“Ini sebenarnya…

“Ini sebenarnya bukan sekadar masalah bisa atau tidak bisa, tapi masalah mau atau tidak mau.”

“Yang namanya bekerja itu tidak melulu orientasi pada hasil. Tak mengapa hasilnya tidak bagus (di luar ekspektasi), jika memang effort yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan itu tinggi (dalam artian kerjanya sudah keras). Kita memang tidak pernah (selalu) bisa menjamin hasilnya bagaimana. Dunia kerja itu tidak terbatas ruangnya. ‘Undefined’ ujungnya. Beda halnya dengan kuliah. Materi kuliah memang sudah dirancang agar mahasiswanya mestinya bisa begini. Karena itu, orientasi lebih pada hasil. Riset itu juga seperti halnya bekerja. Kita tak pernah tahu apa dan bagaimana hasilnya nanti. Kita bekerja saja. Di sini kita tidak melihat siapa yang paling bisa. Kita berbagi saja apa yang kita bisa (ilmu apa yang sudah kita kuasai).”

“Kalau tidak suka/minat itu bisa dilihat kok dari hasilnya. Tapi bisa saja kalau kamu tidak minat, tapi kamu kerja keras untuk mengerjakannya lalu hasilnya jadi bagus. Itu bisa saja. Tapi lagi-lagi, kerja itu akan optimal dan produktif kalau sesuai minat dan kita nyaman mengerjakannya.”

Pak Ade Azurat (dengan beberapa perubahan redaksi)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Begitulah kira-kira sekelumit nasihat yang bisa saya rangkum dari salah seorang dosen saya.

Ya, kalau sudah minat dan suka, insyaAllah segala daya upaya akan dikerahkan untuk mengerjakannya. Bagaimanapun susah dan sedihnya, yang namanya cinta insyaAllah akan diusahakan seoptimal mungkin mengerahkan segala kemampuan yang ada. Tinggal sekarang, cinta itu berlandaskan apa? Jika Allah jadi landasan dan tumpuan, insyaAllah cinta itu berbalas keberkahan dari-Nya. Segala jerih upaya akan berbalas pahala dari-Nya jika ikhlas. InsyaAllah. Karena itu, apapun yang jadi pilihanmu, niatkan selalu untuknya. Jagalah selalu niat itu murni karena-Nya. Niat itu di awal, di tengah, dan sampai akhir. Karena itu, dia perlu dijaga akar tetap murni, jernih hanya untuk-Nya.

Saya juga sedikit belajar hal lain dari nasihat Beliau. Memang semestinya orientasi belajar bukan untuk menjadi yang paling bisa, bukan untuk mencari yang paling bisa, melainkan untuk saling berbagi ilmu. Ilmu itu memang harus dibagikan, agar dianya menjadi semakin kaya, semakin kuat mengakar. Agar yang keliru bisa jadi tahu setelah diluruskan. Semestinya ilmu-ilmu yang beragam itu saling melengkapi satu sama lain. Saling bertemu dan menemukan hubungan satu dengan yang lainnya, saling menyatu untuk membangun ilmu.

Rabbii zidnii ‘ilmaa, war zuqni fahmaa. (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu padaku dan berilah aku pemahaman)

Allaahu a’lam. Wallaahul musta’an.

Laa haula wa laa quwwata ilaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s