Workshop Qur’an Time (1): Tiga Kisah Pembuka

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, kembali digerakkan hati untuk mengikuti majelis ilmu. Sungguh, hanya Allah yang kuasa gerakkan hati dan badan ini ke sana, Asal ada niat, Allah akan beri jalan, insyaAllah. Biarkan saja Allah yang tuntun ke mana kaki melangkah. Kalau sudah Allah yang turun tangan, pasti menakjubkan hasilnya. Ya, tentu saja. Meski keinginan diri sebatas ingin-ingin saja, tapi berangkat siang-siangan, tapi Allah tetap memberi jalan. Alhamdulillah, materinya belum mulai. 🙂

Yak, langsung masuk materi workshop saja yaa..

Oh ya, sebelumnya, workshop yang diadakan oleh Salam UI i6 (Departemen Syiar Pesona) di MUI ini ternyata dimoderatori oleh kak Big Zaman (Fasilkom 2007), wuuh. Terus pematerinya seorang Direktur Darul Qur’an Internasional, yakni Ustadz Agus Sudjatmiko.

Sebagai pengantar/pembuka, Beliau (pemateri) menceritakan bahwa saat beliau ke Gaza, Palestine, di sana aura Al Qur’an sangat kuat di mana-mana. Aura itu yang menguatkan para mujahid/mujahidah di sana. Ada tiga kisah yang beliau ceritakan tentang pengaruh Al Qur’an (menghafalnya) terhadap karakter yang ada pada penghafalnya.

Kisah pertama adalah mengenai seorang Ibu yang memiliki delapan anak yang (insyaAllah) syahid semua. Empat orang anak lebih dulu syahid (insyaAllah), sedang empatnya lagi syahid (insyaAllah) saat sedang bersama si Ibu di rumah dan diserang tentara Israel. Saat sang ibu siuman dari pingsannya saat di rumah sakit, si Ibu menanyakan perihal anak-anaknya. Dijawablah kalau anak-anaknya sudah berada di syurga. Si Ibu pun mengucap hamdallah mengetahui kabar baik tersebut, meski pastinya rasa sedih tak tertahan lagi. Tapi kabar kesyahidan (insyaAllah) anak-anaknya menutupi kesedihan yang ada. Si Ibu pun menanyakan di mana suaminya. Saat suaminya datang menemuinya, si Ibu senang dan kemudian menanyakan di mana dokter. Saat dokter tiba, si Ibu menanyakan kepada dokter perihal sampai kapan dia bisa mengandung dan melahirkan. Sang dokter pun menjawab bahwa insyaAllah sampai 10 tahun lagi si Ibu bisa mengandung dan melahirkan. MasyaAllah. Si Ibu pun berkata bahwa dia ingin setiap tahun mengandung dan melahirkan anak sebagai ganti anak-anaknya yang telah syahid (insyaAllah) lebih dulu.

Begitu kuatnya kesabaran si Ibu dan keteguhan hatinya dan betapa semangatnya beliau dalam membela Islam. MasyaAllah. Perlu diketahui bahwa ternyata si Ibu hafal Al Qur’an.

Kisah kedua adalah tentang seorang pemuda yang buntung kakinya karena diamputas sebab terkena rudal Israel saat bersama berjalan bersama temannya yang kemudian temannya syahid (insyaAllah). Saat siuman dari komanya selama empat hari, si pemuda menangis setelah melihat keadaan kakinya yang sudah diamputasi. Setelah itu dia pun mengusap air matanya lalu mengajukan permintaan yang bisa dinilai ‘aneh’ dilihat dari kondisinya saat itu: dia ingin dinikahkan. Mungkin memang aneh bagi kita yang tak mengerti maksud di balik permintaan si pemuda itu. Ternyata motivasi atas permintaannya itu luar biasa, masyaAllah. Dia ingin menikah karena dia sadar bahwa dia tak akan bisa berada di baris terdepan mujahid Palestina dengan keadaan kakinya yang buntung. Namun, dia punya solusi untuk itu, yakni dengan bercita-cita memiliki anak dan anaknyalah yang nantinya akan menggantikan dia berada di baris terdepan di medan jihad. Mungkin akan ada pertanyaan lagi, ‘memangnya ada akhwat yang mau?’. Justru, banyak akhwat yang mengantri. Apalagi kalau keadaannya jauh lebih parah (kedua kakinya yang buntung atau lebih parah lagi). Mengapa? Karena mereka–para akhwat itu–berlomba-lomba ingin menjadi pendamping orang yang bagian tubuhnya sudah berada di syurga. MasyaAllah. Betapa mulianya cita-cita mereka. Itu pun lagi-lagi karena si pemuda hafidz Al Qur’an dan karakter perempuan-perempuan di Palestina juga sangat dekat dengan Al Qur’an.

Betapa besarnya pengaruh Al Qur’an. MasyaAllah.

Kisah ketiga adalah seorang pemuda yang buntung kedua kakinya dan tangan kanannya. Meskipun seperti itu, tangan kanannya tidak terlepas dari senjata untuk menyerang tentara Israel. Suatu hari rumahnya diserbu tentara Israel dan dia dalam kursi rodanya dengan bersenjatakan senjata yang selalu berada di tangan kanannya pun menembaki tentara2 Israel dan banyak tentara Israel yang mati walaupun akhirnya si pemuda syahid (insyaAllah) juga. Yang menarik adalah dia masih mampu dan semangat melawan Israel walaupun kondisinya yang sudah seperti itu. Yang kondisinya badannya sudah tidak lengkap seperti itu saja begitu semangatnya melawan Israel, apalagi yang masih sehat dan bugar? Tentu semestinya jauh lebih semangat melawan Israel. Nah ternyata, si pemuda ini juga hafidz Al Qur’an. MasyaAllah.

Oh ya, sebenarnya, hampir semua materi workshop adalah cerita pengalaman pemateri yang banyak menjawab pertanyaan seputar keutamaan-keutamaan Al Qur’an.

Masih ada materi menarik dan cerita berhikmah lainnya. Spoiler sedikit, pemateri juga sempat menyinggung soal jodoh lho, hihiii. Lebih lanjut akan dibahas di tulisan berikutnya: ini yang kedua dan ini yang ketiga (seri terakhir) 🙂

Allahul musta’an.

Advertisements

One thought on “Workshop Qur’an Time (1): Tiga Kisah Pembuka

  1. Pingback: Workshop Qur’an Time (3) : Penutup, Saran | A Precious Life Footprint

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s