Bismillaahirrahmaanirrahiim.
 

Alhamdulillah, sudah diizinkan untuk meng-copast tulisan saudariku ini dari tulisannya di sini. Pertama kali baca rasanya seperti bisa merasakan (sedikit) apa yang penulis rasakan. Seperti diri juga merasakannya walaupun mungkin dengan cerita yang berbeda. Hanya sedikit yang sama. Mungkin saja ceritaku tak seberliku itu, tapi ada sedikit kesamaan. Ya, mungkin aku tak sebijak saudariku ini.

Hmm, entah bagaimana nanti ceritanya, hanya berharap semoga perlahan Allah jadikan kami seiya-sepaham. Mungkin aku tak mampu berkata banyak atau berdiplomasi dan berdalih banyak. Mungkin selama ini aku hanya bisa diam, tapi lebih jauh aku hanya ingin Allah yang bukakan atas ketidakmampuanku ini. Karena tiada yang bisa mengubah dan mebolak-balik hati seseorang kecuali Allah. Aku tetap berusaha semampuku, insyaAllah. Tapi tetap, hanya Allah yang berkuasa atas segalanya.

Maafkan aku, Ibu.
Aku tahu engkau hanya khawatir.
Khawatir bahwa aku masuk terlalu dalam.
Demi Allah, jika pintu syurga yang akan aku masuki, tak sudikah engkau?

(Khoirunnida)

Ingin aku berkata dan berdalih dengan segala argumen di kepalaku, tapi apa mau di kata lisan tak mampu menyampaikan. Ya, itu kelemahanku. Mungkin aku perlu membuktikan dengan bukti fisik. Ya, mungkin itu. Walaupun lisan tak berbicara, tapi keadaan yang mengatakan hal serupa. Biarlah Allah jalankan skenario terbaiknya. Semoga. Aamiin.

 

Ini tulisan lengkapnya:

Maafkan aku, Ibu.

Maafkan aku, Ibu.

Aku telah banyak kecewakan dirimu.
Telah banyak goreskan luka pada hatimu.

Maafkan aku, Ibu.
Engkau mungkin tak ingin aku berubah sejauh ini.
Engkau mungkin takut apabila aku tak bisa rasakan indahnya masa remaja.
Tapi percayalah, Ibu.
Aku tahu apa yang aku putuskan.
Aku gunakan akal sehat dan nuraniku ‘tuk melangkah.

Maafkan aku, Ibu.
Jika di depan teman-temanmu, aku mungkin terlihat yang paling berbeda.
Wallahi, aku tak bermaksud merendahkanmu.
Jika saat remaja lain merasakan manisnya dunia saat ini.
Wallahi, aku hanya ingin merasakan manisnya syurga yang jauh lebih dahsyat.

Maafkan aku, Ibu.
Jika aku tak punya pacar seperti remaja lain.
Demi Allah, seseorang yang Allah pilihkan telah menantiku di batas waktu.
In syaa Allah, dia akan sayangi engkau seperti aku menyayangimu.

Maafkan aku, Ibu.
Jika aku menolak pandanganmu dalam beberapa hal.
Demi Allah, aku tak maksud melawan calon bidadari syurga.

Maafkan aku, Ibu.
Aku tahu engkau hanya khawatir.
Khawatir bahwa aku masuk terlalu dalam.
Demi Allah, jika pintu syurga yang akan aku masuki, tak sudikah engkau?

Ibu,
Sejujurnya ini pahit bagiku. Padahal aku baru berjalan ke depan beberapa langkah.
Tapi tahukah engkau bahwa engkau lah yang menjadi penawar rasa pahit ini?
Demi Allah,
Aku ingin berada di Syurga Ilahi bersamamu nantinya.
Bersama keluarga. Berkumpul kembali dalam ikatan yang syahdu dan abadi.

Ibu,
Allah bersamaku. Allah bersamamu. Allah bersama kita.
In syaa Allah.

 

 

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s