Saudara

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Saya punya adik, tapi saya belum merasa menjadi seorang kakak (yang baik). Kenapa bisa begitu? Secara fisik, kami jauh. Selama saya di perantauan, kami biasanya hanya berkomunikasi via telpon. Selebihnya, kami hanya berinteraksi saat bertemu, itu cukup berpengaruh dengan rasa keterikatan kami. Terkadang atau bahkan sering, saya iri dengan kakak-beradik yang akrab, baik secara psikis maupun fisik.

Selama di perantauan, atas peran yang saya ambil di kampus, saya belajar menjadi sosok kakak (yang baik). Allah beri jalan untuk itu. Di perantauan, atas peran yang saya ambil itu, saya menemukan sosok adik-adik yang harus saya ayomi. Saya menemukan sosok adik-adik tempat saya berbagi pengalaman dan memberi saran. Agar mereka lebih baik dari saya. Agar mereka tak perlu mengalami hal (buruk) serupa dengan saya.

Sejatinya, begitu pula yang ingin saya lakukan terhadap adik saya sebenarnya. Berbagi dan bercerita pengalaman kami, agar kami saling belajar. Selama ini, hanya harap yang (belum terucap yang) saya miliki. Agar adik saya yang sudah bukan anak kecil lagi lebih baik dari saya, lebih dewasa dari saya, dan yang terpenting adalah lebih cepat menemukan arti hidup sesungguhnya dibanding saya. Agar dia tak perlu mengalami pengalaman tidak baik yang pernah saya alami.

Selama di perantauan pula saya banyak belajar, bahwa saudara sesungguhnya tak terbatas pada tali nasab, tapi ada yang jauh lebih hakiki dari itu, yakni tali iman. Uhibbukum fillaah, saudara/i ku seiman. Saya sering salah memang. Karena itu, maafkanlah.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s