Sakit Jiwa atau Hati?

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ya, mungkin jiwa ini sedang sakit? Atau hati ini yang sakit. Astaghfirullah.
Lepas sakit jasmani, sekarang rohani.
Baiklah, semoga sakitnya sebentar juga seperti sakit badan sebelumnya. Habis itu, segar lagi deh jasmani sama rohaninya. Aamiin.

Sepertinya saat sakit jasmani tetap harus menjaga rohaniahnya. Baiklah, akan kujadikan pelajaran. InsyaAllah. Ya, sepertinya aku lupa tentang ‘lima perkara sebelum lima perkara’: lapang sebelum sempit, kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati.

Ya, hati ini mungkin sedang sakit, sedang kotor atau berdebu. Atau selama ini memang kotor, tapi aku tak menyadarinya. Astaghfirullaahal ‘adziim. Ya, yang jelas aku tak mau hatiku terus menerus kotor, apalagi ditambah keras. Na’udzubillaahimindzalik.

Ya, lagi-lagi, aku harus belajar. Belajar ikhlas, belajar sabar, belajar legawa (lapang hati). Aku tahu egoku masih terlalu besar. Ya, sebenarnya musuh terbesarku adalah diriku sendiri (nafsu), apalagi kalau sudah terkena bisikan atau bujuk rayu ‘musuh yang nyata’. Na’udzubillaahimindzalik. Astaghfirullaah.

Sungguh, aku tak mau menjadi teman ‘musuh yang nyata’ itu. A’udzubillaahiminasysyaithanirrajiim.

Advertisements

One thought on “Sakit Jiwa atau Hati?

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s