Mau Dibawa ke Mana (Langkah Diri)?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahiimahumullaah mengatakan, “Saat yang paling berharga yang dialami seorang hamba dalam hidupnya adalah saat ia merasa paling menghajatkan Allah swt.”

 

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Memohon pertolongan yang paling agung adalah memohon pertolongan untuk mengibadahi Allah swt.”

 

Kata Al Imam Asy-Syafi’i rahiimahumullaah, “Tidaklah seseorang disebut kaya sampai dia memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan seisi dunia.”

 

Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS Maryam: 36)   

Sepertinya, Ust. Salim A. Fillah salah sebut nomor ayatnya.

Kata ‘Abdul Karim Zaidan dalam Al Mustafaad Min Qashashil Quran, “Di antara orang yang dikabulkan do’anya (meminta ihdinashshiraatal mustaqim) itu adalah mereka yang tekun untuk mentaddaburi Al Quran, kisah-kisahnya, sehingga menemukan petunjuk ke jalan yang lurus melalui kisah orang-orang yang diberi nikmat dan menghindarkan diri dari jalannya orang yang dimurkai dan jalannya orang yang sesat.

 

Jalan yang lurus bukan mulus.

 

Shiraatal mustaqim itu, jalan yang lurus itu, karena dia jalan pengabdian kepada Allah swt., maka ia adalah jalan perjuangan.

 

 

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al Hasyr: 21)  

 

Bagaimana mungkin hati mereka mampu menanggung semua beban-beban itu. Kalau Quran turun kepada gunung saja gunung itu pecah berantakan karena takut kepada Allah? Maka hati mereka para sahabat ra. yang seluruh hidupnya ditingkahi turunnya Al Quranul Kariim, betapa kemudian harus lebih kokoh dari gunung-gunung.

 

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (QS. Yusuf: 3)

Setelah perjalanan hidup yang luar biasa, cita-citanya

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf:101)

Menjawab pertanyaan ke mana diri melangkah:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf:101)

 

Al ‘alamah Nasirudin Al Albany mengatakan, “Jalan Allah ini panjang sekali. Untunglah kita tidak diperintahkan untuk sampai ke ujung, kita hanya diwajibkan mati di atasnya. Dan luar biasanya jalan ini, ternyata Allah memilih tidak banyak orang untuk berada di sana.” Jalannya Rasulullaah, jalan para Nabi dan  rasul. Jalan ini, jalan istimewa. Jalan ghurabaa, orang-orang yang asing, orang-orang yang terus melakukan ishlah, perbaikan-perbaikan, meskipun manusia melakukan kerusakan. Sedikit yang mau menempuhnya. Di dalamnya pun bahkan masalahnya, banyak ujiannya.

 

Tidak diizinkan kaum yang lain memasuki surga Allah sebelum umatnya Muhammad saw. Kenapa? Al Imam An Nawawy, “Sebab hanya umat Muhammad saw. yang diberi kehormatan Allah untuk memakai selendangnya para Nabi dan para Rasul”. Selendang apa? Selendang dakwah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s