Hari Baru #2 Aku Malu, tapi Tak Ingin Menjauhi-Nya

Bismillaah…

Sudah tabiat manusia sepertinya, ketika dia merasa bersalah atau malu pada seseorang, dia cenderung menghindari (setiap pertemuan dengan) orang itu. Kalau tidak bisa dibilang tabiat manusia, cukup jadi tabiatku saja sepertinya. Ya, selama ini, begitulah yang kurasakan. Aku cenderung menjauh, menghindar, pura-pura tidak tahu ketika suatu waktu bertemu orang yang padanya aku merasa bersalah atau malu. Kalaupun harus bertemu atau berinteraksi, biasanya secukupnya saja dan kadang sampai serasa ingin menghilang tiba-tiba. Begitulah.

Tapi kali ini lain, aku tidak ingin menyamakan sikapku pada-Nya dengan sikapku pada selain-Nya. Semestinya memang begitu. Nyatanya, aku masih harus berupaya sungguh-sungguh untuk itu. Sungguh, aku malu sekali pada-Nya, tapi kenyataan sikapku pada-Nya belum menunjukkan itu. Aku malu dan merasa berdosa, tapi semestinya aku tidak boleh menjauhi-Nya, apalagi menghindari-Nya. Mana bisa? Aku tidak boleh menyamakan sikapku pada-Nya dengan sikapku pada selain-Nya. Dia begitu istimewa, mengapa aku belum juga dapat mengistimewakan-Nya?

Duhai, maafkan aku, Allah. Aku sering sekali mempermalukan diriku sendiri, tapi tak juga sadar untuk segera berdiri di hadapan-Mu, berlutut, lalu bersujud-Mu. Aku sering sekali melakukan kebodohan-kebodohan bertubi-tubi, berturut-turut, berulang kali, tapi mengapa masih saja tidak peka untuk segera membasuh wajah, membersihkan hati? Aku (masih) sering kali mengakui ketakberdayaanku dan menjadikannya kedok untukku menuruti hawa nafsuku dengan merasa lemah. Padahal, Engkau (lebih) mencintai hamba-Mu yang kuat.

Aku juga sudah lama merasakan kemarau di hatiku. Lama nian tak kurasakan sejuknya tetes air dingin yang membasuh qalbu. Air yang kuharap dapat merontokkan dinding kesombongan yang selama ini menutupi hatiku. Air yang kuharapkan dapat melunakkan kerasnya hatiku. Air yang ketiadaannya seringkali membuat (hatiku) kekeringan. Air yang membawa ketenangan dan kemenangan. Air yang membawa aroma optimis untuk menjadi jiwa yang lebih baik. Air yang menghidupkan dan menyelamatkan kehidupan. Sudah lama tidak kurasakan deras hujan yang mengguyur gersangnya qalbu. Aku rindu hujan di hatiku (yang menyusup) hingga pelupuk mataku.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s