‘peperangan’. Apakah mudah? Kata siapa mudah? Hanya dengan pertolongan Allah, yang susah akan menjadi mudah. Hanya dengan pertolongan Allah pula, yang ‘terlihat’ tidak mungkin pun menjadi mungkin.

Image result for merdeka dalam islam

Barangkali, ini giliranku untuk ‘bakar kapal’. Mungkin jika dengan adanya ‘kapal(-kapal)’ itu diri ini mulai abai dengan kewajiban-kewajibannya, apalagi mulai tidak merasa butuh melibatkan-Nya, itu saatnya diri mencari jalan untuk kembali merasakan campur-tangan kuasa-Nya. Saat diri bebas dari bergantung pada makhluk dan hanya merasakan bahwa Allah sajalah tempat diri ini bergantung. Sungguh, kemerdekaan sesungguhnya adalah ketika diri bebas merdeka dari ketergantungan kepada makhluk dan bergantung penuh pada-Nya. Barangkali, kemerdekaan itu saat ini hanya bisa dilakukan dengan ‘bakar kapal’. Barangkali, ini adalah saatnya bagi diri ini untuk ‘membakar kapalnya’.

Hasbiyallaah wa ni’mal wakiil. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s