Tak Ingin Mati Konyol

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Jika mengingat motto hidup yang pernah dituliskan dalam beberapa kesempatan, semestinya diri merasa malu. Bagaimana tidak? Dari dua pilihan dalam motto itu, seolah-olah diri tak ada upaya serius untuk setidaknya berujung pada salah satunya. Jika ingat mati, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan, “sudahkah ada jejak kebaikan yang diri ini tinggalkan?”, “Sudahkah ada banyak manusia yang merasakan manfaat yang diri ini berikan?”, “Apakah benar Allah telah rida?”, “Apakah bekal diri sudah cukup untuk menghadap-Nya?”, “Pantaskah diri ini merindukan indahnya kematian sementara amal masih pas-pasan?”.
Duhai, betapa besar angan dan betapa kecil amal. Sebegitu menyilaukankah dunia hingga mata (hati) ini dibuatnya rabun? Sebegitu licik kah syaithan hingga hati mudah saja dibujuk rayuannya? Betapa lemah diri tanpa bantuan kekuatan-Nya. Sungguh, aku tak ingin mati konyol.

Ya Rabbi, semoga (kelak) Kau panggil aku kembali kepada-Mu ketika matiku saat itu (jauh) lebih baik dari hidupku dan semoga matinya ragaku tidak mematikan kebermanfaatanku. Aamiin.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s