Ketenangan dalam (Hiruk Pikuk) Keramaian

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Siapakah yang tidak ingin hidup tenang? Saya rasa, semua orang menginginkannya. Walaupun ada orang yang menyukai tantangan atau sesuatu hal yang memicu adrenalin, dia juga ingin hidup tenang. Tenang baginya mungkin adalah dengan memenuhi kebutuhan jiwanya yang haus akan tantangan.

Tenang, tidak melulu tentang berdiam diri. Ada lho orang yang justru merasa tidak tenang dan gelisah jika hanya berdiam diri tanpa melakukan aktivitas (fisik). Tenang, bagiku adalah ketika jiwa terpenuhi kebutuhannya. Mengapa bukan ketika terpenuhi keinginannya? Karena belum tentu ketika keinginan itu dituruti, lalu diri merasa tenang.

Belakangan ini, banyak pikiran berseliweran di dalam kepala. Ah, rasanya ini sering, tapi memang terkadang kurang terkendali. Lisan ini memang diam atau sedikit yang dikeluarkannya, tapi sungguh ada banyak kata dalam kepala yang tak teralirkan lewat lisan. Nikmat adalah ketika yang tidak sepatutnya keluar tak keluar lewat lisan, tapi terkadang (atau bahkan sering) ada juga yang sepatutnya dikeluarkan malah tertahan. Yang kedua ini salah satu hal yang biasanya membuat diri ini tidak tenang.

Menyesali yang sudah terjadi memang menyebalkan dan juga bisa membuat tidak tenang, tapi bukan salah sama sekali. Ada hikmah yang bisa diambil, in syaa Allah. Selanjutnya, harus melapangkan hati untuk menerimanya dan memaklumkannya (mau apa lagi? Toh, sudah terjadi? Tidak bisa merubah yang lalu kan? Ambil hikmahnya saja). Nah, hati yang lapang inilah salah satu kunci ketenangan. Bagaimana melapangkan hati? Sadari bahwa semua sudah ditentukan oleh-Nya (bukankah Allah sudah memberitahu kita melalui firman-Nya bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram (tenang)?). Allah yang punya Kuasa atas kita. Ranah kita adalah usaha dengan izin-Nya (karena tiada daya dan upaya melainkan dengan(izin)Nya) dan ketentuan akhir mutlak milik-Nya.

Jadi, atas hiruk pikuk yang ada di luar maupun di dalam (pikiran), tetaplah tenang (menyikapinya). Allah tidak luput dari semua yang terjadi di dunia ini, bahkan di alam semesta ini. Lha wong Allah yang menciptakan. Allah juga yang mengaturnya. Lagipula, siapa sih kita dibandingkan Allah? Sok pusing-pusing mikir sendiri. Padahal, bisa saja pikiran kita salah jika tidak dituntun-Nya dalam bingkai kebenaran. Nah lho, dalam berpikir pun kita tidak bisa mandiri. Tetap butuh Allah. Jadi ya mesti ingat kalau setiap pergerakan kita, bahkan dalam tidur kita, Allah berkuasa atas kita. Jadi ya ujung-ujungnya Allah lagi. Semoga Allah jaga kita dalam kebenaran di jalan-Nya. Semoga Allah jaga kita dalam ketaatan pada-Nya. Semoga Allah jaga kita dalam sebaik-baik prasangka kepada-Nya. Aamiin.

*sedang butuh ‘bertapa’ untuk mengembalikan ‘kewarasan’ diri. Allah, andai istiqamah itu mudah, andai tsabat dalam agamamu itu mudah, tapi sayangnya berandai-andai tak boleh. Ya, kuyakini ini bagian dari ujian-Mu. Aku menerimanya karena ini ketentuan-Mu, in syaa Allah. Ah ya, sepertinya aku lupa, Allah kan sudah menfasilitasi hamba-Nya yang ingin berbincang (curhat) dengan-Nya: (dengan) do’a.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s