“Why not permis…

“Why not permission?”, I said inside my heart.
“Would go without permission (again)?”, said my heart just now and may be until the truth is coming.
“Oh, please! Why not say any permission? Do I have faults? Yes, I know, I’m sure I have faults. However, why in this manner?”

Semakin ke sini, tabir kehidupan mulai terbuka. Mata kini mulai terbelalak akan munculnya satu demi satu kenyataan hidup yang sebenarnya. “The real world”, katanya. Ya, “welcome to the real world”, kata seseorang. Dulu, aku hanya tau (beberapa dari) cerita-cerita seperti itu hanya sebatas fiktif. Hingga kini, seolah-olah yang fiktif itu satu per satu nyata di depan mata.

Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja. Baiklah, terserahlah. Kalau boleh jujur, kalau lisan bisa mudah melontarkan, mungkin tak terhitung pekik kekesalan dan kemarahan terlontar. Sedih? Jangan tanya. Sayangnya, diri ini hanya mampu menyimpannya dalam. Biar Dia saja yang tahu. Biar saja, aku hanya ingin hikmahnya saja. Entahlah. Aku terlalu tak mengerti skenario ini. Aku hanya percaya. Ini skenario-Nya. Skenario terbaik dari-Nya. Aku hanya ingin, ingin, ingin sekali, tetap dijaga, tetap dibantu, tetap ditolong oleh-Nya untuk tetap menjaga diri, untuk tetap berjalan lurus di jalan-Nya, untuk tetap diterangi dan ditunjuki jalan kebenaran. Meski hati sakit, meski perih, meski sempit terasa. Biarlah, asal manis syurga-Nya jadi buahnya. Ya, aku harus mengusahakannya dan meminta tolong pada-Nya. InsyaAllah.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik wa ‘alaa thaa-athik.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s