Menjadi Baru #1

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat (segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya lah segala kebaikan menjadi sempurna). Ya, salah satunya nikmat ini, nikmat terjaga di waktu dini hari. Lebih nikmat lagi, manakala diri ini mau dan (me)mampu(kan) diri melawan rasa kantuk dan lelah demi menyambut kedatangan-Nya di langit dunia. Nikmat bercakap dan bermesraan pada-Nya, mengadukan segala resah dan gundah pada-Nya. Nikmat yang sudah lama terlewatkan oleh diri.

Diri ini telah lama abai. Menganggap semua (akan) berjalan baik-baik saja dengan rasa abai itu, padahal nyatanya tidak. Sama sekali tidak baik-baik saja. Ada yang kurang, ada yang terlewat. Subhanallaah, Allah sungguh tak pernah mendzalimi hamba-Nya, tapi hamba-Nya lah yang seringkali mendzalimi dirinya sendiri. Astaghfirullaah.

Teriring do`a kepada setiap orang yang menjadi perantara datangnya hikmah, pencerahan, dan hidayah dari Allah. Semoga Allah tambahkan kebaikan atas diri mereka. Di antara mereka ada (banyak) yang berupaya menjaga diri dari men(s)yiarkan hal-hal yang buruk atau sia-sia. Saya percaya, segala yang kita jaga karena Allah, akan Allah balas dengan sebaik-baik penjagaan, yakni penjagaan-Nya. Adakah yang lebih baik dari penjagaan-Nya?

Saya jadi terpikir sesuatu: Allah Maha Berkehendak. Ketika kita mengusahakan sesuatu, tapi Allah tidak mengizinkan, ya kita tidak akan mendapatkan itu. Sebaliknya, ketika Allah sudah berkehendak memberikan sesuatu pada kita meski kita sedang tidak mengupayakannya, ya kita akan tetap mendapatkannya. Salah satunya tentang pencerahan ini. Sudah sejak beberapa waktu yang lalu saya menyadari ada yang hilang, ada yang kurang, ada yang tidak beres! Saya pun beberapa kali berupaya mencari jalan keluar. Tidak sedikit yang saya kira dapat menjadi solusi justru saya tidak merasa mendapatkannya. Tapi ketika saya sekadar ‘iseng’ atau tanpa sengaja melakukan sesuatu, biidznillaah, dari situ saya mendapatkan pencerahan. Subhaanallaah. Allaahu Akbar!

Terima kasih telah menjadi perantara lentera dari-Nya. Saya curiga jangan-jangan selama ini saya hanya melakukan pelarian dari yang sebenarnya saya rasakan. Kalau larinya ke Sang Pemilik, kenapa tidak? Namun, sayangnya, sepertinya beberapa waktu belakangan, saya salah tempat pelarian. Astaghfirullaah. Semoga Allah mengizinkan saya (kembali) mendapatkan hati yang baru dan menjadi jiwa yang baru (lagi).

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Yaa musharrifal quluub, sharrif quluubana ‘alaa thaa’atik.

Mohon do`anya, Kawan. 🙂

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s