Bukan Gentar, Hanya Gemetar: Ambil Hikmahnya Sajalah.. :)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah..
Yeah, bukan aku gentar, hanya gemetar. Ya, begitu. Benar, entah lugu atau bodoh (na’udzubillah). Astaghfirullah. Hanya diri yang ingin berarti dan memberi. Ya, aku memang tak mengharap materi lebih. Aku hanya ingin memberdayakan diri ini, memberi kebermanfaatan sebanyak mungkin. Setelah selama ini aku belum maksimal, tapi aku yakin, itu yang terbaik.

Ya, tiap orang memiliki momen-momen tersendiri: momen terhebat, momen ter-wah, momen terspesial. Mmm, terdengar mengasyikkan? Ya, memang. Terdengar menyenangkan? Begitulah. Apatah itu, aku tekankan dulu bahwa semuanya itu relatif. Mungkin bagiku itu menyenangkan dan mengasyikkan, tapi menurutmu atau menurut kalian? Aku tak tahu.

Hari ini pun menjadi salah satu momen spesial dalam hidupku. Momen yang tidak–sama sekali tidak–aku rencanakan ataupun aku tahu sebelumnya. Ya, hanya sedikit rencana memang, tapi Allah ternyata punya rencana lebih yang aku tak menduga sebelumnya. Hari ini aku ditelpon untuk mengajar privat setelah beberapa hari lalu aku mengumpulkan formulir diri di suatu lembaga (jasa) privat. Kedengaran biasa ya? Ya, bagiku itu tidak biasa. Kenapa? Yuuk simak ceritaku yang semoga bisa menghibur atau setidaknya menghilangkan sedikit penat 😀

Taraaa… hari ini aku bersiap untuk membeli tiket pulang setelah beberapa hari lalu batal karena salah informasi. Hmm, ya lagi-lagi informasi yang tidak update dan valid di internet. Oke, tidak apa. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Aku sedang apa ya? Mmm, yang jelas aku bersiap-siap berangkat dengan ditemani seorang seniorku, teman satu kontrakan sesama anak Fasilkom juga.

Jam sepuluh lewat, kami pun berangkat. Naik bikun ke stasiun UI, tentunya beli tiket setelahnya. Yapp, tiket pun terbeli. Kami pergi ke Gambir dulu untuk menukar tanda pemesanan tiket yang sebelumnya dipesan lewat jasa sebuah minimarket terkenal (bisa ditebak lah yaa..) dengan tiket pulang seniorku (untuk selanjutnya aku sebut ‘temanku’ saja :D). Tiket sudah didapat, sekarang giliranku. Setelah beberapa waktu bingung mau beli tiket di mana dan jalan-jalan sebentar di Gambir, kami pun memutuskan untuk membeli tiket Manggarai atas saran temanku itu. Sepertinya aku manut-manut saja. Yaa, mungkin karena aku belum berpengalaman dan yaa dicoba dulu.

Oke, kami pun ke Manggarai dan ternyata di sana sudah tidak melayani pembelian tiket kereta jarak jauh. Oke, namanya juga nyoba dan Allah memang berkehendak lain. Setelah bertanya pada petugas kereta yang sempat usil dan kurang kerjaan (astaghfirullah, Alhamdulillah, Allah Mahabaik), kami pun pergi ke Pasar Senen untuk membeli tiket. Alhamdulillah, setelah mengantri beberapa waktu, saya mendapatkan tiket pulang untuk besok. InsyaAllah besok pulang. Setelah sholat Dzuhur dan membeli makanan dan minuman (hauuss uiyy ;D), kami pun segera ke loket dan membeli tiket pulang (Depok, bukan rumah di kampung :P). Ya, walaupun masih nunggu kurang lebih satu jam, tak apa lah. Toh adanya yang paling cepet itu CL-nya. Oke, tanpa terasa waktu satu jam cepat juga ya berlalu? :O

Ya, cerita pun berlanjut. Kereta datang dan kami pun meluncur masuk dan menduduki kursi yang kosong. Alhamdulillah masih banyak kursi kosong. Sempat beberapa kali mengamati perjalanan, sebenarnya dari semenjak berangkat tadi, seperti biasa mata ini liar menyapu pemandangan yang ada di luar kaca sana: gedung-gedung tinggi, Twin Tower ala Indonesia, bahkan tidak hanya dua, ada sampai empat yang kembar gedungnya, dan kontras sekali dengan daerah suburban setelah atau sebelumnya, lingkungan kumuh pinggiran rel. Macam-macam lah pokoknya. Tadi sih sempat berpikir mau buat tulisan tentang ini, tapi ternyata ada banyak yang ingin ditulis hari ini dan menumpuk ingin ditumpahruahkan. Baiklah, sabar yaa… 😀

Ya, di sinilah–di dalam kereta–kabar dari seberang terdengar. Intinya, aku ditelpon untuk mengajar hari ini juga di Klender. Oke, aku tidak tahu Klender di mana, tapi sebelumnya sepertinya aku pernah membaca tulisannya. Ya, ada di deretan tulisan di rute stasiun, arah Bekasi. Oke, dan kondisinya sekarang udah sekitar jam tiga sepertinya dan saya masih di Angke. Singkat cerita, setelah sampai di stasiun UI sekitar pukul empat sore, kami pun segera pulang , sholat, lalu melaju ke kantor. Tahukah Anda? Ada momen romantis saat itu, hehe. Maaf berlebihan. Saya dibonceng teman saya tadi ke kantor naik sepeda. Yuhuu.. Alhamdulillah. 🙂 (tidak ada yang spesial ya? Hehee, maaf ya)

Oke, sampailah saya di kantor dan langsung masuk. Dikasihlah tuh tadi buku absensi siswa dan pengajar. Katanya saya suruh ngajar Fisika. Apa? (tidak heboh tapi :D) Padahal sebelumnya di formulir saya hanya mengisi matematika saja. Ya sudah, karena saya sudah bilang ‘iya’ sebelumnya dan sepertinya ini kesempatan bagi saya, saya pun berusaha menerima dengan lapang dada. Bismillaah, dicoba aja deh ya. InsyaAllah Allah ngasih yang terbaik. Kalo cocok ya Alhamdulillah, kalo enggak ya itu buat pengalaman. Yes dan pengalaman memang guru terbaik dan sangat mahal harganya.

Oke, setelah beberapa menit ke warnet untuk mendownload soal dan menyetaknya, saya pun segera melaju ke stasiun. Waktu menunjukkan sekitar pukul 5.20 dan di jalan menuju stasiun, saya hanya berdo’a, insyaAllah ini yang terbaik. Allah tahu, Mahatahu. Keinginanku hanya untuk memberdayakan diri ini, memberi manfaat, masalah materi nanti, itu mengikuti saja lah ya. Rezeki sudah ada yang ngatur. InsyaAllah asal Allah rida, saya rida. Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setelah meyakinkan dan menguatkan diri, saya pun berangkat, membeli karcis CL tujuan Manggarai untuk kemudian lanjut (nyambung) ke Klender. Saya berhenti di stasiun Buaran, bukan Klender, sesuai instruksi dari ibu dari rumah yang nantinya saya datangi untuk mengajar. Waktu menunjukkan pukul 18.33 saat saya sudah di jalan seberang stasiun Buaran. Saya pun kembali meminta instruksi untuk bisa sampai di rumah tujuan. Ya, kurang lebih 15 menit kemudian saya sudah di rumah tujuan. Saya pun segera sholat Maghrib. Ya, waktu yang akhir. Ambil hikmahnya saja. Alhamdulillah masih sempat. Ini buat pelajaran agar lain kali bisa lebih diperhitungkan lagi.

Ya, siswa saya itu anak Lab School ternyata. Dia ingin masuk FKUI, makanya ikut privat dan intensif SIMAK. Saya cukup kaget setelah tahu bahwa intensif SIMAK yang diikutinya (bukan tempat saya mendaftar jadi pengajar privat) hampir setiap hari dari pagi sampai sore. Subhanallah. Kalau sudah niat dan bertekad memang, apa saja bisa, insyaAllah. Semoga mendapat yang terbaik. Aamiin.

Saya pun mulai mengajar. Selama rentang waktu saya di sana, saya juga sempat mengobrol sedikit banyak dengan siswa saya dan ibu yang tadi. Singkat cerita, di sana saya menuntaskan tugas saya dengan semaksimal (sebisa) saya karena memang tidak semua soal terjawab dan tidak semuanya juga bisa saya jawab, hehe. Sempat curhat sedikit juga di sana kalau sebenarnya saya itu milih privat Matematika, bukan Fisika, tapi ya sudahlah, namanya baru mencoba. Waktu pun berlalu dan menunjukkan pukul delapan lebih (seperempat mungkin) dan saya pun pulang setelah dijamu nasi goreng dan dibekali roti hidangan yang tadi belum sempat dimakan (karena saya memang tidak menyempatkan diri memakannya, hehe).

Si Ibu turut mengantar saya sampai jalan raya dan memastikan saya naik angkot yang benar (hehe) dengan sebelumnya memberi uang saku untuk ongkos pulang. Alhamdulillah. Singkat cerita, saya pun sampai di stasiun Buaran setelah naik angkot dan berjalan kaki sekitar 500 meter. Hmm, tanya rasanya? Subhanallah. Allah nampakkan kuasa-Nya bahwa Dia ingin hanya kepada-Nya lah aku berserah diri. Ya, pelajaran hidup, itu yang terpenting, rida Allah paling terpenting (yang utama, jelas, insyaAllah). Ya, inilah kali pertama berkeliaran di malah hari jauh dari tempat yang familier sendirian, di ibukota. Ya, aku yang lemah memang harus dikuatkan, paling tidak berusaha menguatkan diri. Tidak untuk dicontoh memang. Aku pun ingin ini jadi pelajaran, lain kali kalau malam-malam harus ada temen(mahram)nya kalau tidak ya siang aja.

Sesampainya di stasiun Buaran, Allah kembali menunjukkan keindahan tatanan-Nya. Masuk loket terdekat, ternyata tutup. Alhamdulillah, beruntung loket ujung satunya (cukup jauh memang, karena sama-sama di ujung) masih buka. Di sinilah lagi-lagi Dia nampakkan kebaikan dan kasih sayang-Nya melalui perantara hamba-Nya yang lain. Speaker stasiun sudah mengumumkan CL tujuan Manggarai akan segera tiba di stasiun Buaran ini. Saya merogoh-rogoh tas untuk mendapatkan uang pas atau paling tidak uang yang sedikit lebih kecil, uang yang ibu tadi berikan untuk ongkos. Mana-mana? Hmm, kebiasaan menaruh sembarangan asal masuk di tas ini. Seperti sudah saya katakan tadi, Allah memberikan bantuan lewat hamba-Nya yang lain. Seorang ibu yang lebih dulu tiba di loket tadi segera memberikan uang untuk membeli tiketku, tapi saya segera menemukan uang lima ribuan dan akhirnya dilunasi oleh ibu di loket tadi. Ibu tadi memang berniat membantu karena kereta sudah hampir sampai dan saya disuruh cepat-cepat menyeberang agar tidak ketinggalan kereta. Ya Allah, pelajaran hidup lagi dari-Mu. Sekali lagi, aku senang belajar dari-Mu. Semoga kebaikan ibu yang sepintas saja saya temui tadi berbalas dengan yang lebih baik. Aamiin.

Saya pun segera menyeberang dengan dibantu petugas yang mengomando agar saya hati-hati dan alhamdulillah berhasil menyeberang. Saya pun segera mengikuti arah laju kereta agar mendapat gerbong. Alhamdulillah, badan ini pun bisa diistirahatkan sejenak dengan duduk dan mendapatkan tempat yang lapang.

Ya, saya pulang, pulang ke rumah singgah 😀
Pulang untuk mengembalikan jiwa secara utuh. Saya merasa saat itu seperti berjalan saja. Saya hanya merasa, terus terus terus, lanjut lanjut lanjut, tetap berjalan, ayo, melangkah terus. Ya, seakan-akan saya hanya mengikuti badan saya yang terus bergerak dan entah jiwa saya seakan hanya bisa mengikuti ke arah badan ini bergerak sembari sesekali mengarahkannya dan merenungi. Sungguh, pengalaman batin dan raga yang melelahkan–Tidak! Melainkan menyenangkan dengan cara-Nya tersendiri. Alhamdulillah..

Aku pun kembali merenung. Allah, ini kehendak-Mu. Jika bukan kehendak-Mu, aku tak tahu akan seperti apa jadinya. Aku hanya berdo’a semoga Engkau berkenan selamatkanku sampai tujuan, rumah singgah, dan rumahku di kampung besok lusa. Aamiin.

 
Perjalanan pulang usai tugas pertama: unik dan menyenangkan :D

Perjalanan pulang usai tugas pertama: unik dan menyenangkan 😀

Benar badan ini gemetar. Tidak nampak sepertinya, tapi aku merasakannya. Betapa diri ini diajari oleh-Nya menguatkan diri. Betapa diri ini ditempa oleh-Nya untuk menghargai hidup dan kehidupan. Betapa diri ini diingatkan kebali untuk hanya berharap, memohon, dan berserah diri sepenuhnya pada-Nya.
Bukan diri ini kuat, melainkan berusaha kuat. Bukan diri ini perkasa, melainkan memerkasakan diri. Bukan diri ini mandiri, melainkan belajar mandiri. Diri yang lemah ini, diri yang ringkih ini, diri yang cengeng ini telah mendapatkan pelajaran berharga dari-Nya agar lebih kuat dan perkasa, agar lebih tangguh membendung air mata. Pun ingin sekali diri ini menumpahkan air segar itu, tapi tak kuasa membuat orang-orang bersimpati dan berkata ‘kenapa?’. Hanya kepada-Nya sejatinya perasaan ini tertumpah ruah, melimpah, mengucur deras bercerita.

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin. Singkat cerita sampailah di rumah singgah sekitar pukul sepuluh kurang dengan selamat. Perasaan tumpah ruah tadi sempat meletup-letup ingin melonjakkan diri, meloncat keluar. Namun diri ini lagi-lagi mengurungkan niatnya karena tak ingin merusak momen dan sepertinya memang belum punya keberanian untuk meletupkannya. Tulisan inilah yang sedikit banyak membantu menyalurkan letupan-letupan itu.

Bukan Gentar, Hanya Gemetar
Gentar jika aku tanpa-Nya
Tapi karena Dia selalu bersamaku
Hanya Gemetar yang menggebu
Benar diri ini rapuh
Benar diri ini ringkih
Benar pula bahwa diri ini cengeng
Hanya kau saja yang mungkin tak tahu
Karena sejatinya aku pun tak sepenuhnya tahu
Dia-lah yang Mahatahu segala tentang diriku
 

(Depok, 22 Juni 2012)

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Gentar, Hanya Gemetar: Ambil Hikmahnya Sajalah.. :)

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s