Krisis/Degradasi Moral?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Krisis Moral? Krisis Akhlak? Agaknya separo abad lalu ia sudah menjadi perbincangan. Sudah bukan barang (masalah) baru, tapi masih saja ada (atau justru seolah menjadi biasa saja? na’udzubillaah). Ada ulasan menarik mengenai krisis akhlak yang dituliskan oleh salah satu ulama besar Indonesia, Buya Hamka dalam bukunya Ghirah: Cemburu Karena Allah (hlm. 106-108):

Pada suatu hari di tahun 1957 dalam suatu pertemuan di Banjarmasin yang diprakarsai oleh Kepolisian setempat, saya diminta berceramah. Setelah selesai ceramah, tampillah seorang di antara hadirin menyampaikan suatu pernyataan, “Apakah tidak sebaiknya dibentuk semacam Panitia Negara untuk mengatasi krisis akhlak yang telah sangat bersimaharajalela sekarang ini?”

Lalu saya jawab bahwa saya setuju dengan ide demikian. Saya lanjutkan persetujuan saya itu dengan usul lebih konkret, yaitu bahwa seluruh warga negara Indonesia menjadi anggota dari Panitia tersebut sekaligus setiap anggota diwajibkan mengurus, tidak usah banyak orang, cukup tiap orang mengurus satu orang saja, yaitu dirinya sendiri.

Maksud saya menyebutkan hal itu, yang diterima dengan setengahnya tercengang dan setengahnya lagi tertawa, ialah untuk mengajak hadirin berpikir bahwa urusan krisis akhlak atau urusan keliaran pemuda-pemudi zaman kini, yang bukan bertambah reda, bahkan bertambah, bukanlah urusan yang mudah untuk ditunjukkan ke luar diri masing-masing, melainkan kita bawa ke dalam diri kita masing-masing sebab yang membentuk masyarakat Indonesia itu bukanlah bangsa di luar bangsa Indonesia, dan tidaklah dapat kita berlepas diri dengan berkata, “Saya tidak, atau keluarga saya tidak”. Memang mudah menunjuk orang lain dan orang lain pun mudah menujuk kita. Laksana dalam sebuah rumah tangga, sejak dari ayah sampai kepada ibu dan sampai kepada anak-anak semua mengatakan, “Saya tidak bersalah, si anu yang salah”, teranglah bahwa seluruhnya bersalah, tetapi kalau masing-masing mengaki, “Sayalah yang salah”, itulah pangkal perbaikan.

Dari dasar yang demiian kita mulailah melangkah mencari perbaikan karena perbaikan ini tidaklah diharap akan dapat dikerjakan oleh orang lain di luar diri kita sendiri. Pemerintah pun tidak sanggup memperbaiki sebab tiap-tiap pelaksana pemerintahan itu pun adalah manusia, berumah tangga, dan anggota masyrakat. Barangkali mereka sendiri ada yang tidak terlepas dari percobaan itu. Perbaikan adalah pada diri sendiri.

Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk….” (al-Maa’idah: 105)

Maksud ayat ini ialah menyuruh tiap orang mawas diri. Mendekatkan dirinya kepada Allah dan jangan memusuhi jamaah kaum Muslimin. Lakukanlah ibadah kepada Allah dengan baik dan pergaulilah sesama manusia dengan baik karena ketaatan kepada Allah dan kebaikan pergaulan masyarakat menyebabkan timbulnya harga diri dan naiknya derajat ruh kita sebagai insan.

Sesudah itu pancarkanlah pengaruh kebaikan pribadi dalam rumah tangga sebagai seorang suami terhadap istri sebagai seorang ayah terhadap anak dan cucu, sebagai seorang majikan kepada pembantu-pembantu rumah tangga.

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya….” (Thaahaa: 132)

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s