Amanah Baru: (Sebentar Lagi) Menjadi yang Dituakan

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Allah, Allah, Allah, tiada satu pun tempat mengadu yang selalu paling siap sedia menerima aduanku selain Allah. Tiada satu pun yang siap setiap saat menerima curahan hatiku kecuali Dia. Allah, Dia lah yang Mahatahu segala yang terlintas dalam benak, apalagi yang dzahir. Allah, Dia lah yang selalu memberikan jalan keluar terbaik di saat yang tepat. Allah, hanya Dia lah yang mampu memberikan kelapangan hati pada diri ini untuk menerima setiap ketentuan-Nya. Dia yang Maha segalanya.

Sudah menjadi ketetapannya, satu per satu penghuni Yanisari (tempat tinggal di perantauanku saat ini) keluar untuk pulang maupun pindah ke tempat tinggal (kost) barunya. Tiga tahun sudah sejak pertama kali kuinjakkan kaki di tempat ini. Dari semenjak akulah penghuni termuda hingga tergantikannya satu per satu penghuni lama dengan penghuni baru yang lebih tua. Tiga tahun telah berlalu dan kini aku masih tinggal di rumah ini. Kali ini, aku bukan lagi menjadi yang termuda, tetapi (hampir) jadi yang paling (di)tua(kan). Meminjam frase pemilik rumah Yanisari, “pucuk pimpinan kostan” kini diserahkan padaku. Artinya, mau tidak mau aku harus lebih bertanggung jawab terhadap apa-apa yang ada (dan terjadi) di rumah ini. Itu artinya, aku dituntut untuk menjadi lebih dewasa (lagi). Ada amanah baru yang menunggu diriku untuk mendewasakan diri, biidznillaah.

Semalam, baru saja diingatkan oleh kakak kost (yang tidak lama lagi sepertinya akan meninggalkan kost juga) akan keadaanku yang sekarang. Diingatkan tentang statusku saat ini. Diberi wejangan bagaimana semestinya aku (mulai) saat ini. Semuanya mengarah pada satu hal, “aku harus (belajar) lebih dewasa”. Bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain kecuali terus memperbaiki diri, bukan? Menjadi lebih dewasa juga merupakan salah satu bentuk perbaikan diri, begitu ‘kan? Maka, aku kembali (mesti) memaklumi bahwa selalu ada proses yang harus berjalan. Proses untuk menuntaskan tugas sebelum kembali kepada Sang Pemilik diri ini. Proses itu terus berlanjut sampai datang panggilan kasih sayang-Nya. Kembali pada-Nya dalam keadaan (sebagai jiwa) yang tenang dan puas setelah menuntaskan semua tugas yang telah ditetapkan untuk diemban. Kembali pada-Nya (dengan harapan) menjadi salah satu di antara hamba-hamba-Nya di syurga-Nya.

Allaahul musta’anu wallaahu a’lam bishshawab.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s