Tentang Kepribadian

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sekali lagi mesti diingat-ingat. Segala macam jenis dan tipe (kepribadian) itu ada berdasarkan parameter-parameter yang timbul. Ingat juga bahwa itu hanya kecenderungan, bukan suatu hal yang mutlak. Ok?

Ya, dan lagi, kita masih bisa mengembangkan yang baik-baik dan menghindari yang buruk-buruk, bukan(oke, untuk hal ini memang butuh proses yang tidak singkat) ? Ya, setidaknya meminimalisasi yang buruk dan memaksimalkan yang baik-baik. Begitu lebih baik bukan? (Ya, setidaknya menurutku begitu..)

Oh ya, tadi juga diingatkan kalau seharusnya sebagai seorang muslim itu tetap berpedoman pada dua hal: Al Qur’an dan sunnah. Mengenai segala macam jenis dan tipe kepribadian (yang kebanyakan dari barat), mestinya seorang muslim tidak terpaku dan ‘nurut’ (begitu saja). Lagian, itu juga berdasarkan parameter-parameter yang ada. Bukankah masih ada kemungkinan untuk menghilangkan atau menambahkan parameter? Sekali lagi, ini hanya kecenderungan dan masih bisa diusahakan untuk menjadi lebih baik, bukan? (sebagai seorang muslim tentu dengan mengikuti pedoman Al Qur’an dan sunnah, seperti tadi diingatkan)

Ah ya, tambahan, tentang perasaan(apa yang sedang dirasakan), tentu saja perasaan yang tidak baik disebabkan karena ada yang salah dengan perbuatan kita, bukan? Bagaimana? Kalau kita tahu apa yang kita lakukan itu benar, insyaAllah perasaan kita pun akan baik-baik saja. Akan tetapi, kalau kita merasa ada yang keliru dengan perbuatan kita, tentu perasaan kita menjadi tidak enak. Nah, yang jadi persoalan itu kalau hati kita sedang tidak bersih (na’udzubillaah, astaghfirullah), penilaian kita bisa jadi terbalik. Kita menjadi kurang awas terhadap kekeliruan yang kita lakukan(na’udzubillah, astaghfirullah). Yang seharusnya kita menjadi cemas karena dosa/kesalahan yang kita lakukan, eh malah biasa-biasa aja (na’udzubillah, astaghfirullah, mudah-mudahan dijauhkan dari perasaan seperti ini. Aamiin). Maka dari itu, kuncinya adalah menjaga hati tetap bersih. Ah ya, kalau tidak salah, saya pernah baca pernyataan kurang lebih begini: “kalau hatinya bersih, insyaAllah firasatnya tajam”. Bisa dikatakan ketajaman firasat itu bergantung pada kebersihan hati. Semakin bersih hatinya, maka firasatnya semakin tajam (benar).

Jadi, dari tulisan yang ‘meleber-meleber’ ini, bisa disimpulkan bahwa untuk menjadi pribadi baik dengan kepribadian baik (dan akhlak baik, insyaAllah) sangat penting untuk ‘menjaga hati’ agar hati tetap bersih. Ya, pastinya kita mesti meneladani teladan kita, baginda Rasulullah saw. agar memiliki pribadi yang baik dan akhlak yang mulia.

 

*sebenarnya ini nasihat untuk diri sendiri, tapi diri ini ingin sekali berbagi dengan teman-teman. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s