Selanjutnya Bagaimana? (1)

Bismillaah…

Di antara sekian pertanyaan yang seringkali diri ini sulit menjawabnya adalah ini: “selanjutnya bagaimana?”. Pertanyaan yang sering muncul menjelang masa pergantian status. Rasanya, lebih mudah menjawab pertanyaan “kapan nikah?” (hihii :D). Kalau ditanya begitu, tinggal dijawab secara diplomatis saja, semisal “in syaa Allah, nanti di saat yang tepat”. Jawaban semisal itu juga yang seringkali kudengar keluar dari lisan bapak setiap ada yang tanya begitu tentang anak-anaknya. Saya hanya tersenyum simpul saja sambil tertawa dalam hati dan dalam hati serasa ada yang berkata “yes yess” sambil memperagannya dengan kepalan tangan.

Jadi, selanjutnya bagaimana? Rasanya pertanyaan ini lebih keramat dari pertanyaan seputar takdir-Nya. Kalau ditanya takdir, rasanya lebih mudah menjawabnya secara diplomatis dengan mengembalikan urusan takdir tadi ke Allah. Lain dengan pertanyaan ini, rasanya ada yang tertuntut untuk segera mencari lahan amal yang baru. Rasanya, seperti harus segera mengamalkan ayat kedua terakhir surat Al Insyirah. Tidak boleh ada jeda (sia-sia) barang sebentar. Rehat sejenak tak masalah, jika sekadar memulihkan stamina dan mengisi ulang baterai semangat.

Lalu, selanjutnya mau bagaimana? Rasanya seperti dituntut untuk segera menyiapkan kerja amal baru untuk dikerjakan usai status berganti. Artinya, tidak (boleh) ada jeda. Perkara menyiapkan ini yang seringkali terabaikan oleh diri. Rencana pribadi sudah disiapkan (beberapa), persiapan diri sudah dicicil barang sedikit, tapi persiapan sekitar diri untuk bisa menerima (pilihan-pilihan) rencana pribadi yang sudah disiapkan? Ah, inilah dia yang seringkali mengganjal. Sudahkah diri menyiapkan mereka untuk menerima (pilihan) rencana diri? Ataukah akan (kembali) berdamai dan sendika dhawuh saja tanpa upaya menjembatani keinginan pribadi dengan harapan mereka?

Tentu, Allah telah menyiapkan rencana terbaik-Nya. Namun, itu bukan alasan bagi diri untuk tidak mengupayakan apa yang menjadi preferensi pribadi. Hmm, rasa-rasanya memang masih banyak yang harus dibenahi. Walaupun begitu, diri ini amat bersyukur Allah bukakan jalan yang perlahan mulai bisa digunakan untuk menyamakan frekuensi. Sedikit demi sedikit, perubahan (yang semoga memang ke arah kebaikan) itu terlihat secara zahir. Haadzaa min fadhlii Rabbii. Itu semua semata karunia Allah. Harapannya, semoga Allah kuatkan dan beri keistiqamahan untuk melakukan perbaikan. Semoga pula, perbaikan itu tidak hanya pada yang zahir saja, tapi lebih dari itu: semoga batinnya juga.

Jadi, selanjutnya bagaimana? Selanjutnya, diri ini harus tetap mengupayakan perbaikan-perbaikan. Juga menjaga perbaikan-perbaikan yang telah ada. Lalu, memohon petunjuk dan bantuan dari-Nya dalam memilih jalan amal terbaik. Berharap sebagaimana harapan Musa as. ketika menuju ke negeri Madyan: ‘asaa Rabbii ayyahdiyanii sawaa-assabiil (Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar)”. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s