Semangat Menasihati

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatiimushshaalihaat. Segala puji bagi Allah yang membuat segala kenikmatan jadi sempurna. Sungguh benar kenikmatan yang terbesar adalah kenikmatan iman. Betapa Allah sangat menyayangi orang-orang beriman. Ketika dulu Allah mengambil janji setiap manusia saat mereka belum dilahirkan ke dunia. “Alastu birabbikum? (bukankah Aku ini Rabbmu?” begitu Allah bertanya dalam firman-Nya Surat Al A’raf ayat 172. Kita pun menjawab, “qaaluu balaa syahidnaa (ya, kami menyaksikan)”. Masih mau mengingkari janji? Benarlah apa yang Allah firmankan tentang hikmah pengambilan janji itu masih pada ayat yang sama:

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“.”

Di ayat berikutnya Allah masih menjelaskan hikmah pengambilan janji itu:

“atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”. Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).”

QS. Al A’raf ayat 173-174

Lalu di ayat lain Allah menyeru orang-orang beriman untuk tetap berada dalam keimanannya. Sebagaimana dalam Al Qur’an Surat ‘Ali Imran ayat 102, “yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaaha haqqa tuqaatih, wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun” yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Dalam Surat Al Baqarah ayat 132, disebutkan bahwa Rasul-Rasul-Nya juga mewasiatkan apa yang Allah serukan pada anak-anak mereka:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”.”

Allah tidak membiarkan kita berjalan begitu saja di muka bumi tanpa petunjuk bukan? Allah sayang lho sama kita. Firman Allah agar kita (orang-orang beriman) hanya mati dalam keadaan muslim merupakan salah satu dari tak hingga banyak bentuk kasih sayang-Nya. Allah sayang sama kita dan sama sekali tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Allah tuntun kita melalui risalah yang dibawa para utusan-Nya. Risalah yang dibawa Rasul penutup, Muhammad saw.

Lalu apa sikap kita terhadap kasih sayang-Nya? Agaknya kita mesti merenungi dalam-dalam mengapa kita masih sering membuatnya cemburu akibat maksiat yang kita perbuat. Padahal, apa lagi yang kurang dari pemberian-Nya, kasih sayang-Nya? Kita dituntun agar selamat, agar kembali ke fitrah kita sebelum lahir ke muka bumi, tapi begitu sombongnya kita yang melenggang tenang tanpa menghiraukan tuntunan-Nya, kasih sayang-Nya?

Lagi-lagi, intro-nya panjang yak? Tapi semoga bisa benar-benar kita resapi dan internalisasikan dalam diri kita. Jadi sebenarnya, ceritanya saya abis dapet pencerahan (lagi) setelah sharing di grup dan lagi-lagi ‘ditampar’ dengan disadarkan akan keadaan diri yang menyedihkan. Seneng banget lho kalau bisa terus dijaga diskusi-diskusi seperti itu, biar greget hidupnya, ga begitu begitu aja terombang-ambing nikmat dunia yang melenakan terus lupa ukhrawi-nya ga di-upgrade. Diingatkan untuk mesti sadar bahwa bodoh itu benar-benar pahit, lebih lebih bodoh masalah agama. Pahitnya berlipat-lipat dan bakal kebawa nanti sepeninggal kita di dunia.

Jadi ingat waktu tahsin, kurang lebih begini pencerahan yang saya dapatkan waktu itu dari kak Nurul (dengan penyesuaian, yang jelas emang ga sama persis kata-katanya ._.):

“Kita di dunia bisa aja gampang ngejawab pertanyaan, “man rabbuka? (siapa Tuhanmu)” dan pertanyaan-pertanyaan (pengadilan) lain di alam kubur dan di akhirat (pasca dunia fana ini). Lancar mungkin, bahkan. Tapi siapa yang bisa menjamin nanti kalau udah beneran ditanya begitu kita bisa jawab dengan lancar. Kita berharap semoga bisa, tapi kita ga bisa memastikan karena nanti semua itu akan keluar begitu saja dari anggota badan kita sebagai saksi tanpa bisa kita kendalikan sebagaimana kita di dunia. Kalau pengakuan (keimanan) kita selama di dunia bener-bener kita akui juga dalam hati dan tercermin dalam perilaku serta amalan kita, anggota badan kita akan menjadi saksi sebagaimana yang kita akui. Jika tidak, (na’udzubillaah tsumma na’udzubillaah), anggota badan kita (tetap) akan menjadi saksi bagi apa yang sebenarnya kita akui di hati yang tercermin dalam perilaku dan/atau amal kita.”

Allaahu a’lam, wallaahul musta’an.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s