Bangun dari Jatuh yang ke Sekian Kalinya

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Waktu telah berjalan sekian lama dan diri ini baru saja (merasa) bangun dari tidurnya. Setelah sekian lama nyenyak dalam tidur panjang yang melelahkan. Ya, melelahkan. Kenapa? Karena menyisakan penyesalan yang tak kunjung disusul dengan pertaubatan. Sebatas menyesal dan kemudian berulang, bukankah itu sangat menyedihkan? Ya, menyedihkan sekali. Entah sudah berapa lama diri ini tertidur dalam panjangnya angan. Bukan mimpi? Bukan, dia hanya angan. Jikalau dia mimpi pastilah kukejar, tapi nyatanya kaki ini belum beranjak jua.

Mungkin jatuh adalah momen bagi diri untuk menyadari kealpaan-kealpaan yang luput dari koreksi diri. Bebal, tak kunjung mau menyadari ada keliru dalam diri. Karena itulah Allah menguji diri dengan jatuh ini. Tapi memang hanya Allah yang paling mengerti. Hanya Allah yang paling memahami. Pun diri ini tak lebih dari hanya tahu sebatas jangkauan akal. Hanya mampu menerka-nerka pengajaran apa yang hendak diberikan-Nya pada diri ini. Sungguh, berhari-hari hingga berminggu-minggu diri ini terus mencari apa yang sebenarnya terjadi. Terus bertanya, “ada apa dengan diri ini?”. Terus menanyakan dalam hati, “apa yang hendak Engkau inginkan pada diri ini, duhai Rabb?”.

Bersyukur Allah selalu beri jalan keluar meski jaraknya tak singkat dan pendek. Bersyukur Allah izinkan diri berprasangka sekehendak hati sebagaimana nanti perbuatan-Nya berdasarkan prasangka hamba-Nya. Hanya ingin berprasangka baik saja pada-Nya. Rencana dan target yang diri ini buat pastilah belum tentu yang terbaik, tapi rencana-Nya sudah barang tentu yang terbaik. Hanya saja, diri yang bodoh dan lemah ini seringkali lupa bahwa yang Mahatahu itu Allah, yang punya ilmu dan yang memberi kekuatan itu Allah.

Bersyukur atas tamparan-tamparan yang mengenai diri ini. Sakit? Ya, tapi terkadang tak terasa. Beruntung jika terasa sakit lalu diri ini insyaf. Celakalah kalau diri ini tak merasa ditampar dan justru meleggang tenang tanpa beban. Duhai, betapa mudah diri ini terlena. Sungguh, diri ini lebih suka tamparan yang menginsyafkan dibanding buaian yang melenakan. Duhai, betapa mudah diri ini terbuai yang fana, padahal Allah janjikan banyak kebaikan yang kekal dalam syurga-Nya. Duhai, sungguh nikmat manakala diri ini melangkah berapapun jauhnya tanpa merasakan kelelahan akibat rasa manis akan janji kebaikan dari-Nya. Betapa diri ini telah lama lupa. Bukankah janji-Nya benar?

Dalam kubangan rasa sesal, ada suara kecil menyeruak, “Duhai Rabb, jangan dekatkan sebelum waktunya. Engkau Mahatahu dibanding hamba-Mu. Engkau pasti punya segala cara untuk menjaga kami.”

Sungguh, hidupku itu hari ini, bukan kemarin yang telah hilang, bukan juga esok yang belum tentu datang.

Sungguh, hanya ingin dijemput dengan panggilan mesra-Nya saja:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr: 27-30)

Sungguh, hanya ingin selalu teringat wasiat indah itu saja:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102) 

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s