(Lagi, Diingatkan) Tentang Pemutus Kebahagiaan Semu

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

“Kullu nafsin dzaa iqatul mauut, tsumma ilainaa turja’uun.”
(Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan)

QS. Al Ankabuut 29: 57

“Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan dikembalikan pada-Nya). Begitulah lafadz yang biasanya kita (kaum muslimin) ucapkan ketika ada saudara kita yang meninggal walaupun sebenarnya lafadz tersebut dianjurkan diucapkan setiap tertimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan hati) tidak hanya kematian. Alangkah lebih baik ketika ditambahkan doa baginya (si mayit) “Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu” (Ya Allah ampuni ia, rahmati ia, dan maafkan ia).

Sore ini, sepulang dari kegiatan melingkar pekanan, saya menemukan salah satu pintu kamar teman serumah kost terbuka. Rupanya temanku ini sudah pulang dari rumah mbaknya. Setiap akhir pekan, dia memang sering mengunjungi rumah kakak tertuanya. Setelah bertanya perihal kepulangannya, tiba-tiba dia berseru dari dalam kamarnya. “Wi, mbak sepupuku baju aja meninggal”, kurang lebih begitu katanya. Spontan aku mengucapkan “Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” dan masuk ke kamarnya. Aku pun bertanya perihal kematian kakak sepupunya.

Diriku, entah mengapa selalu tertarik untuk menanyakan sebab kematian seseorang atau kondisi (sebelum) kematiannya. Bahkan, beberapa kali saat aku (ingin) menanyakan perihal penyebab kematian sesorang, aku menjawabnya sendiri dalam hati, “ya karena sudah waktunya, sudah takdir Allah, sudah saatnya ia ‘pulang’ menghadap Allah”. Tapi kawan, jawaban ini tak cukup memuaskan bagiku. Tidak, bukan begitu jawaban yang kuinginkan. Kita pasti tahu kalau kematian itu memang sudah Allah gariskan untuk setiap yang bernyawa. Kawan, aku ingin mengetahui sebab kematiannya semata ingin tahu keadaan (sebelum) kematiannya. Bagaimana keadaan (menjelang) kematiannya? Apakah keadaannya baik atau tidak. Bukankah kita selalu menginginkan akhir yang baik? Tentu, kita ingin mati (meninggal) dalam keadaan terbaik (khusnul khatimah) juga kan?

Kakak sepupu temanku ini meninggal sehari pasca kelahiran anak keduanya. Temanku juga bercerita bahwa kakak sepupunya sempat mengalami komplikasi menjelang kelahirannya. Akan tetapi, pasca melahirkan kondisinya sempat stabil. Saat mau dibawa pulang dan segala peralatan medis seperti infus mau dilepas, keadaannya mendadak menjadi drop sampai suatu waktu saat ibunya sedang shalat di samping tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suaranya mengucapkan kalimat tahlil “laa ilaa ha ilallaah” dengan kencang dan berkata kepada ibunya bahwa kakinya sudah dingin. Begitulah keadaan beliau sebelum wafat. Allaahu akbar.. Betapa beruntungnya ia yang menyebut Allah di waktu terakhir menjelang kematiannya. Aku sempat berpikir, ‘ya Allah, betapa kami tak pernah tahu seperti apa akhir kami nanti. Kami tak pernah bisa memastikan kalimat terakhir yang kami ucapkan saat kami kembali nanti, tapi sungguh Engkau Maha Tahu kami ingin dapat mengucapkan kalimat tahlil, menyebut-Mu di kalimat terakhir kami.’ Kami ingin akhir terbaik. Kami ingin mengakhiri sebagaimana kami mengawalinya (atas izin-Mu), yakni dalam keadaan fitrah (muslim), suci, dan bersih. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 102:

yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaaha haqqa tuqaatih wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.
(Hai orang-orang yang beriman, ber-taqwa-lah kamu dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.)

Saksikanlah, lihatlah betapa sayangnya Allah pada kita. Sekarang tinggal bagaimana kita menggapai akhir yang terbaik. Bagaimana kita berlaku (ber-taqwa dengan sebenar-benar taqwa) hingga Allah memanggil dengan panggilan kasih sayangnya ini:

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhulii fii ‘ibaadii. Wadkhulii jannatii.
(Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Rabbmu dalam keadaan puas lagi dirida-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.)

Teman kostku ini juga bercerita bahwa kakak sepupunya ini sempat berpesan dan menitipkan anak-anaknya pada kakak tertuanya. “Dia sempat bilang kalau seperti sudah merasakan sakaratul maut berkali-kali pas sakit”, kurang lebih begitu katanya. Katanya juga, “orangnya rajin shalat dan ngajarin hal-hal bagus lah ke anaknya”. Satu hal lagi yang menarik, beliau (kakak sepupu temanku ini) meninggal pada hari Jum’at sore. Jum’at, ya, hari yang penuh berkah bagi umat muslim. Maa syaa Allaah. Semoga khusnul khatimah yang beliau dapatkan, semoga Allah lapangkan kuburnya, dan semoga Allah ampuni dosa-dosanya. Semoga Allah beri kekuatan dan ketabahan bagi keluarganya dan bagi anak-anaknya yang masih kecil semoga menjadi qurrata a’yun dan ladang pahala bagi kedua orang tuanya. Aamiin. Tiadalah Allah menetapkan sesuatu kecuali ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil darinya, bi idznillaah.

Kawan, tentu kita tahu bahwa suatu saat nanti kita akan mati. Seperti yang Allah firmankan dalam Al Qur`an surat Al Ankabuut ayat 57. Dalam Al Qur’an, ada tiga ayat yang mengandung bunyi “Kullu nafsin dzaa iqatul mauut“. Selain ayat 57 surat Al Ankabuut, lafadz tersebut dapat ditemukan pada surat Ali Imran ayat 185 dan Al Anbiya ayat 35. Allah sudah sangat gamblang menerangkan tentang akan datangnya kematian pada setiap yang berjiwa (bernyawa). Lalu kita? Apa yang kita lakukan setelah tahu itu? Cukupkah hanya sekadar tahu bahwa nanti kita akan mati?

Kawan, seberapa sering kita mengingat kematian? Bagaimana kematian bisa mengingatkan kita kepada Allah? Seperti judul salah satu tulisan di Dakwatuna, yakni Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat, semoga kematian selalu mengingatkan kita akan tujuan hidup kita dan tugas kita. Memang benar (terasa) adanya, dengan mengingat kematian, kita dapat lebih mengontrol perilaku kita. Dengannya kita menjadi terhibur saat kesedihan atau kesusahan di dunia ini melanda kita, mengingat janji-Nya bagi orang-orang yang sabar. Dengannya pula kita jadi menahan diri dari kesenangan berlebih (yang melenakan, melalaikan) karena kita tahu bahwa kebahagiaan di dunia ini tak ada bandingannya dengan kebahagiaan yang berujung syurga-Nya. Kita menjadi diingatkan bahwa kebahagiaan-kebahagiaan semu itu akan sirna juga oleh kematian.

Kawan, tentu kita berharap kepada Allah semoga dengan (banyak) mengingat kematian, Allah lembutkan hati kita. Semoga dengan (banyak) mengingat kematian, Allah terangkan penglihatan hati kita agar dapat melihat setiap hikmah dan pelajaran yang Allah hamparkan di sekitar kita. Semoga dengan (banyak) mengingat kematian, kita jadi malu terhadap orang-orang yang mendahului kita yang masih meninggalkan banyak jejak kebaikan sepeninggalnya dan terpacu untuk beramal lebih baik. Semoga kelak, kita termasuk orang yang kematiannya tidak memutus pahala kebaikan yang mengalir padanya. Semoga kelak pula, kita termasuk orang-orang yang dosanya mati bersama kematiannya. Hanya Allah yang memberikan taufik dan karunia bagi hamba-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang dilapangkan dalam berbuat kebaikan. Akhirnya, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang memasuki syurga-Nya kelak. Akan tetapi, itu semua hanya akan terwujud atas kehendak-Nya, karena kasih sayang-Nya, bukan karena amalan kita semata. Ya, hanya rida dan kasih sayang-Nya lah yang patut kita harapkan.

“Beruntunglah orang yang bila ia mati, mati bersamanya dosa-dosanya. Kesengsaraan yang panjanglah bagi orang yang mati, tapi dosa-dosanya tidak mati selama seratus tahun, dua ratus tahun, atau lebih lama dari itu yang membuatnya tersiksa di dalam kuburnya.”
(Abu Hamid Al Ghazali dalamIhya Ulumuddin, 2/3)

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun  (bahwa mereka telah disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”
(QS. An Nahl ayat 25)

Diambil dari buku “Diriku, Bagaimana Kabarmu” karya Muhammad Lili Nur Aulia terbitan Tarbawi Press.

Allaahul musta’an. Wallaahu a’lam bishshawaab.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s