Kepada Ia yang … (3)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Semoga pertanyaan Aysel, sudah terjawab,” kata Hamza setelah menyudahi ceritanya.

“Sudah. Hanya saya takjub, ternyata ada ya, orang yang karena cintanya pada ilmu sampai-sampai ia lupa untuk jatuh cinta pada masa remajanya seperti Said Nursi itu,” tukas Aysel.

“Menurut saya, sesungguhnya Syaikh Badiuzzaman Said Nursi pada masa remajanya juga jatuh cinta. Hanya saja jatuh cintanya berbeda dengan para remaja pada umumnya zaman sekarang. Jatuh cintanya Syaikh Said Nursi saat remaja adalah jatuh cinta pada ilmu, jatuh cinta pada ibadah dan dakwah,” sahut Fahmi.

(diambil dari novel Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy)

Suatu hari di rumah murabbi, salah seorang kakak senior mengomentari buku ini dan berkata padaku kurang lebih seperti ini, “Isin dhewe yo, Wik maca buku iki” (Malu sendiri ya, Wik baca buku ini). Ah, benar sekali, malu, amat sangat malu. Banyak sekali nilai-nilai yang disampaikan dalam buku ini. Nilai-nilai yang semestinya diaplikasikan dalam kehidupan seorang muslim sehari-hari. Saat diri ini berkaca dan teringat akan impian pada masa depan, Allaahu Rabbi, sungguh ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sejak dini. Nilai-nilai itu tidak akan ujug-ujug muncul pada diri seseorang, ada proses yang mungkin panjang yang melahirkan nilai-nilai agung itu.

Seperti halnya Syaikh Badiuzzaman Said Nursi yang dikisahkan dalam Api Tauhid. Beliau merupakan ‘produk terbaik’ dari sepasang manusia yang keduanya terlahir dari didikan keluarga yang sangat baik. Seperti yang dikisahkan bahwa ayah beliau dididik dengan sikap wara’ (kehati-hatian) dalam menjaga halal-haram serta ibunya yang hafal Al Qur’an, ahli ibadah, dan selalu menjaga wudhunya. Allaahu a’lam.

Dari sini aku belajar bahwa benar memang, (seharusnya) manisnya cinta kepada ilmu itu melebihi cinta yang biasa dirasakan remaja pada umumnya, cinta terhadap lawan jenis. Apalagi jika cinta itu tidak dibingkai dalam ikatan yang diridai-Nya. Seperti yang dirasakan tokoh utama dalam buku ini, Fahmi, seperti dikisahkan:

Tetapi kini ia merasakan semanis-manisnya cinta kepada perempuan tetap lebih cinta kepada ilmu dan pengetahuan. (El-Shirazy, 2014: 2012)

Padahal, cinta yang dirasakan Fahmi ini ada dalam sebuah bingkai pernikahan. Coba kita berkaca sejenak, bagaimana dengan yang kita rasakan (saat ini)? Tentu (semestinya) kita malu.

Dalam hati ia berkata, “Ilmu harus dikejar, harus diuber dengan segenap kekuatan, jika tidak maka ilmu tidak akan bisa didapat dan dikuasai. Para ulama besar termasuk Badiuzzaman Said Nursi mencontohkannya. Adapun perempuan atau istri, tak dikejar pun Allah sudah menyiapkannya. (El-Shirazy, 2014: 2012)

Subhanallaah, Maha Suci Allah dari segala tuduhan yang tidak pantas, setiap rencana-Nya pasti yang terbaik. Tiada pernah Allah (ingin) men-zhalim-i hamba-Nya. Seringkali, hamba-Nya lah yang menganiaya atau men-zhalim-i dirinya sendiri, bukan Allah. Allah Maha Rahmaan dan Rahiim. Mari bertanya pada diri sendiri, “mengapa dirimu, duhai diriku, masih (suka) men-zhalim-i diri sendiri?”.

Akhirnya, kepada ia yang membuatku bersyukur pada Allah karena Allah (masih) menjagaku, menjaga kita dalam interaksi yang terbatas. Aku bersyukur Allah hindarkan diri dari mendapatkan kesempatan yang tidak dibarengi kesiapan. Jika harus berinteraksi lebih dari itu, semoga (hanya saat) dipertemukan pada kesempatan yang datang saat kesiapan sudah matang. Sejauh ini hanya ingin segalanya berjalan wajar dan diridai-Nya. Terima kasih telah menjaga sikap dan perilakumu. I appreciate to all of your good view and attitude to me, but I’ll make sure it will not be my aim, in shaa Allaah. Semoga kita termasuk orang yang dikarenakan kecintaan kita kepada ilmu dan pengetahuan, kita melupakan dan mengabaikan cinta yang ‘abal-abal’ (dan sepertinya aku melihat ini ada pada dirimu, semoga memang demikian). Semoga manisnya ilmu dan pengetahuan dapat membuat kita lupa untuk meladeni perasaan atau keinginan yang sia-sia. Aamiin.

Kembali harus meng-upgrade niat, menjaganya agar selalu lillaah, ilaa mardhaatillaah. Kembali harus mengumpulkan segenap energi dan semangat untuk terus (bertambah) sabar dan tekun menuntut ilmu dengan meminta pertolongan hanya pada-Nya. Kembali harus menjaga konsistensi ucapan dan perbuatan. Kembali harus (segera) mengamalkan apa yang sudah diketahui, dipahami, dan/atau dimengerti. Sungguh, hanya kepada-Nya lah diri ini bergantung, berserah diri, memohon ampun, dan meminta pertolongan. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil azhiim.

Allaahul musta’an, wallaahu a’lam bishshawab.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s