Workshop Qur’an Time (2) : Rangkuman Inti

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Yak, saatnya lanjut ke materi/cerita berikutnya. Oh ya, sudah baca seri pertama tentang tiga kisah pembuka kan ya? Kalau belum, bisa baca ini dulu.

Ah ya, sebenarnya saya tak banyak mencatat. Hanya beberapa poin saja karena ustadznya lebih banyak becerita dan cerita itu sangatlah enak untuk didengar (daripada dicatat, hehe).

Baiklah, langsung diteruskan saja. Oh ya, pemateri ini, Beliau memiliki delapan anak: 3 orang hafal 30 juz, 5 orang menujut 15 juz. Beliau bercerita bahwa beliau baru disadarkan akan pentingnya mengenalkan dan membiasakan anak dengan Al Qur’an saat beliau sudah memiliki anak usia SD (kalau tidak salah). Intinya, beliau baru disadarkan akan penting dan utamanya Al Qur’an dan menghafalnya itu saat beliau sudah ‘di tengah jalan’ karena bertemu seorang ahli (apa gitu, saya lupa). Beliau mengaku baru benar-benar mengenal/mendalami Islam saat SMA, sedangkan kerabat dekat istri beliau berlatar belakang Kristen/Katolik, sehingga Beliau.merasa harus mengarahkan anaknya benar-benar agar dekat dengan Al Qur’an dan hafal Al Qur’an.

Selama workshop, Beliau banyak bercerita tentang pengalaman beliau saat studi banding ke Palestina, seperti misalnya saat mempertemukan beberapa siswanya dengan para pejabat dan doktor serta ahli di Palestina yang hafal Al Qur’an. Beliau menyampaikan bahwa menghafal Al Qur’an itu bukan sekadar untuk bisa jadi ustadz atau guru (ngaji), tapi bisa juga jadi pejabat, dokter, ahli yang kesemuanya akan menjadi hebat saat juga hafal Al Qur’an. Sedangkan kita tahu di Indonesia sekarang sedang terjadi krisis kepemimipinan, maka akan sangat baik jika pemimpin-pemimpin atau pejabat dan orang-orang besar lainnya adalah juga hafidz/hafidzah.

Diceritakan juga bahwa awal mula sebelum Beliau menjadi Direktur sekarang ini, beliau diminta Ustadz Yusuf Mansur untuk mengelola Sekolah Qur’an yang memang dikhususkan untuk anak-anak para donatur Sekolah Qur’an sebelumnya yang ditujukan untuk kalangan kurang mampu. Hal ini karena Ustadz Yusuf Mansur merasa tidak mampu memegang Sekolah Qur’an tersebut (yang khusus untuk anak-anak para donatur) karena memang penanganannya yang mesti luar biasa. Bahkan diceritakan ada seorang anak donatur yang mencoba menyogok gurunya dengan uang Rp 50.000,00 (kalau tidak salah) hanya agar dia dibiarkan tetap tidur saat dibangunkan di pagi hari. Pemateri sendiri mengakui, memang harus ada cara ekstra (khusus) untuk menangani anak-anak para donatur yang notabene ‘urusan dunianya sudah selesai, tapi akhiratnya masih tertinggal’ seperti itu.

Ada lagi, seorang anak pengusaha yang terbiasa setiap akhir pekan diajak untuk hura-hura dan bahkan bertato di kakinya dimasukkan ke Sekolah Qur’an tersebut yang selama sekitar satu tahun upaya terus dilakukan untuk mendidiknya dengan Al Qur’an dan tahun berikutnya dia bisa hafal dua juz dalam waktu satu bulan. MasyaAllah.

Beliau sangat menekankan mengenai betapa Al Qur’an luar biasa mampu mengubah dan membentuk karakter seseorang. Orang yang hafal Al Qur’an juga cerdas secara intelektual. Selain itu, beliau sangat menyarankan untuk sejak dini mengajak anak-anak mengenal dan dekat serta menghafal Al Qur’an. Selain bisa meningkatkan kecerdasan intelektualnya, juga lebih kepada penjagaan Allah terhadap penghafal Al Qur’an. Beliau mengungkapkan bahwa jika anak sudah hafal Al Qur’an sejak kecil, maka karakternya sudah (akan) dibimbing Allah. Beliau mengisahkan saat salah seorang anaknya yang hafidz (masih seumuran SD atau SMP kalau tidak salah) mendapat penghargaan dengan hadiah umrah gratis. Si anak sadar kalau orang tuanya belum umrah dan meminta hadiah umrah gratis tersebut untuk orang tuanya saja. Akhirnya, kedua orang tuanya yang luar biasa tidak menyangka akan sikap yang diambil anaknya tersebut memutuskan untuk berangkat umrah bersama (berempat dengan dua anaknya). MasyaAllah.

Beliau juga menambahkan, kalau orang yang sudah dekat dengan Al Qur’an (hafal), maka deteksinya gampang. Ajak muraja’ah hafalan saja. Jika ada yang salah dengan hafalannya, berarti dia sedang ada masalah. Lagi-lagi hal ini berdasarkan pengalaman beliau dengan seorang anaknya yang masih SMP. Saat itu beliau mengajak muraja’ah anaknya dan ternyata hafalannya tersendat. Ditanyailah si anak, eh benar ternyata, si anak sedang bermasalah dengan sesama temannya di SMP, masalah hati lagi #duh. Ketahuan deh. Subhanallaah.

Cerita selanjutnya (penutup dengan beberapa ulasan pertanyaan dan saran) akan dilanjutkan di tulisan ini. InsyaAllah.

Allahu a’lam.

Allahul musta’an.

Advertisements

2 thoughts on “Workshop Qur’an Time (2) : Rangkuman Inti

  1. Pingback: Workshop Qur’an Time (1): Tiga Kisah Pembuka | A Precious Life Footprint

  2. Pingback: Workshop Qur’an Time (3) : Penutup, Saran | A Precious Life Footprint

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s