Tidak ada cinta…

Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan Umar, gadis itu bertanya dengan sendu. “Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku, tapi, ke manakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, namun kemudian menjawab, “Cinta itu masih ada, bahkan kini rasanya cinta itu jauh lebih dalam, tapi aku tidak ingin kembali ke dunia perasaan seperti ini. Aku ingin berubah….” (Abdillah, 2012)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah pelatihan bernama Sekolah Mentor ‘Mentor Gaul’, pada sesi kedua, entah lupa awalnya membahas apa tiba-tiba pembicaranya nyelutuk nanya, “di sini ada yang pernah jatuh cinta lalu pacaran dan setelah itu putus?”. Beberapa orang tunjuk tangan. Lalu ditanya lagi, “yang pernah jatuh cinta, tapi diem-diem aja ga pernah diungkapin?”. Di pertanyaan kedua ini juga ada beberapa yang tunjuk tangan. Sebelum lebih lanjut lagi, cinta di sini bukan cinta dengan saudara atau orang tua, tapi dengan lawan jenis. Dari dua pertanyaan itu, ternyata masih ada (banyak) yang belum tunjuk tangan termasuk di antaranya saya. Pembicara pun sempat nyelutuk begini, “mungkin yang  belum tunjuk tangan malu-malu buat ngaku atau punya makna lain”. Saya lupa redaksi tepatnya sih emang. Hanya bisa nyengir kuda. 😀

Unik sekali, lagi-lagi saya diingatkan akan hal ini. Disadarkan bagaimana menyikapi apa yang namanya cinta ini. Jujur saja, saat pembicara menanyakan pertanyaan kedua tadi, saya sempat berpikir iyakah yang selama ini (pernah) saya rasakan itu namanya cinta? Atau iyakah saat saya merasakan rasa ‘aneh’ itu artinya saya jatuh cinta? Lalu entah dari mana datangnya tiba-tiba saya memutuskan untuk tidak terburu-buru menganggapnya cinta atau anggap saja saya belum pernah merasakan itu. Tapi apa benar? Entahlah. Rasanya, terlalu dini untuk memutuskannya. Hanya tidak ingin mendahului janji dan ketetapan-Nya. Itu saja. Biar nanti kata itu hanya terungkap saat ketetapan-Nya sudah tiba.

Saya jadi teringat kembali dengan kisah Umar bin Abdul Aziz seperti dikutip di atas. Jadi tergelitik untuk menganalogikan. Jika pun ia pernah ada, ia tak hilang sama sekali bahkan bisa jadi mungkin bertambah. Hanya saja, wujudnya lain. Ianya bertransformasi menjadi bagian dari segala apa yang menjadikanku seperti saat ini. Ianya ikut berperan dalam proses pembentukan pribadi ini. Mungkin begitu. Yang jelas, Allah sudah jelas mengatur bagaimana menghadapinya, ikuti saja aturan mainnya. InsyaAllah.

Selebihnya, allaahu a’lam bishshawab.

 

*NB: setiap membicarakan kata ini, rasanya belum patut benar membicarakannya, tapi tetap saja nekat :3 so strange 😀

Advertisements

2 thoughts on “Tidak ada cinta…

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s