Inikah Pertanda?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Mungkinkah ini pertanda? Sebagai sebuah latihan untukku jauh dari hiruk pikuk gadget (yang merupakan salah satu prasyarat yang akan kujalani) jika benar nanti aku (memutuskan untuk memilih) berada di jalan itu dan mendapat izin dari kedua orang tuaku atas izin-Nya? Inikah pertanda dari-Mu, duhai Rabbii?

Beberapa hari terakhir ini hidupku cukup terasa “seru”. Bermula dari tertinggalnya benda mati bernama handphone di Masjid UI yang dibelinya pun karena suatu kebutuhan (aplikasi) tertentu untuk mempermudah komunikasi selama di organisasi. Ya, memang benar setiap apa yang zhahir-nya (seperti) milik kita sendiri, sejatinya hanya titipan dan amanah dari-Nya. Duhai, kalau aku selalu ingat semua itu amanah dari-Nya tentu aku (berusaha sebaik mungkin untuk) tidak sembrono menelantarkan atau memperlakukannya. Selalu yang aku ingat adalah “jika memang itu masih rezekiku, pasti akan kembali” juga sebagai dalih atas setiap keteledoranku. Inilah penyakitnya, keteledoran yang (hampir selalu) dimaklumi walaupun seringkali juga menyalahkan diri sendiri akibat keteledoran itu.

Dalih “jika masih rezeki” ini pun bukan muncul tiba-tiba tanpa pernah mengalami hal yang membuatku menginternalisasikannya dalam diri. Beberapa kali aku pernah mengalami keteledoran meninggalkan handphone di beberapa tempat (umum) yang berbeda pada waktu yang berbeda pula. Variasi waktunya dari tertinggal sampai sadar kalau handphone tidak ada itu berbeda-beda. Beruntungnya masih sadar dan ingat tidak lama setelah itu (walaupun pernah suatu kali, sudah jalan sekian ratus meter dari Fasilkom sampai seberang stasiun UI). Qadarullaah dia masih setia–tergeletak tenang–menunggu pemiliknya menjemputnya. Ambooii, alhamdulillaah. Dari beberapa kesempatan kehilangan handphone itu, aku semakin yakin dengan prinsip itu. Memang benar “jika memang itu masih rezeki, pasti akan kembali”, tapi bukan berarti itu membolehkan kita untuk berlaku teledor tanpa ada usaha untuk menjaga setiap amanah (rezeki) pemberian-Nya.

Terkadang atau bahkan seringkali terlintas dalam benakku, “mungkin karena handphone nya jadul kali ya bukan handphone masa kini”, hehe… Tapi jika aku membenarkan lintasan hati itu, maka aku bisa terjerumus ke dalam sifat kufur nikmat. Bukankah (walaupun mungkin memang jadul), handphone-ku itu sudah memberi banyak manfaat untukku? Subhaanallaah… Bisa dibilang, “jadul-jadul begini, dia jagoan lah”, hehe… Lagipula, betapa tidak tahu dirinya aku jika tidak bersyukur atas barang (rezeki) yang bahkan ada padaku bukan karena keringatku sendiri. Sudah semestinya aku malu dan banyak beristighfar jika mengingkarinya. Pun jika kudapat dari jerih payah sendiri, itu (lagi-lagi) atas izin-Nya, pemberian-Nya.

Qadarullaah, dari beberapa pengalaman “meninggalkan” handphone yang berujung ketemu juga di tempatnya tertinggal, pengalaman kali ini beda. Jika beberapa kali sebelumnya hanya selang beberapa menit aku ingat lagi dan ketemu, kali ini aku memang ingat tidak lama setelah tertinggal, tapi aku harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkannya kembali. Sebenarnya, di awal aku tenang-tenang saja mendapati handphone-ku tidak ada karena aku masih yakin dengan prinsip itu, tapi aku tetap berusaha untuk mencarinya (seperti sebelum-sebelumnya) dengan meminta tolong temanku untuk menghubungi nomorku. Yang lebih menenangkan adalah ternyata ada orang baik yang menemukan handphone ku. Sayangnya, beliau sudah ada di perjalanan pulang ke rumahnya dan aku belum sempat mengambil handphone-ku. Jadilah aku harus bersabar untuk mendapatkan handphone-ku itu.

Bisa dibilang, aku tenang dan kadang berusaha menenangkan diri karena (awal perkiraan) keesokan harinya bisa diambil. Qadarullaah, Allah berkehendak lain, aku belum bisa mengambilnya keesokan harinya hingga hari ini. Jika tanya kenapa belum bisa, banyak sekali penyebabnya, macem-macem dah… Bismillaah, husnudzan sama Allah aja bisanya mah…

Awalnya aku sempat berpikir aku akan terbebas dari hiruk pikuk keberadaan handphone saat mengira bahwa hanya kurang dari satu hari aku akan mendapatkannya kembali. Terlebih saat itu masih ada UAS take home, jadilah diri merasa tenang senang gembira karena merasa tidak ada gangguan. Apa dinyana, pikiran itu benar adanya, aku benar-benar terbebas dari hiruk pikuk keberadaan handphone-ku bahkan sampai saat ini, tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama karena aku kemudian diuji dengan mengalami beberapa hal “tragis” setelahnya.

Yang pertama, aku harus slisiban dengan bapak dan budhe-ku yang berkunjung ke tempat kostku. Bapakku sebenarnya datang ke Jakarta untuk mengantarkan budhe-ku yang diminta menemani saudara-saudaraku yang akan ditinggal umrah orang tuanya dan mampir ke kost ku untuk menjengukku. Bayangkan bagaimana rasanya kita tidak tahu sama sekali kalau orang tua kita yang datang dari jauh dan sudah sekitar empat bulan belum ketemu berkunjung siang hari saat kita sedang (ada perlu) pergi keluar dan baru kembali ke kost setelah Maghrib. Tidak ada informasi yang sampai padaku hingga kakakku sore hari itu menyapaku lewat chat fb dan dalam pesannya tertulis “Ws mulih drg? Mau jare bpk neng kontrakanmu, pas kowe lg metu(sudah pulang belum? Tadi katanya bapak ke kontrakanmu waktu kamu keluar).

Aku yang saat itu sedang “asyik” mengerjakan tugas kelompok pun langsung tercenung dan menangis dalam hati. Aah, ingin cepat-cepat pulang rasanya. Aku pun segera tanya ke temanku kapan mau balik dan berdalih (lagi-lagi) besok aku harus berangkat pagi tanpa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, hoho.. Sesampainya di kost, teman-teman kost ku pun menceritakan semuanya sampai alur kenapa informasi kedatangan bapak tidak sampai kepadaku, padahal sebelumnya aku sudah mengabari ibuku perihal handphone-ku yang tertinggal lewat nomor temanku. Kegalauanku pun bertambah saat aku dihadapkan kenyataan bahwa besok pagi-pagi harus ke Bandung sampai Sabtu, sedangkan Jum’at sorenya bapakku akan pulang. “Kapan ketemu bapak? Nggak lucu kan bapak yang pergi jauh-jauh (walaupun hanya beberapa hari) yang mau bertemu anaknya saja belum sempat dan aku memilih untuk tetap berangkat pagi-pagi tanpa terlebih dulu bertemu bapak. Bagaimana kalau ini kesempatan terakhirku ketemu bapak? Padahal aku sudah empat bulan ini belum pulang.”, pikirku dalam hati.

Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal’, Allah menuntunku untuk mencari jalan keluar. Aku tetap harus menemui bapak sebelum bapak pulang, untuk kemudian baru aku pergi ke Bandung, dengan kata lain aku harus menyusul sendiri ke Bandung. Ya, akhirnya pagi-pagi aku pergi ke kampus untuk bertanya perihal apakah aku bisa menyusul berangkatnya, kemudian aku pun pergi ke tempat saudaraku untuk bertemu dengan bapak. Waktu itu aku pikir, kalau aku tidak bisa menyusul, ya sudah aku tidak jadi ke Bandung. Tapi atas izin-Nya aku diberi kesempatan untuk tetap bisa bertemu bapak dan tetap bisa menyusul ke Bandung. Alhamdulillaah.

Pengalaman “tragis” keduanya adalah aku harus memberanikan diri atas keputusanku untuk menyusul ke Bandung sendiri. Mengapa sebegitu aku harus memberanikan diri? Pertama, ini pertama kalinya aku ke Bandung (sebelumnya sama sekali belum pernah). Kedua, untuk pengalaman pertama ini, aku harus pergi sendiri. Kedua kenyataan itu belum cukup, yang terakhir, aku ke Bandung dengan tanpa membawa alat komunikasi (baca: handphone) sama sekali. Subhaanallaah, Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan (usaha) hamba-Nya. Selama perjalanan ke Bandung sendiri, Allah banyak memberikan pertolongan-pertolongan-Nya padaku lewat perantara hamba-hamba-Nya. Akhirnya, dengan melawan ketakutan diri, aku pun sampai Bandung dengan selamat. Segera setelah sampai penginapan, aku pun menghubungi temanku (satu rombongan ke Bandung) bahwa aku sudah sampai dan tentu bapakku. Pada saat aku menghubungi bapak, bapak sudah ada di jalan pulang ke rumah. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar penyesalanku jika aku tidak “nekat” memilih keputusan itu. Sungguh, Allah Maha Rahmaan dan Rahiim.

Rasanya itu saja (dulu) sharing pengalaman “tragis”-nya. Mungkin masih banyak yang lain, tapi itu sudah cukup mewakili (untuk selalu membangkitkan) kesyukuranku atas segala skenario-Nya. Lagi-lagi aku belajar banyak dari perjalanan beberapa hari ini. Setiap apa yang kita alami terjadi bukan tanpa alasan, ada makna besar di balik semua kejadian yang kita alami. Hingga nanti, setiap mosaik kehidupan yang semula (terasa) acak menjadi saling bertemu dan berkaitan satu sama lain membentuk sebuah gambar besar (episode) kehidupan.

“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.”

(HR. Tirmidzi) “

Karena itu, kita mesti terus mencarinya dan mengambilnya di mana saja kita menemukannya. Kenyataannya, kita selalu sadar bahwa hikmah itu selalu terungkap manakala kita menemukan bahwa potongan-potongan hidup kita saling berkaitan dan membentuk sebuah kisah perjalanan yang lebih besar. Sungguh, ada banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari perjalananku beberapa hari ini, tapi mungkin baru sedikit yang dapat kubagi.

Ah ya, niat awal yang ingin dibagi sebenarnya bukan ini, tapi ternyata tangan ini tidak tahan untuk segera membaginya. Sebenarnya, judul di atas merupakan representasi dari lintasan dalam benak yang kutulis di awal tulisan ini. Aku memiliki sebuah keinginan yang belum bisa aku sampaikan di sini. Untuk menjalaninya, aku mesti betah tanpa gadget selama enam hari dalam seminggu. Namun, aku belum menyampaikan keinginanku ini pada orang tuaku. Di sisi lain, aku juga belum menyiapkan prasyaratnya yang lain. Untuk merealisasikan keinginanku ini, ada banyak hal yang harus aku siapkan. Aku hanya berspekulasi dan “iseng” bertanya dalam hati, “mungkinkah yang kualami beberapa terakhir ini merupakan pertanda dari-Nya untuk melatih diri sebelum kemudian benar-benar aku akan merealisasikan keinginanku itu?”

Satu hal yang harus selalu jadi pegangan: husnudzan dengan setiap skenario pemberian-Nya dan diwujudkan dalam bentuk syukur dan sabar yang melahirkan ketaatan demi ketaatan diiringi dengan penjagaan diri untuk menjauhi segala yang Allah benci dan larang. Tentu dengan selalu (berusaha) memohon pertolongan-Nya, sekecil apapun kebutuhan kita. Murabbi-ku sempat mengingatkan (kemarin) kurang lebih begini,

“Jika hal kecil atau sepele saja kita mudah untuk meminta pada Allah (merasa tidak mampu mendapatkannya kecuali dengan meminta dan memohon pertolongan Allah), apalagi hal-hal yang lebih besar.”

Ya, aku disadarkan akan pentingnya berdo’a (meminta pertolongan pada Allah) sekecil apapun permasalahannya. Dengan begitu, tentu kita akan (terlatih untuk) selalu meminta pertolongan-Nya. Kita semakin sadar bahwa kita tak punya daya dan upaya apapun kecuali karena pertolongan-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Allaahu a’lam, wallaahul musta’an.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s