Aku (Belajar untuk) Tidak Akan (Lagi) Marah ataupun Sedih

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Pasca galau atas (terasa) remuknya badan serta menumpuk dan berkecamuknya pikiran yang berujung pada pencerahan nan indah atas kehendak-Nya yang (semoga) membuat diri kian merunduk, tunduk (bersyukur). Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmushshaalihaat (Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna)[1]. Segala puji bagi Allah atas segala karunia dan nikmat-Nya yang tiada henti-hentinya. Sungguh, tiada nikmat dan karunia yang lebih besar kecuali masih adanya iman yang tertancap di hati.

Atas pencerahan yang entah mengapa selalu terasa indah. Pengingat, ‘cambukan’, dan ‘tamparan’-Nya yang selalu memukau. Allaahu ya Rabb, sungguh cara-Mu sering tak terduga. Ajaib. Selalu begitu. Begitu mudahnya Engkau membolak-balikkan hati hamba-hamba-Mu.

Adalah sebuah kenikmatan sendiri manakala diri lalai akan Tuhannya, abai akan perhatian Pencipta-Nya, tetapi Sang Maha Pencipta, Tuhan semesta alam masih memberikan karunia-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Duhai, begitu besar welas asih-Nya. Dia masih peduli dengan hamba-Nya yang mengabaikan-Nya. Sungguh, tiada keajaiban yang lebih besar dari ini, kasih sayang Allah. Aku tak habis pikir, sungguh. Maka, sudah sepantasnya kita semakin bersyukur pada-Nya.

Inilah jawaban besar akan pertanyaan ‘lugu’ “mengapa kita masih (dibiarkan) hidup sampai saat ini?” kala cobaan (berat) datang. Inilah kesempatan yang masih Allah berikan untuk kita menjadi sadar dan memohon ampun atas segala kesalahan diri. Inilah kesempatan yang masih Allah berikan untuk memperbanyak bekal kita untuk hari akhir, walaupun pada akhirnya hanya karena kasih sayang-Nya (pula) lah yang dapat menyelamatkan kita, bukan (semata) karena amalan kita. Memang, sudah sebanyak apa amalan kita untuk menebus syurga-Nya? Tapi, Saudaraku, kita masih berkesempatan untuk memohon kasih sayang-Nya agar termasuk golongan orang-orang yang beruntung di hari akhir nanti. Tentunya, permohonan itu akan lebih afdhal jika diiringi dengan mempersembahkan amalan terbaik kita. Begitu?

Maka atas pencerahan yang kudapatkan kemarin, aku teringat bahwa memang benar aku pernah mengalami sendiri bagaimana menahan amarah atau kesedihan saat sedang dihadapkan dengan banyak masalah yang harus segera diselesaikan. Aku (merasa) tak punya waktu untuk marah saat itu. Benar apa yang dikatakan dosen tercinta yang semoga selalu dirahmati Allah, ibu Kasiyah Junus, bahwa (kurang lebih):

Karena saking sibuknya, jadi ga sempet sedih. (Kasiyah Junus, 2014)

Benar sekali, pernah kurasakan di mana aku tak sempat mengeluarkan kemarahan atau kesedihanku. Mungkin beberapa waktu terakhir ini, aku melupakannya. Bisa jadi, aku tak (mau) berusaha mencari cara alternatif untuk menyalurkannya agar tepat sasaran dan tersampaikan maksudnya tanpa ada rasa marah atau sedih.

Teringat kutipan dari buku karya Ahmad Rifa’i Rif’an:

Jangan biarkan siapa pun merebut kebaikan, kesabaran, ketenangan, ketaatan, ketaqwaan, keimanan, kebijaksanaan yang ada dalam dirimu. (Rif’an, 2012: 205,207)

Maka aku bertekad, aku tidak akan marah ataupun sedih karena (akan kubuat) aku tidak (akan) punya waktu untuk itu, insyaaAllaah. Kembali juga diingatkan oleh beliau (kurang lebih) bahwa sebenarnya:

Musuh nyata kita itu syaithan, lho! Bukan diri kita sendiri! Maka bersahabatlah dengan dirimu sendiri karena kita 24 jam selalu bersama diri kita sendiri, sampai mati. (Kasiyah Junus, 2014)

Agaknya, pandangan bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri perlu diluruskan karena memang yang menjadi musuh kita sebenarnya adalah syaithan. Kita punya kendali penuh lho atas diri kita sendiri, tapi syaithan bisa menjerumuskan kita dengan bisikan-bisikannya (na’udzubillaah tsumma na’udzubillaah) jika kita lengah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Yaasiin ayat 60:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. (QS. Yaasiin 36: 60)

Akhirnya, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur dan sabar. Semoga kelak juga dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin.

Allaahul musta’an, wallaahu a’lam bishshawab.

——————————————————————————————————————————————————

[1] Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan (http://muslimah.or.id/aqidah/indahnya-cinta-karena-allah.html)

Advertisements

One thought on “Aku (Belajar untuk) Tidak Akan (Lagi) Marah ataupun Sedih

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s