Rehat

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuanh yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yanh ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka merasa lelah, merasa lemah, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan da’wahnya tiada tara itu memang mendapat mi’raj istimewa; langsung mengahadap Allah ‘Azza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanua, “Saat mi’raj seorang mukmin adalah shalat”.
Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu ya h telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yabh lembut pada hati yang letih dan payah.
Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, “Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!”

(Dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang oleh Salim A. Fillah)

Pantas saja. Yang sempat melejit ambruk seketika. Terjun ke lembah nun dalam. Kenikmatan yang melenakan telah membutakan mata hati. Dalam pendakiannya, tak tampak oleh mata (hati)nya tepian curam nan siap menjerembab sesiapa yang lalai lagi tak siaga. Memang, nun jauh terlihat hamparan padang nan indah menjelang. Tapi mata hati telah dibuainya hingga luput pandangan dari bahaya yang ada di depan mata. Maka mulai saat ini, diri ini mesti sadar bahwa sesungguhnya yang dibina adalah kekuatan dan ketahanan, bukan kenikmatan lagi kebanggaan semu yang melenakan. Rehat itu sesaat, agar raga yang (me)lemah kembali menguat. Rehat itu sementara, agar semangat yang redup kembali membara.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s