(Hanya) Do’a, Senjata (Terakhir)ku

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Do`a adalah tentang keyakinan. Seberapa yakin kita dengan Yang Maha memperkenankan do`a. Seberapa pula kita yakin dengan apa yang kita pinta. Do`a adalah tentang kesadaran. Seberapa sadar kita dengan ketidakberdayaan diri tanpa pertolongan-Nya. Seberapa sadar kita bahwa semua berjalan di atas kehendak-Nya. Do`a adalah tentang keberserahan. Seberapa besar kita berserah diri pada setiap keputusan-Nya. Seberapa besar kita berserah diri pada skenario terbaik menurut ilmu-Nya.

Do`a adalah juga tentang harap akan kebesaran hati dan kelapangan dada dalam menerima setiap ketentuan-Nya. Harap agar diri semakin mudah bersyukur dan jauh dari sifat kufur. Harap akan kemurahan-Nya untuk menjadikan diri termasuk dalam jamaah hamba-Nya di syurga.

Maka, atas pengetahuan tentang ketidakberdayaan diri tanpa pertolongan-Nya, hanya do`a yang jadi andalan utama. Hanya do`a yang jadi senjata pertama peneguh jiwa. Juga sebagai perantara diri dengan Penguasanya, Rabb Semesta. Sebagai wahana bercengkrama mesra dengan-Nya. Mencurahkan segala rindu yang (semoga hanya) bermuara kepada-Nya.

Allaahul musta’aan.
Allaahu a’lam.

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata: Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugerahkan.”
(Shahih Muslim No.4838)

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s