Pada suatu kese…

Pada suatu kesempatan, di suatu tempat (unreal),
B: ini, A (sambil menyodorkan hidangan makan)
A: oh eh iya, makasih (nyengir ketahan, dalam hati nyengir lebar)
B: (sibuk, melanjutkan aktivitasnya)
A: mm, B
B: iya (menyahut tanpa menengok)
A: aa, ituuu, yang ini gimana? udah sampai mana? (dalam hati, ‘waduh, bahaya, kapan selesainya kalau kayak gini. Kalau boleh berharap tentang ini ya Allah, cuma pengen denger suaranya baca Qur’an lagi ajaa, kayak waktu itu. Aku lupa, tapi kesannya aku masih inget, cuma pengen ngobatin itu aja? Kalau udah, semoga sudah tidak mengharap ini lagi, aamiin.’ Lalu menghardik diri dalam hati, ‘Sungguh, alasan yang aneh, mengada-ada!’. Lalu menimpali balik, ‘Kalau masih keingat itu gimana lagi, aku sih pengennya lupa’. Hati baiknya berkata menghibur walau tak terlalu meyakinkan, ‘Ya sudah, ga perlu diingat-ingat, biarkan saja, nanti juga lupa sendiri. Well, semoga cepat lupa yaa, aamiin.’)

Harapan yang aneh, tapi biar saja. Tulis saja. Mungkin akan jadi hiburan tersendiri jika harapan itu entah bagaimana caranya (semoga aku menerima apapun bentuk caranya) jadi nyata.

Lanjutan dari ini.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s