Izinkan Kuubah Sesal Jadi Harap

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Lagi, untuk ke sekian kali, sesal akan momentum yang terlewat tujuh bulan lalu kembali menghinggapi. Padahal, itu sudah menjadi qadarullah, kehendak Allah. Apa mau dikata. Mungkin aku telah membuat-Nya cemburu karena mengharap (pada) selain-Nya. Astaghfirullaah. :”
Tapi bagaimanapun, kesan yang tertinggal(kan) sembilan bulan yang lalu masih lekat. Membekas meninggalkan harap dan tanya, “tidakkah (kau) ingin (tetap) tinggal lebih lama?” Kesan yang tertinggal tanpa sepatah pesan lewat lisan. Meskipun pernah menetap tanpa ada kata yang (saling) terucap.
Mungkin salahku, aku terlalu takut berkata-kata, terlebih, berbalik badan dan (menatap untuk) saling bicara. Aku hanya mampu melihat (sekilas) bayangmu dan mendengar (sedikit) suaramu. Tapi, tidakkah kau lihat tanda yang sengaja kutinggalkan (agar kau baca)? Ah, harusnya aku tak bertanya padamu, tapi pada-Nya. Lagipula, tanda itu juga (mungkin) tak (mampu) menyampaikan apa-apa (kesan) yang kurasa.
Kini, semestinya kau sudah berada pada fase baru: menghadapi belantara kehidupan nyata. Bagaimana kabarmu? Bahagiakah dengan duniamu yang baru? Adakah kau akan (kembali) menetap nanti untuk sekadar saling cakap? Ah, harusnya kutanya pada-Nya, “adakah kesempatan (baginya) untuk (kembali) menetap agar (kami) bisa saling cakap?” Kuharap ada.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s