Kalau hati-hati…

Kalau hati-hati manusia sudah diikatkan oleh Allah, tiada yang mampu memutuskan ikatannya kecuali Allah.
Kalau keyakinan bahwa ketetapan-Nya yang terbaik, apapun rintangannya, insyaAllah tak kan terasa, terlewati begitu saja.
“Kalau jiwa tenang, diri pun senang.” (kak Maya, dengan sedikit perubahan redaksi)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Mencoba mengerti keputusan orang lain.

Belajar dari diskusi dan sharing tak terencanakan tadi.

Mengerti itu tak mudah, tapi aku akan tetap mencobanya. Daripada berprasangka tak baik yang melelahkan, aku memilih untuk menerimanya, mencoba memahami keadaan meski tak sepenuhnya paham. Aku tak ingin mengikat erat dan memaksa. Aku hanya ingin membebaskan tanpa melepaskan. Itu saja. Selebihnya, kuserahkan pada Allah. Hanya berharap yang terbaik dari-Nya. Apapun itu. Asal Allah rida dan diri ini dibuat-Nya rida atas segala ketentuan-Nya. Aku mungkin tak kuasa, tak kuat, dan tak mampu; tapi Allah yang kuasa menguatkanku, memampukanku. Aku percaya. Aku berharap Allah menjagaku tetap percaya pada kuasa-Nya.

Malam ini aku belajar. Cara Allah itu unik dan tepat sekali. Saat diri merasa menurun dan ingin pulih kembali, Allah beri suatu hal di luar dugaan dan kuasa diri untuk bercermin. Bahwa apa yang diri telah lakukan masih jauh di bawah apa yang seharusnya diri lakukan. Bahwa apa yang diri ini pikirkan dan permasalahkan, sebenarnya masih bukan apa-apa dibanding sesuatu yang Allah beri itu. Bahwa diri ini ‘dipaksa’-Nya menyelesaikan sesuatu yang lebih agar diri tak terlena dengan memikirkan sesuatu yang remeh dan kurang bernilai di mata-Nya. Bahwa Allah sedang menyadarkan diri bahwa ada lho hal lain yang jauh berharga di mata Allah yang bisa diri ini kerjakan dan selesaikan.

Malam ini aku juga belajar. Mungkin, ada saatnya galau. Tapi tenang, Allah selalu siapkan suatu hal yang menarik yang membuatmu lupa dengan kegalauanmu itu. Allah selalu siapkan suatu atau banyak hal yang membuatmu tak peduli dengan kegalauanmu. Allah selalu siapkan apapun itu yang lebih menarik dirimu untuk abai dengan kegalauanmu itu atau bahkan menghapus kegalauanmu itu–mungkin tak terhapus, hanya saja jadi tawar tak terasa.

Allah Mahabaik. 🙂

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s