Yang (Terasa) Hilang, Kembalilah!

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Untuk ke sekian kalinya, kekosongan jiwa terasa sekali sedang mampir dalam diri. Paling tidak, (hampir) sepekan belakangan ini. Mungkin memang berawal dari kesalahan diri. Salah karena terlalu banyak angan dan juga kekhawatiran akan ketidaksiapan menerima kenyataan jika angan itu terjadi. Ada harap di sana, tapi juga ada rasa takut dan khawatir. Sayangnya, ‘duet’ rasa harap dan takut yang ini bukan ditujukan pada-Nya. Sepertinya, itu akar masalahnya. Ketika ada yang tidak dikembalikan (urusannya) kepada Dia yang Maha Mengurusi makhluk-Nya, maka bersiaplah menerima ketidakberesan. Ya, ketidakberesan yang mungkin seperti yang sedang kurasakan sekarang.

Kuakui itu salahku. Lagipula, bukankah sebelumnya aku sudah belajar bahwa menyandarkan harapan (sepenuhnya) pada manusia itu akan berakhir kecewa, sedangkan jika bersandar kepada Pencipta-Nya, maka akan menuai rasa lega sekaligus bahagia? Apakah aku lupa? Ah, salah memang jika kubilang ‘aku sudah pernah belajar itu kok’ tanpa ada rasa ingin memelajarinya dan tentu mengaplikasikannya sepanjang hayat. Bukan tidak mungkin pembelajaran hari ini juga dibutuhkan di hari esok, lusa, dan seterusnya. Bukankah begitu?

Maka dari itu, mulai saat ini, semoga terus terjaga semangat untuk belajar dan menjaga apa yang sudah dipelajari untuk diterapkan dalam amal sehari-hari. Semoga yang terlupa segera Dia ingatkan. Semoga yang alpa segera Dia maafkan. Semoga yang hilang, segera Dia kembalikan (atau gantikan dengan yang baru). Semoga harap yang belum bermuara pada-Nya segera Dia tuntun hati untuk menggantungkannya pada-Nya di langit kuasa-Nya.

Sebenarnya, (sempat) masih ada harap untuk kembali bersua. Harap yang lalu (untuk bersua) di waktu istimewa ternyata tak diizinkan-Nya. Kemudian aku belajar memahami, mungkin belum saatnya atau memang bukan saatnya. Selanjutnya diri bertanya, ‘memang untuk apa?’ Allah mungkin tak ingin diri ini mengharap kepada selain-Nya, maka dengan segenap kuasa-Nya diaturlah bagaimana membuat diri (kembali sadar agar) sepenuhnya bergantung pada-Nya, menggantungkan harap di langit kuasa-Nya. Semoga. Semoga yang (terasa) hilang kembali dalam wujud (semangat) yang baru, kembali dengan mengajak diri mendekat (lagi) pada-Nya untuk menjangkau keridaan-Nya, hanya berharap penilaian-Nya.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s