Bersyukurlah (Ketika) Tidak (Berlaku|Diperlakukan) Buruk

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Kawan, pernahkah kau merasa benci (kesal) dengan (sikap) seseorang?

Aku sendiri pernah. Rasanya sampai pengen nimpuk pakai sesuatu. Tapi kawan, seringkali saat aku merasakan benci yang (cukup) hebat, aku tersadar akan sesuatu hal: “bencilah sekadarnya sebagaimana juga sukailah/cintailah sekadarnya.” Ah ya, sesuatu yang berlebihan memang tak bagus. Aku sering juga teringat kalau bisa jadi rasa benci (berlebihan) ini menjadi boomerang yang membuat kita berbalik suka (berlebihan). Astaghfirullaah. Duhai, begitu mudahnya hati (bisa) terbolak-balik. Kemudian aku pun bertekad untuk menahan rasa benciku agar sekadar saja, tidak berlebihan. (Harapku) agar nanti tidak berbalik jadi suka. Benar memang yang kubenci itu sikapnya (yang buruk), tapi aku tak bisa membayangkan jika sikap (yang buruk) seperti itu terus dipelihara (na’udzubillaah). Astaghfirullaah.

Akhirnya, memang hanya kepada-Nya segala pengaduan ditujukan. Hanya kepada-Nya segala permasalahan diadukan. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Maka, kawan, jika ada (orang) yang membuatmu kesal (benci sikapnya), bilang saja (dalam hatimu), “AWAS YA! KUADUKAN SAMA BOS BESARKU (NANTI)!” Kemudian mengadulah pada-Nya, Bos Besarmu, Bos Besar kita, Allah swt. Adukan saja.

Pesanku untukmu yang (merasa) membuat seseorang membenci (sikap)mu, sadarlah. Bersyukurlah saat orang yang kesal (benci) dengan (sikap)mu itu tidak berlaku buruk padamu. Itu semata karena kasih sayang-Nya. Jika orang itu mau bersikap buruk padamu, mudah saja (jika Allah menghendakinya). Tapi kawan, bisa jadi rasa takutnya pada Allah lebih besar dibanding rasa kesal (benci)nya pada (sikap)mu. Ingat itu! Bersyukurlah pada Allah. Mungkin orang itu juga bersyukur telah dilemahkan (tidak diberi) kemampuan memberikan perlakukan buruk padamu, sehingga ia tak (bisa) berlaku buruk padamu.

BERSYUKURLAH pada ALLAH. Hanya karena-Nya, seseorang menjaga sikapnya agar (tetap) berlaku baik pada saudaranya, meskipun ia mendapat perlakuan buruk atau (yang membuatnya) membenci (sikap) saudaranya. BERSYUKURLAH..

HARAPKU, jika kebencian itu memang ada, bencilah sekadarnya dan itupun sebatas benci perilaku/sikapnya saja, bukan pribadi(individu)nya. Mengapa? Karena sikap/perilaku seseorang bisa berubah, tapi tidak pribadi(individu)nya. Penting juga untuk diingat bahwa jika dia saudaramu, kau masih (tetap) harus menunaikan haknya. Salah satunya adalah hak untuk diberi nasihat terutama saat ia (membutuhkan dengan) memintanya padamu.

Allaahul musta’an, wallaahu a’lam.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s