Hari Baru #1: Sudah Lama Lupa, Semoga Ingat!

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Membaca cerita salah satu sahabatku di sini membuatku rindu rumah. Ya, selama ini aku selalu berusaha menyingkirkan perasaan itu dengan kedok membereskan urusanku di rantau dulu. Tapi apa mau dikata, kalau memang sudah rindu, mau bagaimana lagi? Yang ada hanya harap akan kesempatan diri untuk segera menginjakkan kaki di rumah, di kampung halaman.

Membaca tulisannya juga mengingatkanku bahwa sekarang aku bukan kanak-kanak lagi. Kesadaran ini terbentur kenyataan akan perilakuku yang (seringkali) masih kekanak-kanakan. Rasanya (seringkali) seperti belum bisa menerima kalau diri ini sudah “berumur”. Ah, lagi-lagi, kalau memang sudah menua, mau bagaimana lagi? Bukannya memang begitu fase manusia? Tidak selamanya dia kanak-kanak. Akan ada masanya dia tumbuh menjadi orang dewasa dan kemudian menjadi tua.

Oh ya, ada pepatah umum bilang kurang lebih begini “menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan”. Ya, benar sekali. Itulah yang saya rasakan. Rasanya dulu amat menikmati masa-masa menjadi yang (paling) muda. Euforia ini masih terbawa sampai sekarang (setelah lulus Sarjana) dengan ingin selalu dianggap muda, setidaknya menganggap diri lebih muda atau teman sebaya walau dengan seseorang yang lebih muda. Sayangnya, itu tidak selalu baik. Saya pun pernah ditegur karena (memilih) sikap seperti itu. Tidak hanya itu, euforia (pernah) menjadi muda juga masih terbawa dengan hasrat mencari “kakak” pengganti “kakak” sebelumnya. Yaa, sebelumnya saya memiliki beberapa kawan dan sahabat yang saya anggap seperti kakak saya sendiri yang seringkali menjadi tempat cerita, sharing, dan saling memotivasi. Namun, waktu telah membuat intensitas interaksi kami berkurang pesat. Sayangnya, hasrat ini belum tercukupi dengan baik. Ya, saya sadar, salah memang ketika diri mulai bersandar pada makhluk dan tidak mengembalikannya pada Sang Khaliq.

Sepertinya tabir mulai terkuak. Apa yang terjadi beberapa waktu terakhir ini sepertinya menjadi dampak dari itu semua. Sedikit mirip dengan cerita enam tahun lalu. Hanya saja, penyebabnya berbeda. Serasa kaki tidak menginjak di bumi. Hati tidak menetap pada tempat seharusnya. Rasanya ingin berada di luar tempat ini. Merasa tempatku bukan di sini. Sayangnya, kali ini, keberadaanku di sini sepenuhnya hasil keputusanku, bukan lagi sekadar ikut teman seperti enam tahun lalu.

Waktu berjalan begitu cepat. Mengingatnya, membuatku optimis bahwa akan tiba saatnya aku menemukan duniaku yang baru, yang lebih menyenangkan. Dunia baru dengan petualangan yang lebih seru tentunya, bersama kawan-kawan yang membuatku semakin dewasa (dalam memaknai kehidupan). Mungkin nanti, cepat atau lambat, akan tiba saatnya hatiku kembali pada tempatnya, bahkan akan menetap lebih lama atau mungkin selamanya? Ahh, ini mungkin hanya soal waktu.

Aku lupa, sudah lama aku memaksakan (keinginan) diri (pada-Nya; padahal, mana bisa?), tidak (sepenuhnya) pasrah dengan kehendak-Nya. Jadilah kecewa datang berturut-turut. Aku lupa bahwa aku hanya satu titik kecil dari semesta-Nya. Aku lupa untuk meletakkan semua harapanku pada langit kuasa-Nya dengan tanpa ada sisa di hati sedikitpun (untuk memaksa-Nya; lagi-lagi, mana bisa?). Aku lupa untuk membiarkan Allah saja yang memilihkan harapan mana yang akan menjadi nyata atau menggantinya dengan pilihan-Nya yang lebih baik. Aku lupa. Ya, aku lupa. Semoga setelah ini, aku ingat dan termasuk orang-orang yang selalu ingat, selalu mengingat(kuasa)-Nya dan rida pada (kehendak)-Nya.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s