Tiga Cinta dalam Lingkaran Cinta yang Berbeda

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 

Cinta. Tak ada habisnya pembahasan tentangnya. Entah kenapa, beberapa waktu terakhir Allah menyuguhkan perenungan makna cinta yang beragam. Tapi tunggu, kita samakan persepsi dulu tentang cinta dalam tulisan ini. Begini saja, yang jelas ini bukan cinta biasa. Cinta ini tumbuh di lingkaran yang biasa disebut lingkaran cinta. Cinta kepada para penebar cinta.

Kutemukan cinta pertamaku sekitar dua tahun lalu. Cinta yang membuatku selalu menanti setiap nikmat momen kebersamaan bersamanya. Cinta yang bersemi atas ketulusan hati seorang penebar cinta. Ya, kusebut saja mereka sebagai penebar cinta. Ya, sebutan itu untuk mereka. Cinta itu bermula di sebuah lingkaran yang biasa disebut lingkaran cinta. Cinta itu bersemi setelah sekian waktu benihnya ditebar dan dipupuk.

Aku percaya, ada benih cinta yang disebar kala itu. Seiring berjalannya waktu, benih itu juga dipupuk dan dirawat. Hingga pada akhirnya, benih itu bertumbuh. Sampai sekarang, masih ada di hati ini. Rindu. Benar, aku rindu pada cinta pertamaku. Sebenarnya rindu itu sudah pernah terasa sebelumnya. Rindu kali pertama (yang amat terasa) adalah kala lingkaran cinta tak kunjung tiba. Ya, mungkin ada fasenya, tapi saat itu terasa amat lama. Aku merindu, kala itu.

Rindu ini yang kemudian mengantarkanku pada cinta yang lain. Cinta keduaku. Kali ini, cinta itu tumbuh di luar lingkaran cinta. Saat aku merindu masa-masa melingkar, aku sempat cemburu melihat lingkaran-lingkaran cinta lain. Ya, diri ini hanya mampu melihat dan memperhatikan yang terlihat sambil menikmati indahnya lingkaran yang ada di depan mata. Ada rasa ingin dalam hati. Ada rasa cemburu ingin merasakannya lagi. Cemburu. Itu yang beberapa kali kurasa saat merindu. Cinta keduaku ini, ada dalam salah satu lingkaran cinta yang kuamati dan kuperhatikan pada masa itu.

Segala puji bagi Allah, Allah tak membiarkanku berlama-lama menanti, merindu melingkar dalam lingkaran cinta. Allah mempertemukanku dengan cintaku yang ketiga. Ya, di lingkaran cinta keduaku ini aku bertemu dengan cinta ketigaku. Saat pertama kali bertemu, rasa itu belumlah ada. Kala itu aku masih merindu cinta pertama. Ya, karena biidznillaah Allah memberiku jarak dengan cinta pertamaku, aku mesti menerimanya–lingkaran cinta pertamaku terhanti dan terganti dengan yang kedua. Perlahan, rindu itu terobati, tapi cinta itu tetap di hati.

Kembali pada lingkaran cintaku yang kedua. Ya, pada awalnya aku belum merasakan hadirnya cinta itu. Mungkin saat itu, baru ada dua cinta dalam hatiku dan salah satunya masih baru. Walaupun beda waktu–satu lama, satu lagi baru–cinta itu punya tempat tersendiri di ruang hatiku, mereka punya keistimewaan tersendiri dalam hatiku. Ya, cinta itu belum tumbuh pada awalnya, tapi kurasa benih itu telah disebar dan dipupuk (seperti sebelumnya, di lingkaran cintaku yang pertama). Walaupun lingkaran kedua ini tak bertahan lama, ternyata cinta itu bertumbuh juga walau mungkin baru mulai terasa di saat-saat terakhir–menjelang pergantian lingkaran cinta. Sekarang, aku punya tiga cinta.

Ah ya, mengenai cinta keduaku ini, kejadiannya unik. Ya, menurutku unik. Kenapa? Karena aku menemukannya (dan merasakannya) di luar lingkaran cinta. Lebih tepatnya, sebelum bertemu di lingkaran cinta. Beda dengan cinta pertama dan ketigaku yang bertumbuh di dalam lingkaran cinta–setelah dipertemukan di lingkaran cinta. Cinta keduaku ini tumbuh (kurasa) sebelum aku bertemu dengannya di lingkaran cinta.

Kau tahu apa yang membuatnya unik? Allah ternyata melabuhkan cinta yang telah tumbuh itu di lingkaran cinta (lagi, juga). Ya, dikarenakan suatu hal, lingkaran cinta keduaku mesti berakhir dan digantikan dengan lingkaran cinta lain, lingkaran cintaku yang ketiga. Yang membuat spesial adalah cintaku sudah tumbuh sebelum memasuki lingkaran cinta ketiga ini. Aku tak perlu menunggu bertumbuhnya cinta di lingkaran baru ini, cintaku sudah tumbuh sebelum aku berada di dalamnya. MasyaaAllah. Sungguh, kala itu aku merasa seperti mendapatkan angin segar.

Entah mengapa, terhadap cinta yang tumbuh kala hati sedang merindu beberapa waktu lalu, ternyata Allah pertemukan diri dengannya di lingkaran cinta yang baru. Duhai, diri ini terkejut senang. Aku tak dapat menggambarkan seberapa bahagianya diri kala itu. Kini, segala puji bagi Allah, aku masih di lingkaran cinta ketigaku dan sering bertemu dengan cinta keduaku ini.

Ya, meski beda waktu, beda jarak, ketiganya tetap sama-sama memiliki ruang spesial di hati ini. Masing-masing memberikan kisah tersendiri dalam memori. Ketiganya masih bersemi di hati dan semoga kekal sampai Allah pertemukanku dengan mereka di syurga-Nya. Aamiin. Kini, hanya berharap diri ini tertular mereka–menjadi seperti mereka–sebagai para penebar cinta.

Sebenarnya, itu hanya pembuka, tapi ternyata pembukanya jauh kebih panjang dari apa yang sebenarnya diri ingin tuliskan. Semalam, diri ini mendapat kabar bahagia dari cinta ketigaku. Hal inilah yang lantas menyadarkanku: ada cinta dalam hati. Ya, cinta ketigaku. Aku bahagia atas kabar bahagia ini. Karena itu aku tersadar, cinta itu ada di hati. Cinta ketigaku sebentar lagi (insyaAllah) sudah menemukan cinta yang akan menggenapkan separo agamanya. Untuknya terlantun do’a: Barakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jami’i bainakumaa fii khaiir. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin.

Kalau cinta keduaku, sudah lebih dulu menemukan cinta penggenap separo agamanya. Sekarang, bahkan sedang mengandung calon mujahid(ah). Semoga dilancarkan sampai persalinan dan seterusnya. Untuk cinta pertamaku, sejujurnya aku sudah cukup lama menunggu kabar bahagia serupa darinya (hehe..). Semoga segera dipertemukan dengan cinta penggenap agamanya ya, Kak. Aamiin. Ditunggu kabar bahagianya. 🙂

Untuk mereka, tiga cintaku dalam lingkaran cinta yang berbeda. Teriring do’a semoga dilancarkan setiap urusannya. Berharap semoga Allah perkenankan pertemuanku dengan mereka lagi di dunia dan (yang paling diharapkan tentu) di syurga-Nya kelak. Aamiin.

———————————-

Semoga semakin banyak benih-benih cinta yang tersebar dan tumbuh serta bersemi di hati-hati setiap mukmin. Semoga semakin banyak tali terikat karena cinta atas dasar keimanan pada-Nya. Aamiin.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s