Berbeda, kenapa…

Berbeda, kenapa tidak?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 

Mengapa aku harus (terpaksa–memaksakan diri untuk) sama jika Allah membolehkanku berbeda. Setidaknya, beda yang tidak melanggar aturan-aturan-Nya, insyaAllah. Mengapa aku harus sama, jika selama membersamai kesamaan itu jiwaku tak tenang, aku tertekan dan merasa bersalah? Mengapa aku harus sama, jika selama berada dalam ke(ber)samaan itu jiwaku memberontak dan (seakan-akan) memaki diriku sendiri–aku bertarung dengan diriku sendiri?

Mengapa aku harus sama?

Aku berusaha (belajar) menghargai setiap pilihan orang lain, sebagaimana aku ingin pilihanku dihargai. Salahkah? Mungkin aku egois atau aku pamrih. Bukan. Bukan itu yang aku inginkan sebenarnya. Tapi jika itu yang kau (kalian) rasa ada dalam diriku, tegurlah aku. Terkadang aku luput dengan diriku sendiri.

Aku memilih berbeda, boleh kan?

Tahukah kau? Terkadang aku juga merasa ‘aneh’ atau tidak nyaman ketika pilihanku tidak seperti kebanyakan orang. Aku pernah atau bahkan sering merasa begitu. Tapi aku tetap berusaha bersikap biasa saja. Aku berusaha untuk menjadi diriku sendiri. Aku mengambil apa yang kurasa baik untukku dan beralih dari apa-apa yang kurasa tak baik. Ya, aku memilihnya sendiri, tapi sejatinya aku tak seutuhnya memilih sendiri. Ada peran Allah di dalamnya. Jika aku taat, insyaAllah Allah tuntun aku memilih sesuai kehendak-Nya, yang terbaik tentunya.

Bagaimana aku bisa tahu pilihanku yang terbaik?

Hanya satu caranya, selalu menjaga kedekatan pada-Nya, memohon dan meminta hanya pada-Nya, aku harus benar-benar mengandalkan Allah dalam hidupku. Aku sedang berproses menuju itu. Aku berusaha untuk terus mendekat dan mendekat pada-Nya. Jika kau (kalian) temui aku lalai, tegurlah aku. Aku tak bisa memastikan diriku selalu berada dalam ketaatan, tapi aku akan terus mengusahakannya, dengan bantuan-Nya, insyaAllah.

Ketaksamaan dalam kebersamaan, bukankah itu indah?

Aku mencoba untuk itu, untuk nyaman dengan ketaksamaanku denganmu, dengan mereka. Sekalipun dalam kebersamaan, aku tak bisa memaksakan diri untuk sama. Walaupun terkadang aku menghindar dari keramaian (atau kebersamaan) atas ketaksamaan itu. Mungkin aku sedang mencoba menenangkan diri dan menemukan cara agar (sekali lagi) aku nyaman dengan ketaksamaanku dalam kebersamaan. Atau mungkin, (seperti biasa) diam menjadi andalanku untuk tetap bertahan (dalam ketidaknyamanan) walau diamku bisa jadi banyak arti.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s