Jalan-(Da’wah)ku

Bismillaah, walhamdulillah, washshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah shallallaahu ‘alayhi wasallam amma ba’du. 

Segala puji bagi Allah yang menunjuki hamba-Nya jalan ini. Bicara da’wah adalah bicara hal yang tidak mudah, apalagi melakukannya. Akan tetapi, bukan berarti tidak bisa sama sekali ‘kan? Bukankah setiap kita (muslim) adalah da’i sebelum segala sesuatu?

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Bukankah sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang menyeru manusia kepada (jalan) Allah? Bukankah itu semua adalah da’wah?

Adakah yang lebih bermanfaat dari mengajak/menyeru manusia kepada jalan Tuhannya, yaitu Allah? Adakah yang lebih bermanfaat dari mengajak Bani Adam (manusia) agar kembali kepada kampung halamannya, yaitu syurga? Manakah yang lebih memberi manfaat: kebaikan akhirat ataukah kebaikan dunia?

Tentunya, mengejar kebaikan akhirat bukan berarti mengabaikan kebaikan dunia. Bukankah dunia dibanding akhirat seperti air yang menetes dari jari kita–ketika kita celupkan di lautan–dibandingkan dengan seluruh air di lautan? Jika kita mendapatkan seluruhnya, tentu kita juga akan mendapatkan air yang menetes itu. Sebaliknya, jika kita hanya mendapatkan air yang menetes itu, kita tidak bisa mendapatkan keseluruhan air yang ada di lautan. Begitu juga untuk perkara dunia dan akhirat. Jika kita mengejar (kebaikan) akhirat, in syaa Allah (kebaikan) dunia akan mengikuti. Sebaliknya, jika kita hanya mengejar (kebaikan) dunia, kita akan melewatkan (jauh lebih banyak kebaikan) akhirat.

Kembali lagi bicara da’wah. Da’wah adalah kerja besar yang tidak ‘ujug-ujug’ besar, bagi saya. Ada langkah yang perlu dimulai. Langkah yang tidak langsung besar. Berawal dari langkah yang paling sederhana dan dekat (terjangkau) dengan kita. Kenapa? Agar segera ada aksi nyata.

Selesaikah sampai di situ? Belum, tentu saja. Langkah itu harus dibarengi perbaikan (kualitas) diri. Berusaha menyeimbangkan amal dan ilmu dengan menjaga komitmen untuk beramal dengan ilmu dan berilmu untuk diamalkan. Tentu, menjaga hubungan dengan Allah menjadi bagian yang sangat penting agar jalan yang ditempuh adalah benar di atas jalan-Nya. Agar Allah menunjuki langkah-langkah selanjutnya setelah langkah saat ini. Agar langkah terus terbimbing.

Itu saja? Tidak cukup. Semua itu tidak cukup jika dilakukan sendiri, maka perlu ada kerja bersama (amal jama’i). Satu orang tentu tidak bisa melakukan semua hal sekaligus bukan? Karena itu, perlu kerjasama dari banyak orang beriman. Nah, di sini, setiap orang mesti menentukan jalan-(da’wah)nya masing-masing, termasuk saya.

Di jalan yang manakah saya akan memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain?
Di jalan yang manakah saya akan menyeru orang lain kepada (jalan) Allah?
Di jalan yang manakah Allah arahkan saya untuk menjadi sebaik-baik manusia?

Saat ini, hati saya telah condong ke suatu jalan. Agaknya Allah telah membukakan jalan ke sana, sedikit demi sedikit. Semoga memang benar itulah jalannya: jalan untuk menjadi sebaik-baik manusia, jalan(da’wah)ku.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s