I Remember… Teringat Ku Teringat..

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Pada suatu hari, seorang gadis lugu nan polos yang baru saja lulus SMP sedang bimbang menentukan sebuah pilihan. Pasalnya, dia yang sedari awal sudah berniat mengikuti keputusan ayahnya, mendapat kenyataan bahwa ayahnya menyerahkan keputusan sepenuhnya padanya–di sini, saya berpikir, ayahnya sepertinya memang ingin mendidik dia untuk mandiri (dalam hal ini, mandiri dalam menentukan pilihan hidup) dan berusaha memberi kepercayaan pada anak gadisnya. Ya, kenyataannya, dia harus membuat keputusan sendiri! Itu adalah kenyataan yang sama sekali tidak dibayangkan sebelumnya (dan tentu tidak diinginkan saat itu). Dia telah kehilangan kesempatan (pertama) untuk istikharah sebelum membuat keputusan. Dia pun kemudian bertanya kepada dua sahabatnya yang mendapat kesempatan serupa. Ternyata kedua sahabatnya menyatakan akan mengambil kesempatan itu dan lagi-lagi dia merasa tidak ada yang sejalan dengan pikirannya: mengabaikan dan melepaskan kesempatan yang ada. Akhirnya, dia pun mengambil kesempatan itu–sebagaimana kedua sahabatnya–dengan keyakinan dalam hati bahwa nanti masih ada kesempatan untuk tidak diterima–ini adalah harapannya saat itu. Kalau pun nanti diterima, ya itu mungkin memang yang terbaik untuknya. Dia berpikir, toh masih ada proses wawancara–artinya, masih ada kesempatan untuk (berusaha agar) tidak diterima.
Ah, pikiran polos itu. Selang beberapa hari kemudian, lagi-lagi, dia harus menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang ada di bayangannya: wawancaranya ‘cuma begitu’. Bukannya menanyakan soal atau apalah untuk uji kompetensi, tapi malah menanyakan kondisi (dan kesanggupan) finansial. Dengan lugu dan polosnya, si gadis menjawab apa adanya (bagaimana bisa dia berbohong? Dia seperti tidak punya cara untuk berbohong atau sekadar berpura-pura atau menyembunyikan fakta). Apa mau dikata, dia pun kembali meyakinkan diri bahwa nanti masih ada kesempatan untuk tidak diterima–ini masih menjadi harapannya sampai saat itu. Kalau pun nanti diterima, ya itu mungkin memang yang terbaik untuknya–lagi-lagi mensugesti diri.
Hari pengumuman pun tiba tanpa diketahui waktunya sebelumnya. Dia pun ditanya (untuk yang terakhir kalinya) tentang kemauannya, apakah mau maju atau mundur. Lagi-lagi, dia kehilangan kesempatan (kedua) untuk istikharah. Dia harus memutuskan tanpa sempat istikharah sebelumnya. Lagi-lagi, dia belum menyiapkan diri untuk membuat keputusan saat itu juga. Lalu dia pun (memberanikan diri) untuk memutuskan untuk maju (setelah melihat kenyataan, banyak temannya lain yang memutuskan maju). Untuk (setidaknya) ketiga kalinya gadis lugu nan polos ini harus mensugesti diri, kembali meyakinkan diri bahwa mungkin ini memang yang terbaik untuknya. Ya, mulai saat itu, dia harus (berusaha) menerima kenyataan apapun (sebagai konsekuensi) atas keputusan yang sudah diambilnya.
Hari pertama petualangan itu pun di mulai. Hatinya masih belum menerima sepenuhnya. Jasadnya saat itu memang ada di ruangan itu, tapi ruhnya seakan (ingin) berada di luar ruangan itu. Hari kedua, belum ada perubahan rasanya. Hal yang (hampir) sama berlangsung hingga beberapa hari, beberapa minggu, bahkan sampai hitungan bulan. Sepertinya butuh dua atau tiga bulan sampai akhirnya dia (dapat) benar-benar menerima kenyataan.
Sebenarnya, di masa-masa awal masuk, dia dan teman sekelasnya diberi tawaran jika ingin keluar selagi masih di masa-masa awal. Dia merasa ada peluang untuk keluar dan lagi-lagi dia mencari teman. Benar saja, dia menemukan ada teman barunya yang merasakan hal yang serupa. Dia berharap temannya ini menyatakan diri mau keluar, sehingga dia pun bisa mengikuti langkahnya. Sayangnya, kenyataan–lagi dan lagi–tidak berjalan sesuai skenario dalam benaknya saat itu. Temannya itu tetap diam tak menyatakan diri mau keluar. Dia pun harus menerima kenyataan bahwa dia tak punya teman untuk menyatakan keinginannya untuk keluar. Dia pendam keinginannya sampai pada akhirnya dia pun bisa menerima kenyataan.
Singkat cerita, ketidakmauannya menerima kenyataan di awal perlahan terhapus dengan kenyataan bahwa dia mulai merasa nyaman dengan lingkungan barunya ini. Lingkungan yang semula tak diinginkannya, tapi justru pada akhirnya membuatnya tidak ingin berpisah darinya. Lingkungan yang bersama-sama berjuang agar kebersamaan yang sudah terbangun tidak putus walau hanya dengan keluarnya satu atau dua orang di dalamnya. Kebersamaan yang membawa semua anggotanya saling memperjuangkan satu sama lain agar tidak ada yang keluar hingga akhir (keluar bersama-sama) atau bahkan tertinggal tidak ikut serta (walaupun sekadar) rekreasi bersama. Allaahu akbar… Sungguh itu adalah petualangan yang tak terlupakan. Kenangan manis itu masih membekas. Kebersamaan itu, walaupun kini kami berjalan masing-masing, tetap ada jejaknya dalam hati. Potret kenangan yang terbingkai rapi pada dinding hati. See you (on top), all my beloved friends.

I remember..
Teringat ku teringat..
sepenggal kisah petualangan bersama sahabat seperjuangan, EXIST a.k.a AXION 004,
petualangan yang kami namai ‘CIBLON’ (dengan sugesti dan bermimpi suatu saat akan menjadi nyata, menjadikannya akronim dari ‘CIBi goes to LONdon’)

Allah, sungguh Engkau Mahatahu baik yang lahir maupun yang batin. Kenangan itu masih membekas, terpanggil oleh sebuah keputusan (yang entah kenapa sebenarnya mungkin kecil, tapi begitu kupertimbangkan) yang baru saja kuambil. Engkau Mahatahu yang terbaik. Untuk ke sekian kalinya, aku ingin mensugesti diri, apapun keputusan-Mu nanti, itu adalah yang terbaik menurut-Mu. Jika pada akhirnya nanti Engkau memberikannya, semoga (kali ini) aku bisa menerimanya dengan lapang hati yang disertai kesungguhan menyiapkan (bekal) diri.

Yaa hayyu yaa qayyuum, birahmatika astaghiist, wa ashlihliy sya’niy kullahu walaa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ainin abadan.
Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s