“Saya tidak mau yang dek…

“Saya tidak mau yang dekat-dekat, saya maunya yang pasti.”

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ceritanya begini, saya ingin menceritakan suatu momen saat mengikuti satu kuliah. Ada hal yang menarik dan menggelitik bagi saya terutama menjadi umpan bagus dan pemicu yang ‘pas’ untuk pikiran liar saya. Ya, kutipan itulah pemicunya. Kawan tahu apa yang saya maksud? Selamat, kalau sudah tahu (dalam hal ini benar tebakannya). Kalau belum tahu, carilah hikmah untuk diri Kawan sendiri dari apa yang akan saya ceritakan berikut: 🙂

Langsung saja. Beginilah kurang lebih ceritanya:

Suatu hari di kelas MatDas 2, seorang dosen sedang membahas bentuk kurva ‘Tanduk Jibril’* yang batasnya tak hingga, tapi luasnya pi. Nah, beliau berkata, “Kalau kalian bisa ketemu malaikat Jibril, paling tidak ada tema percakapan yang bisa kalian lakukan dengannya. Kalian bisa bilang, ‘Wahai, Jibril, aku tahu lho luas tandukmu. Pi, kan?’

Nah, masalahnya, kalau Jibril bertanya, ‘pi itu berapa’, bagaimana?

‘Pi itu 3,14’, (misal) begitu jawab kalian.
 
Terus, Jibril (bisa saja) menjawab, ‘Pi itu kan irasional, bagaimana bisa 3,14?’ lalu kalian menjawab, ‘lah 3,14 kan pendekatan’
 
Jibril (bisa saja) kembali menjawab, ‘Saya tidak mau yang dekat-dekat, saya maunya yang pasti.’
 
Bagaimana?”
 
[kelas cukup antusias dan ceria (tersenyum dan tertawa)]
 
—–
Nah lho, gimana tuh?
Dan pikiran ini spontan melompat liar. Ada suatu hal yang unik dan menarik dalam percakapan di atas. Tak kalah, walaupun beda ekspresi, pembicaraan selanjutnya menarik juga.
—–
Beliau melanjutkan, “Masalahnya, kalau yang kalian temui malaikat maut? Kalian mau ngomong apa coba?”
[dan hening sejenak]
 
—–
Meski kutipan di atas bukan tentang ini, tapi sepertinya perlu membahas hal ini. Mengenai hal ini, langsung deh beda responnya, diam–hanya diam–seribu bahasa. Heheheh, Ibu yang satu ini memang pandai sekali mengingatkan dengan caranya tersendiri. Ya, mestinya memang: “cukuplah kematian sebagai nasihat“.
 
Kawan pasti pernah mendengar kata-kata ini, “orang yang paling pandai/cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian.”
Ini nih haditsnya dari sumber di sini:
 

Telah meriwayatkan Malik dan Ibnu Majah RA bahwa:

“Seorang laki-laki dari kaum Anshor bertanya kepada Rosululloh SAW: Yaa Rosululloh siapakah orang mu’min yang paling utama ? Rosululloh menjawab: Yaitu orang yang paling bagus akhlaqnya. Kemudian laki-laki tersebut bertanya kembali: Siapakah orang mu’min yang paling pintar ? Rosululloh menjawab: Yaitu orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati.”

Nah, Kawan pasti mau kan menjadi orang pandai? Pasti mau lah ya, saya juga mau. Karena itu, mari kita banyak-banyaklah mengingat mati. 🙂
 
Semoga dibantu Allah untuk mengingat kematian sebagai pemutus segala kenikmatan dan kesedihan yang fana di dunia ini. Dengan begitu, kita selalu berusaha melakukan yang terbaik saat itu juga. InsyaAllah.
 
—–
*entah asal nama itu dari mana kurang tahu.
—–
 
Wallaahu a’lam.
 
Semoga Bermanfaat bagi Kawan yang membaca. 🙂
Aamiin.
Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s