Berkaca pada Pengalaman Orang Lain

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah atas segala kasih sayang dan karunia-Nya yang tak terhingga banyaknya. Atas segala perhatian-Nya pada hamba-Nya sekalipun hamba-Nya (yang tak tahu diri ini) lalai dan lupa. Allah sayang dengan kita. Ketika dengan segala bentuk kemudahan dan kemulusan hidup kita tak mampu bersyukur dan bersabar, maka Allah mendidik kita untuk (tetap belajar dan sentantiasa) bersyukur dan bersabar kala hidup terasa sempit dan menghimpit.

Aku sempat berpikir bagaimana seseorang yang semula jauh dari kedekatan dengan-Nya kemudian ia (dengan izin Allah) bertransformasi dan berubah sangat drastis menjadi begitu dekat dengan-Nya dan terus berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Bukankah Allah memang mudah membolak-balik hati seseorang? Akan tetapi, dalam kasus yang kumaksud saat ini adalah transformasi yang terjadi pada orang tersebut bukanlah proses yang mudah dan cepat. Transformasi itu berlangsung dan dimulai akibat terjadinya benturan yang luar biasa dalam hidup yang berpuncak pada kepasrahan amat dalam pada Dia yang Memegang Hidup manusia. Benturan yang menyadarkan diri bahwa sungguh diri tidak punya apa-apa. Bahkan, selembar kain yang membalut jasad ini pun bukan miliknya. Bahkan, iman (yang tersisa) dalam hati ini sekalipun bukan semata kehendak pribadinya, itu ada karena kuasa-Nya. Ketika dalam keadaan kepasrahan yang terdalam itu seolah-olah hanya punya badan dan nyawa saja, pun itu juga sejatinya bukan miliknya. Ketika diri hanya bisa pasrah dan menyerahkan segenap yang memang bukan miliknya, tapi titipan-Nya dan terlontar kalimat kepasrahan dalam diri:

Duhai, Rabb… Engkau boleh mengambil semuanya dariku asalkan (aku mohon) kau masih sisakan iman dan pakaian (taqwa) untukku.

Lihatlah! Tak ada satupun yang diri miliki walaupun sekadar selembar pakaian (taqwa) yang membalut jasad. Betapa sayangnya Allah masih memberi kita apa-apa yang kita butuhkan pun kita tidak meminta pada-Nya. Dalam kondisi kepasrahan yang terdalam Inilah yang (mungkin) kemudian menjadi awal transformasi diri yang jauh dari kedekatan pada Tuhan-Nya menuju perjalanan mengenal lebih dalam siapa Tuhannya dan bagaimana mendekat pada-Nya. Keadaan itulah yang menumbuhkan kesadaran bahwa sungguh tiada daya dan upaya melainkan dari (pertolongan) Allah, Tuhan Semesta Alam. Bermula dari kesadaran ini, muncul kebutuhan untuk senantiasa menyandarkan diri sepenuhnya pada-Nya dan senantiasa ingin merasakan kedekatan dengan-Nya. Segala daya dan upaya dengan memohon pertolongan-Nya pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan itu. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).

Kemudian, belajar dan pengalaman orang lain yang benar-benar membuat diri berkaca. Seakan-akan pengalaman itu menjelma menjadi sebuah cermin besar yang terpampang di depan diri dan menampakkan seonggok jasad yang memilukan, menyedihkan. Padahal, pengalaman hidupnya tak sedramatis pengalaman orang itu, tapi ia menemukan kebutuhan yang sama seperti kebutuhan orang itu. Bahkan, (mungkin) sebenarnya keadaan diri jauh lebih menyedihkan dari keadaan orang itu karena ujian yang menimpa diri tak seberapa dibanding ujian yang menimpa orang itu.

Cermin besar itu pun kemujian menjelma menjadi sebuah layar pertunjukan. Memunculkan potongan-potongan gambar kehidupan diri. Memanggil semua memori yang saling terhubung. Memutar gulungan film kehidupan yang telah berlalu. Seolah tergambar juga bagaimana impuls-impuls dalam neuron otak menelusuri satu demi satu neuron otak untuk memanggil kembali memori yang tersimpan di dalamnya. Kisahnya tak diputar runtut, kadang maju dan kadang mundur. Kini, belum selesai film itu diputar, tapi diri sudah menemukan celah diri yang selama ini menimbulkan kekosongan makna dan kebisingan jiwa. Celah yang membuat mengikisnya asas makna yang merapuhkan jiwa. Menyadarkan diri bahwa selama ini teknis semata yang berjalan tanpa ada ruh pemaknaan mengapa diri ini melakukannya dan apa yang sebenarnya diri ini butuhkan dengan menjalaninya?

Alhamdulillaah, ketika seseorang jauh dari kedekatan dengan Tuhannya dan kemudian bertransformasi menjadi sesosok orang yang ingin selalu dekat dan mendekat pada-Nya. Bisa jadi bukan (semata) karena amalan perilakunya, tapi ada peran orang-orang yang mencintainya, mendukungnya, dan mendo’akannya (dari jauh). Ada peran orang lain yang menginginkan kebaikan ada pada dirinya sehingga ia menyadari kebutuhan akan (kedekatan dengan) Tuhannya. Lagi-lagi, jika bukan karena kasih sayang Allah, dengan apa kita bisa bertahan dan (berusaha) tegar di sini? Jika bukan karena kasih sayang Allah, apa mungkin kita yang lalai dan terlena bisa kembali lagi ingat dan sadar pada (kebutuhan akan) Tuhannya? HuwAllaahulladzii laa ilaaha illaahu (Dia Allah yang tiada Tuhan selain Dia).

( 22 )   Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
( 23 )   Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
( 24 )   Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
QS. Al Hasyr ayat 22-24
Allaahu a’lam, wallaahul musta’an.
Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s