Dari pintu yang mana kami layak memasuki jannah-Nya?

“Saya begitu menyadari bahwa keluarga kami bukanlah keluarga yang melaksanakan ibadah dengan istimewa. Seandainya jalan pintas masuk surga terbuka lewat pintu shalat, kami merasa saat ini belum memiliki tiket istimewa untuk masuk melaluinya. Seandainya surga terbuka dari pintu puasa, kami pun merasa belum mampu untuk membeli tiket vip yang mengijinkan kami masuk melaluinya. Seandainya surga memanggil dari pintu sedekah, rasanya masih jauh bagi kami untuk ikut dalam rombongan yang menghampirinya. Dan saat ini pun kami belum mendapat giliran rezeki berangkat ke tanah suci, sebagai peluang memasuki surga melalui pahala haji mabrur. Maka teringat pesan nabi yang mengkisahkan sahabat yang menjadi ahli surga bukan karena amalannya yang istimewa namun karena kebiasaanya untuk mengikhlaskan kesalahan orang lain sebelum menutup hari diatas pembaringannya.” (Kiki Barkiah)

Maa syaa Allah, in syaa Allah pasti ada (setidaknya satu) jalan menuju jannah-Nya yang bisa kita pilih (yang bisa kita optimalkan) sekalipun begitu banyak ketidaksempurnaan di jalan lain :”)))

Kiki Barkiah

[dari buku 5 Guru Kecilku – Bagian 2]

Entah apa yang saat itu sedang dipermasalahkan Ali dan ayahnya di dalam kamar, tiba-tiba saya melihat Ali yang saat itu berusia 10 tahun keluar berlinang air mata. Segera saya menghampiri sang ayah untuk bertanya apa masalahnya. Dengan wajah yang sangat kecewa ia meminta saya bertanya langsung pada anak kami. Saya hampiri Ali di kamarnya, yang ternyata sedang menangis terisak-isak tak seperti biasanya. Ia pun mengambil foto almarhum ibunya lalu memeluknya bersama lelehan air matanya. Saya yang saat itu kebingungan dan salah tingkah, hanya dapat menarik nafas sejenak dan berkata “ada apa nak?” Namun ia tak beranjak dari tangisnya. “Ya sudah kalo mau menangis dulu silahkan, nanti kalo sudah tenang kita bicara” Saya pikir pasti ada masalah serius, ini kali pertamanya Ali menangis sampai seolah mengadu pada ibunya. Saya pun kembali bertanya, lalu sang ayah menjelaskan duduk perkara kekesalannya dalam versi pandangannya.

View original post 548 more words

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s